Mitos Me Time

Teman-teman mungkin sudah sering mendengar istilah Me Time ini ya? Entah cuma sekadar “baru mendengar”, “baru tahu” bahkan ada yang sudah sangat tahu. Apapun itu, kita kali ini, eh saya kali ini akan bercerita tentang Me Time.

Kenapa judulnya mitos Me Time? Ya, bisa jadi Me Time ini sekadar mitos, yang mau dijalani atau tidak itu tergantung anda. Bener ga ya pengertian mitos ala saya? Hehe..

timeme

Ya, yang pasti tak sedikit orang juga yang menyangsikan mengenai Me Time ini di saat banyak (terutama ibu-ibu muda kekinian) yang menganggap Me Time itu WAJIB hukumnya. Oke mari kita tengok sejenak mengenai Me Time ini. Apakah benar se-wajib itu atau sekadar sunnah atau mubah atau malah makruh? 😀 Read More

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Asyiknya Naik Turun Tangga

Ketika usianya menjelang 2 tahun, anak biasanya mulai senang menaiki tangga dan mencoba turun (meski terkadang mereka tak bisa turun karena tangga yang dinaikinya terlalu tinggi). Ada respons sikap yang mungkin berbeda dari setiap orang tua. Salah satu yang baik adalah dengan membiarkan anak tetap naik turun dengan pengawasan dan pendampingan orang tua.

Sebaiknya biarkan anak naik turun karena di usia balita anak sedang masa eksplorasi, masa belajar yang menyenangkan. Sambil naik turun, orang tua mungkin dapat sekaligus mengenalkan angka dengan menghitung setiap anak tangga yang dinaiki dan menghitung setiap anak tangga ketika turun. Bisa juga sambil mendendangkan lagu, naik-naik ke puncak gunung misalnya.

Dengan naik turun tangga sambil berhitung atau sambil bernyanyi, secara tidak langsung kita tengah memperkenalkan banyak keterampilan baru sekaligus. Mempertajam pendengaran, memperkuat otot, memperkenalkan angka dan konsep berhitung, dan meningkatkan kepercayaan diri anak.

Jika anak sudah berulang kali naik turun tangga, anak akan cenderung semakin percaya diri untuk naik ke tangga yang lebih tinggi. Tentu harus dalam pengawasan orang tua.

Sebagai awal, orang tua dapat mengajarkan anak naik turun tangga cukup 3 anak tangga saja. Biarkan anak naik sendiri, dan ketika dia kesulitan turun, bantulah secukupnya jangan gendong anak untuk turun. Mungkin saat anak ragu ketika turun, orang tua dapat menuntunnya menuruni anak tangga.

Naik turun tangga juga bisa menjadi sarana untuk mengajarkan anak tentang keselamatan. Ajarkan ia untuk hati-hati ketika menaiki tangga, pun ketika ia menuruni anak tangga. Anak senang, orang tua juga ikut senang meski harus sabar karena deg-degan ketika anak berusaha keras naik maupun turun dari tangga.

Melalui proses naik turun tangga, anak juga belajar tentang konsep naik dan turun. Anak belajar mandiri dan merasa dipercaya untuk bisa naik turun sendiri. Naik turun tangga dapat menjadi proses anak belajar koordinasi motorik kasar.

Selama proses belajar ini, orang tua harus selalu ada di sampingnya untuk mengawasi dan memastikan keselamatannya. Kalaupun anak ingin dibiarkan sendiri, pastikan orang tua tetap ada di sekitarnya untuk mengintip bahwa anak tidak melakukan hal yang berbahaya. Penting untuk memberi tahu anak tindakan apa saja yang mungkin berbahaya atau tidak baik dilakukan selama proses naik turun tangga.

buku tangga

Jadi jika anda menemukan balita senang naik turun tangga, mungkin karena memang fasenya dan anak balita sedang mengumpulkan banyak informasi tentang dunia sekitarnya, melatih dirinya sekaligus memenuhi rasa ingin tahunya terhadap sesuatu.

*jika tidak ada tangga di rumah, bisa manfaatkan tangga di tempat lain atau dengan menumpuk benda membentuk tangga, misal tumpukan buku atau dus. Pastikan tangga buatannya aman dan kuat dinaiki anak.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Empati, Mempertahankan Diri dan Kemandirian

Setelah 4 tulisan sebelumnya, tulisan ini sepertinya akan jadi tulisan terakhir untuk diskusi sementara di grup emak-emak cantik. 4 tulisan lainnya bisa cek di satu, dua, tiga, empat.

Mempertahankan diri. Sebuah sikap ketika menghadapi ancaman atau sesuatu yang tidak nyaman.

Ada saat anak harus berempati tapi ada saat anak harus mempertahankan diri. Tindakan mempertahankan diri ini penting agar ketika ada temannya yang semena-mena padanya ia mampu membedakan kapan harus berempati dan kapan harus mempertahankan diri agar tidak terus-terusan disakiti orang lain yang jika dibiarkan akan jatuh pada kasus “bullying”.

Pun ketika anak marah pada kita dengan memukul misalnya, orang tua pertama mencoba berempati, “Aa marah sama ummi ya? Maaf sudah bikin Aa kesal.” dst hingga si anak merasa tenang, baru kemudian ke solusi (bin bin Solutions) “tapi umminya jangan dipukul, disayang aja. Kalau marah, bilang baik-baik ya anak shalih”. Jika orang tua tidak mempertahankan diri seperti ini, anak akan menganggap bahwa itu boleh dan lama kelamaan bisa tambah parah. Na’udzubillah min dzalik.

Dengan berempati lalu mempertahankan diri anak juga belajar lemah lembut tapi tegas menghadapi kemarahan orang lain. Empati hanyalah sebuah cara memahami orang lain, bukan cara menyelesaikan masalah. Tetap harus ada langkah selanjutnya untuk sampai pada solusi. Empati dulu baru kemudian problem solving.

Empati juga mengajarkan kita untuk bersabar dalam proses memahami kenapa dan bagaimana orang lain bertindak. Kelak sikap empati ini jadi bekal kita maupun anak ketika anak mulai belajar mandiri.

give empathy

Kan ada saatnya anak mulai ingin serba sendiri tapi belum sepenuhnya bisa. Jika kita tidak mampu berempati dan memaksa “sama ummi aja deh biar cepet” karena tak mau sabar dengan proses belajar anak, hal ini justru akan mematikan kemandirian anak. Dan takutnya nanti anak akan belajar cemen, cengeng, manja dan tidak mandiri.

Sering kali hal “sepele” semacam ini berujung anak jadi anak mami banget. Apa-apa harus sama ummi, hampir semua hal tergantung sama ibunya. Ujung-ujungnya yang rugi ya orang tua sendiri, ketika saatnya anak harus bisa mandiri, anak ga bisa. Sebenarnya bukan tak bisa tapi karena memang sudah tertanam bahwa “sama ibu lebih cepat dan aman”.

Iya kalau kita punya anak tunggal, kalau punya anak lebih dari satu? Kebayang repotnya semua harus serba dilayani. Maka empati membantu kita lebih tenang dalam mempercayai orang lain dan ketika kita menghadapi masalah.

Perhatikan pula pola komunikasi dengan anak saat berempati. Hal ini penting karena biasanya kesalahan cara komunikasi menjadi penyebab kenapa empati itu belum bisa menjadi awalan dari sebuah solusi yang baik.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Memuji Anak, Perlukah?

Bahasan random lainnya dari diskusi di grup emak-emak ini tentang pujian. Sebelumnya sudah ada 3 tulisan yang saya catatkan dari diskusi emak-emak cantik ini, tulisan pertama di sini, yang kedua di sini dan terakhir di sini.

Pujilah anak sekadarnya. Pujian itu penting, tapi harus tepat. Jika anak berbuat salah, ya katakanlah salah. Jika anak berbuat benar, maka pujilah dia.

pujian

Pujilah anak untuk hal yang tak biasa atau pencapaian pertama. Tapi untuk hal yang sifatnya rutinitas dan anak sudah terbiasa bisa, maka pujian tidak lagi menjadi urgensi, hal ini penting agar anak tidak pamrih. Berterima kasih saja mungkin sudah cukup ya.

Ketika anak mencapai sebuah prestasi, kita juga bisa tidak langsung memberikan pujian tapi menantang anak untuk lebih lagi. Misal ketika anak mampu membangun sebuah rumah dari brick mainannya, tantang untuk dia membuat menara. Anak puas ketika mampu mencapai, pujian pun menjadi trigger penyemangat agar anak selalu berusaha menjadi lebih baik.

Tapi bukan berarti tidak boleh memuji sama sekali ya. Anak yang tumbuh tanpa pujian akan menjadi seorang pengkritik menyebalkan.

Anak dengan pujian yang tepat akan tumbuh sebagai pribadi penyayang dan tahu cara menghargai orang lain. Sementara anak yang tuna pujian akan menjadi pengkritik tak berhati. Mengkritik atau bahkan memarahi orang lain di hadapan umum.

Berbicara tentang menghadapi kritikan, tugas orang tua adalah mendidik pribadi yang lebih baik. Tidak terpuruk oleh kritikan melainkan ia bangkit karena kritikan itu bukannya menjadi orang negatif setelah kritikan. Dan ini akan jadi pribadi anak jika ia sudah memiliki kematangan emosi seperti di tulisan sebelumnya.

Ketidaknyamanan ditindas biasanya akan membuat rantai setan karena yang ditindas kelak ketika memiliki kuasa akan memilih jadi penindas juga. Dan begitu terus regenerasi tak jelas.

Masing-masing kita terlahir dengan berbagai kecenderungan bawaan yang akan membentuk masa depannya. Namun, setiap kecenderungan memiliki banyak cabang, bisa baik atau buruk. Maka tugas setiap orang tua dan pendidik bukan ikut campur memaksa mengarahkannya melainkan memberi contoh kebiasaan yang nantinya terbawa hingga anak dewasa. Dengan demikian kita akan mampu melepaskan anak lebih bebas tanpa khawatir anak akan berbuat hal yang negatif karena pembiasaan positif yang dipupuk sedari awal akan bertunas dan tumbuh dalam pribadi anak. Hal inilah yang kelak menjadi bekal ketika anak dihadapkan pada sebuah pilihan, dia akan secara otomatis memilih yang positif baginya.

Pernah satu ketika ada kasus anak yang senang membunuh bahkan hingga menguliti binatang. Lalu oleh profesor Conny Semiawan yang menghadapi anak itu menyarankan agar si anak diarahkan ke hal positif. Kedua orang tua anak itu kemudian menyekolahkan anaknya ke Jerman khusus bagian tukang jagal Kwan potong untuk dimakan. Sepulangnya dari Jerman, si anak membuka toko daging sapi di Jakarta dan ia begitu paham daging mana yang enak tanpa pernah meleset.

Masih bahasan tentang EQ, anak yang cerdas secara IQ tapi belum matang secara EQ sebaiknya tetap diikutsertakan dalam sebuah sekolah yang sesuai dengan EQnya. Karena EQ ini berbicara soal pembiasaan dan kematangan, maka orang tua jangan tergesa mengikutkan anaknya ke kelas akselerasi agar anak dapat tumbuh seimbang secara optimal.

pujian2

Pujian dan kritikan adalah salah satu bagian penting dalam meningkatkan kemampuan emosi anak. Dengan pujian anak merasa dihargai, dengan kritikan anak belajar menerima bahwa dia juga hanya manusia dan harus terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Biarkan Anak Mengeluarkan Emosi Negatifnya

Masih sambungan dari diskusi di grup emak-emak (2 tulisan sebelumya bisa dilihat di sini dan di sini). Menurut Daniel Goleman, menghardik anak untuk tidak boleh mengeluarkan emosi negatifnya itu adalah tindakan berbahaya. Jangan lindungi anak dari emosi negatif semacam rasa kalah, rasa kecewa, rasa marah, putus asa dan lain sebagainya.

Jadi jika anak marah, biarkan saja mereka mengeluarkan emosi marah itu lalu kita beri nama untuk emosi itu agar nanti anak paham. Misal, ketika anak kalah lomba lari, anak pasti kecewa. Maka ajak anak untuk mengobrol, “temennya lari lebih cepat dari Aa ya. Aa kecewa? Ya sudah, ummi tunggu sampai kecewa Aa hilang. Terus habis itu, menurut Aa kita harus gimana?”

Bahkan ketika kita marah pun, kita harus bilang kalau kita marah. Bilang bahwa saya kecewa karena kami begini begitu. Jadi saat emosi negatif keluar, kita harus mengeluarkannya serta menamainya atau katarsis. Hal ini berguna juga agar anak mampu berempati terhadap emosi kita. Meski mengeluarkan emosi negatif bagi orang dewasa ga harus dengan uring-uringan ga jelas ya. Harus sudah lebih paham manajemennya.

Biarkan anak kecewa karena temannya tidak mau menemani dia main, tidak mendapatkan jatah pinjam mainan dari temannya, dan sebagainya. Kita harus mendampingi anak saat mereka mengeluarkan emosi negatif untuk kemudian memasukkan informasi mengenai emosi negatif ini.

Merayakan kekalahan adalah sebuah hal yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Tapi di random diskusi kemarin, ternyata merayakan kekalahan atau kekecewaan ini perlu, tapi ga sembarang merayakan. “wah, kita kalah. Ga apa, kita coba evaluasi kenapa kita kalah. Sekarang kita rayakan dulu yuk kekalahan kali ini”.

Emosi negatif yang tidak belajar untuk dikeluarkan, dapat menghancurkan di masa mendatang. Istilah sundanya mah mungkin ambek nu kapegung. Kemarahan atau kekecewaan yang terkungkung tidak boleh dikeluarkan, satu saat akan meledak seperti bom waktu.

emosi negatifJika anak belajar kecewa sedari kecil, ketika ia besar nanti ia sudah terbiasa menghadapi kekecewaan dan tahu harus bagaimana menyikapinya. Sementara anak yang selalu dilindungi dari kekecewaan, kelak setelah dewasa ia akan menjadi orang yang menyebalkan. Semua orang akan direpotkan untuk memenuhi keinginannya dengan berbagai cara sampai cara ekstrim dan tidak halal sekalipun. Na’udzubillah.

Orang tua tetap harus menjaga emosi ketika anak salah atau bertingkah. Agar anak tetap tahu bahwa ia salah tapi tidak mendapat perlakuan yang tidak tepat.

Empati bukan berarti menyetujui segala tindakan anak, tapi empati itu memahami dan menerima perasaannya untuk kemudian didiskusikan bersama. Jika salah ya diarahkan ke yang benar, jika benar ya dikasih tahu bahwa memang sebaiknya begitu

Anak yang mampu berempati akan paham mana orang yang berempati dan mana yang tidak. Kelak anak akan tetap berempati pada orang lain.

Biarkan anak tahu bahwa rasa marah, kecewa dan sedih itu wajar. Bukan aib. Hanya penyaluran emosi yang harus diarahkan ke penyaluran yang tepat. Membiarkan anak diam karena kesal hanya akan membuat anak agresif pasif.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Simpati dan Empati

Semalam tanpa disengaja terjadi diskusi yang luar biasa. Tentang sebuah rasa bernama empati dan simpati kaitannya dengan emosi anak.

Lalu apakah empati itu? Empati adalah sebuah keterampilan kemampuan untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain yang terlihat melalui perilakunya. Empati membuat kita mencoba berada di posisinya dan memahami bagaimana situasi kondisi orang tersebut.

Berempati membuat kita mampu memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh orang tersebut. Dengan demikian, harapannya kita mampu bertindak tepat sesuai dengan apa yang dibutuhkan pada situasi dan kondisi saat itu.

Lalu apa bedanya dengan simpati? Bedanya terletak pada kedalaman perasaan, pada keterlibatan emosi yang sangat lekat.

Pada sikap simpati, kita seolah merasakan atau berada pada posisi orang lain, tak sekadar memahami. Pemahaman ini yang baru saya tahu karena sebelumnya saya menganggap empati lebih dalam dibanding simpati dalam hal keterlibatan emosi.

Ketika kita bersikap simpati, saat orang lain menangis, kita turut menangis dst. Malah terkadang emosi kita lebih jauh lagi.

Maka diantara simpati dan empati ini, mana yang lebih baik? Keduanya baik, tinggal disesuaikan dengan situasi kondisi saat itu. Kemampuan ini harus disertai dengan catatan kita harus tetap produktif dan sesuai syariat. Jangan sampai terlalu turut campur urusan orang lain di luar batas seharusnya atau terlalu larut memikirkan masalah orang lain sampai mengganggu rutinitas sehari-hari.

Dalam dunia psikologi, empati ini sangat penting bagi kehidupan kita. Kebanyakan di antara kita ketika dihadapkan pada sebuah hal atau masalah, kita mengutamakan kognitif yang serba logis tentang bagaimana agar masalah bisa segera selesai. Apa penyelesaian masalah yang tepat dan kalau bisa secepat mungkin. Bagaimana agar masalah ini tidak berulang, apa yang harus dilakukan. Dsb. Tanpa memperhatikan aspek afektif, perasaan.

Bagaimana perasaan orang lain ketika kita melakukan ini, ketika kita tidak melakukan itu. Bagaimana perasaan orang lain ketika kita mengatakan ini dan tidak mengatakan itu. Bagaimana pikiran mereka, dan sebagainya. Ini biasanya didasari oleh sikap kita yang cenderung logis dan egosentris, melihat sesuatu hanya berdasarkan sudut pandang kita sendiri.

Saat kita belajar berempati -memahami pikiran dan perasaan orang lain yang terlihat dari perilakunya- kita benar-benar belajar memahami, bukan menebak. Jika tak paham, maka kita harus mengambil langkah agar paham.

Pertama, tanya. Apa yang ditanyakan? Emosinya dulu, perasaannya, afektifnya. “kamu marah ya, nak?” jika ternyata salah, coba ditanyakan hal lain, anak in Sya Allah akan memberi tahu kita. “kesal sama ummi?” jika salah juga mungkin ditanyakan pertanyaan lain, “Sedih?” bisa jadi kali ini jawabannya ‘iya’ kemudian berlanjut anak menangis.

Jika emosi sudah sampai, gali pikirannya. Kenapa? Apa yang anak pikirkan? Apa yang bisa ummi bantu? Apa yang anak inginkan, dsb. Tunggu, biarkan anak memiliki jeda jika ia tak mau langsung bercerita. Jangan memaksanya langsung menjawab kalau memang ia butuh jeda. Ketika ia bercerita, tunggu dan dengarkan. Lalu ajukan perhatian, “mau dipeluk ummi?” atau “mau minum dulu?” dsb.

Setelah langkah kedua berhasil, setelah kita menenangkan hatinya dan paham situasinya baru masuk ke langkah berikutnya untuk penyelesaian masalah atau komunikasi/nasihat.

Jujur, ini saya baru tahu padahal usia sulung saya sudah 4,5 tahun. Huhu.. telat banget ya. Tapi ga apa, kita coba perbaiki.

Ini tambahan yang jadi tamparan banget buat saya.

Jadi lingkaran setan
Jadi lingkaran setan
baik
Sama-sama senang
Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Ketika Anak Berbohong

Ah, bab ini sudah lama dibaca sehingga sepertinya saya lupa. Kembali membuka-buka berbagai referensi tentang tindakan berbohong pada anak sambil mencari tahu apakah penyebab anak berbohong itu adalah saya sebagai modelnya?

Belakangan, sulung saya Danisy beberapa kali kedapatan berbohong. Sesekali dalam masanya bermain, dia berbohong yang sebenarnya saya tahu itu cuma bercanda tapi saya selalu mengarahkan bahwa bercanda pun ada adabnya dan sebaiknya tidak ada unsur kebohongan disana.

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).

Rupanya ada hal yang saya lupa. Bahwa di dunia anak, ada masanya mereka berimajinasi dan berbohong ini adalah sebuah bagian dari proses perkembangan kepribadian anak. Dibutuhkan keterampilan orang tua untuk mengarahkan dengan tepat. Kenapa tepat? Karena ada masanya dibutuhkan kemampuan berbohong dalam kondisi tertentu. Tugas kita sebagai orang tua mengarahkan sedemikian agar tidak menjadi kebiasaan buruk dan agar anak tidak dimanfaatkan orang lain untuk maksud-maksud buruk.

edu

Cara yang baik dalam mengarahkan tindakan ini adalah dengan mencari kunci penyebab anak berbohong. Dengan mengetahui penyebabnya, kita dapat memberikan nasihat dan sikap yang sesuai.

1. Haus Pujian

Ada beberapa anak yang berbohong karena ingin dipuji. Hal ini didorong oleh naluri egosentris dan cinta diri yang masih dominan pada anak terutama balita. Jika diarahkan dengan benar, naluri haus pujian ini berangsur hilang sesuai perkembangan usia dan kepribadian anak.

Disinilah dituntut kemahiran orang tua mencari sebanyak mungkin kebaikan anak dan memberikan pujian kepadanya. Seringkali untuk hal-hal seperti ini kita abai.

Orang tua mungkin dapat memberikan tugas yang menantang pada anak disesuaikan dengan kemampuannya. Hal ini kelak dimaksudkan untuk kemudian kita memujinya ketika anak berhasil menyelesaikan tugas tersebut.

Mendapatkan pujian pada dasarnya naluriah, toh kita orang dewasa juga sesekali ingin dipuji. Tempatkanlah naluri ini dengan benar sehingga ketika kebutuhan akan pujian terpenuhi, maka anak tak perlu berbohong untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang tua dan lingkungannya.

2. Dunia Fantasi

Bagi anak, dongeng yang mereka dengarkan adalah sebuah penggambaran nyata. Maka berhati-hatilah ketika memilihkan cerita yang akan diberikan pada anak. Salah-salah justru akan menjadi penyebab anak berbohong.

Islam memiliki banyak kisah teladan, kisah satria hebat dan heroik. Sebenarnya kisah ini cukup bagi anak. Selain membangkitkan semangat juga semakin mengenalkan Islam pada anak. Cerita mitos dan sebagainya boleh diceritakan sambil diberi pemahaman bahwa itu hanyalah fiksi dan sampaikan hikmah dari cerita tersebut.

3. Imajinasi

Anak belum bisa membedakan mana yang khayal dan mana yang nyata. Maka kadang kita mendengar celotehan yang mungkin bagi kita tidak masuk akal. Tentang semua imajinasi dan olah pikirnya yang kadang mungkin aneh bagi orang dewasa.

Jangan terlampaui khawatir apalagi menghina imajinasi anak. Hargai saja karena anak yang memiliki imajinasi yang kaya kelak biasanya akan tumbuh menjadi orang kreatif yang sukses dengan ide-ide brilian mereka. Orang tua hanya perlu memberikan pengertian secara perlahan mana imajinasi dan mana kenyataan agar kelak ia paham perbedaannya.

4. Pahitnya Kejujuran

Seringkali kita lupa menanyakan sebab anak bertindak. Apalagi jika misal terkait dengan tindakan terhadap adiknya. Ayah atau ibu lupa, bahwa adik kecil pun bisa membuat kakak jengkel. Ayah ibu selalu  menempatkan adik sebagai sosok tak bersalah dan tentu sasaran kemarahan adalah si kakak.

Tindakan seperti ini akan membentuk sebuah pemahaman dalam pikiran anak bahwa berkata jujur hanya akan mendapatkan respon negatif dan merugikan bahkan bisa membahayakan. Tindakan seperti ini membuat anak kelak akan berbohong untuk membela diri.

Saya lupa dengan ini sehingga terkadang sulung saya berkelit ketika ditanya, yang itu sudah pasti dapat dikenali bahwa dia sedang berbohong. Sulit mengubah mindset yang secara tak sengaja tertanam itu.

Maka sekarang saya coba mengubah teguran langsung untuk tidak berbohong (apalagi sambil marahin dia) menjadi sebuah teguran tak langsung dengan doa yang di-zahar-kan (diucapkan secara keras): “Ya Allah, berikan ummi anak-anak shalih yang jujur. Ummi seneng banget kalo punya anak jujur, ya Allah” dan biasanya si sulung menjawab “apa da Aa mah jujur. ga bohong” Saya senyum mendengar jawaban itu, “lho, ummi kan ga nuduh aa bohong”. Sesekali memang dia jujur tapi saya yang ga percaya, tapi ketika dia memang berbohong saya akan tanya lagi kejadian sebenarnya.

Dan ada saat saya menegur langsung adiknya ketika salah sehingga jika ia jujur ia merasa dihargai, jika ia bohong ia akan mengaku sendiri. Pe-er nih buat saya mengubahnya menjadi lebih baik.

Hargai kejujuran anak meski pahit. Hargai meski ia salah. Menghargai ketika ia jujur tapi salah bukan karena bangga akan kesalahannya tapi karena keberaniannya mengakui kesalahan. Teguran saya ketika si sulung salah, “ya Allah ummi seneng banget kalo punya anak yang ngaku meski dia salah. Itu berarti dia anak berani yang mau ngaku kesalahannya” 😀

5. Menyembunyikan Kesalahan

Di kalimat akhir poin 4 di atas ada tentang menghargai kejujuran anak meski saat salah sekalipun. Nah, disini kita perlu bertindak hati-hati. Hati-hati dalam menegur dan hati-hati dalam menghukum agar anak tetap menjadi anak yang bertanggung jawab atas kesalahannya. Berikan pemahaman tentang mana perbuatan ceroboh, mana perbuatan salah dan mana perbuatan benar.

Penting bagi orang tua untuk menjadi role model yang baik bagi anak. Agar anak tidak berbohong, maka jangan berbohong di depan anak. Ingat, anak belum memiliki filter sehingga semua informasi yang masuk akan masuk tanpa saringan termasuk tindakan negatif. Bahkan ketika kita berbohong untuk kebaikan sekalipun, sebaiknya dihindari jika depan anak karena mereka belum bisa membedakan mana yang untuk tujuan baik dan mana tujuan buruk.

Ketika bertemu dengan anak sepulang sekolah atau main misalnya, maka fokus perhatian kita adalah sisi positif bukan sisi negatif meskipun mungkin bagi orang tua sebenarnya itu adalah bentuk perhatian. Pertanyaan semisal “Aa tadi main sama Kakak nangis ga?” atau “tadi Aa berantem ga sama temennya?” dan sebagainya. Cobalah mulai mengubah pertanyaan menjadi sisi positif atau tanyakan perbuatan baik anak.

Anak masih memiliki keinginan untuk dipuji, maka berikanlah pujian saat ia memang pantas dipuji. Dan tetap peringatkan ketika ia melakukan kesalahan. Katakan bahwa ia salah dan puji ketika ia berbuat positif. Informasi ini akan disimpan anak sebagai bahan untuk menyaring informasi, yang baik akan dipilih dan yang buruk akan coba ia ubah.

Selain membuat anak tidak akan berusaha bohong, terbiasa mendapat pujian yang tepat akan membuat anak percaya diri dan dengan mudah mengapresiasi orang lain dengan pujian. Hal ini menjadi penting terutama jika ia memiliki adik. Ia akan menjadi backing terbaik ayah ibu dalam menghadapi adiknya. Pengalaman saya, kadang adik lebih nurut sama kakaknya dan lebih banyak meniru kakaknya mungkin karena mereka lebih sering berinteraksi. Kakaknya sering jadi “penerjemah” adiknya ketika saya atau abinya tidak paham apa yang diinginkan sang adik.

Pe-er lagi nih.. semangat, Sa ^_^

*poin-poin dan referensi tulisan ini adalah buku Mendidik Anak dengan Cinta, penulisnya bu Irawati Istadi

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.