Ketika Anak Berbohong

Ah, bab ini sudah lama dibaca sehingga sepertinya saya lupa. Kembali membuka-buka berbagai referensi tentang tindakan berbohong pada anak sambil mencari tahu apakah penyebab anak berbohong itu adalah saya sebagai modelnya?

Belakangan, sulung saya Danisy beberapa kali kedapatan berbohong. Sesekali dalam masanya bermain, dia berbohong yang sebenarnya saya tahu itu cuma bercanda tapi saya selalu mengarahkan bahwa bercanda pun ada adabnya dan sebaiknya tidak ada unsur kebohongan disana.

Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).

Rupanya ada hal yang saya lupa. Bahwa di dunia anak, ada masanya mereka berimajinasi dan berbohong ini adalah sebuah bagian dari proses perkembangan kepribadian anak. Dibutuhkan keterampilan orang tua untuk mengarahkan dengan tepat. Kenapa tepat? Karena ada masanya dibutuhkan kemampuan berbohong dalam kondisi tertentu. Tugas kita sebagai orang tua mengarahkan sedemikian agar tidak menjadi kebiasaan buruk dan agar anak tidak dimanfaatkan orang lain untuk maksud-maksud buruk.

edu

Cara yang baik dalam mengarahkan tindakan ini adalah dengan mencari kunci penyebab anak berbohong. Dengan mengetahui penyebabnya, kita dapat memberikan nasihat dan sikap yang sesuai.

1. Haus Pujian

Ada beberapa anak yang berbohong karena ingin dipuji. Hal ini didorong oleh naluri egosentris dan cinta diri yang masih dominan pada anak terutama balita. Jika diarahkan dengan benar, naluri haus pujian ini berangsur hilang sesuai perkembangan usia dan kepribadian anak.

Disinilah dituntut kemahiran orang tua mencari sebanyak mungkin kebaikan anak dan memberikan pujian kepadanya. Seringkali untuk hal-hal seperti ini kita abai.

Orang tua mungkin dapat memberikan tugas yang menantang pada anak disesuaikan dengan kemampuannya. Hal ini kelak dimaksudkan untuk kemudian kita memujinya ketika anak berhasil menyelesaikan tugas tersebut.

Mendapatkan pujian pada dasarnya naluriah, toh kita orang dewasa juga sesekali ingin dipuji. Tempatkanlah naluri ini dengan benar sehingga ketika kebutuhan akan pujian terpenuhi, maka anak tak perlu berbohong untuk mendapatkan pujian dan sanjungan dari orang tua dan lingkungannya.

2. Dunia Fantasi

Bagi anak, dongeng yang mereka dengarkan adalah sebuah penggambaran nyata. Maka berhati-hatilah ketika memilihkan cerita yang akan diberikan pada anak. Salah-salah justru akan menjadi penyebab anak berbohong.

Islam memiliki banyak kisah teladan, kisah satria hebat dan heroik. Sebenarnya kisah ini cukup bagi anak. Selain membangkitkan semangat juga semakin mengenalkan Islam pada anak. Cerita mitos dan sebagainya boleh diceritakan sambil diberi pemahaman bahwa itu hanyalah fiksi dan sampaikan hikmah dari cerita tersebut.

3. Imajinasi

Anak belum bisa membedakan mana yang khayal dan mana yang nyata. Maka kadang kita mendengar celotehan yang mungkin bagi kita tidak masuk akal. Tentang semua imajinasi dan olah pikirnya yang kadang mungkin aneh bagi orang dewasa.

Jangan terlampaui khawatir apalagi menghina imajinasi anak. Hargai saja karena anak yang memiliki imajinasi yang kaya kelak biasanya akan tumbuh menjadi orang kreatif yang sukses dengan ide-ide brilian mereka. Orang tua hanya perlu memberikan pengertian secara perlahan mana imajinasi dan mana kenyataan agar kelak ia paham perbedaannya.

4. Pahitnya Kejujuran

Seringkali kita lupa menanyakan sebab anak bertindak. Apalagi jika misal terkait dengan tindakan terhadap adiknya. Ayah atau ibu lupa, bahwa adik kecil pun bisa membuat kakak jengkel. Ayah ibu selalu  menempatkan adik sebagai sosok tak bersalah dan tentu sasaran kemarahan adalah si kakak.

Tindakan seperti ini akan membentuk sebuah pemahaman dalam pikiran anak bahwa berkata jujur hanya akan mendapatkan respon negatif dan merugikan bahkan bisa membahayakan. Tindakan seperti ini membuat anak kelak akan berbohong untuk membela diri.

Saya lupa dengan ini sehingga terkadang sulung saya berkelit ketika ditanya, yang itu sudah pasti dapat dikenali bahwa dia sedang berbohong. Sulit mengubah mindset yang secara tak sengaja tertanam itu.

Maka sekarang saya coba mengubah teguran langsung untuk tidak berbohong (apalagi sambil marahin dia) menjadi sebuah teguran tak langsung dengan doa yang di-zahar-kan (diucapkan secara keras): “Ya Allah, berikan ummi anak-anak shalih yang jujur. Ummi seneng banget kalo punya anak jujur, ya Allah” dan biasanya si sulung menjawab “apa da Aa mah jujur. ga bohong” Saya senyum mendengar jawaban itu, “lho, ummi kan ga nuduh aa bohong”. Sesekali memang dia jujur tapi saya yang ga percaya, tapi ketika dia memang berbohong saya akan tanya lagi kejadian sebenarnya.

Dan ada saat saya menegur langsung adiknya ketika salah sehingga jika ia jujur ia merasa dihargai, jika ia bohong ia akan mengaku sendiri. Pe-er nih buat saya mengubahnya menjadi lebih baik.

Hargai kejujuran anak meski pahit. Hargai meski ia salah. Menghargai ketika ia jujur tapi salah bukan karena bangga akan kesalahannya tapi karena keberaniannya mengakui kesalahan. Teguran saya ketika si sulung salah, “ya Allah ummi seneng banget kalo punya anak yang ngaku meski dia salah. Itu berarti dia anak berani yang mau ngaku kesalahannya” 😀

5. Menyembunyikan Kesalahan

Di kalimat akhir poin 4 di atas ada tentang menghargai kejujuran anak meski saat salah sekalipun. Nah, disini kita perlu bertindak hati-hati. Hati-hati dalam menegur dan hati-hati dalam menghukum agar anak tetap menjadi anak yang bertanggung jawab atas kesalahannya. Berikan pemahaman tentang mana perbuatan ceroboh, mana perbuatan salah dan mana perbuatan benar.

Penting bagi orang tua untuk menjadi role model yang baik bagi anak. Agar anak tidak berbohong, maka jangan berbohong di depan anak. Ingat, anak belum memiliki filter sehingga semua informasi yang masuk akan masuk tanpa saringan termasuk tindakan negatif. Bahkan ketika kita berbohong untuk kebaikan sekalipun, sebaiknya dihindari jika depan anak karena mereka belum bisa membedakan mana yang untuk tujuan baik dan mana tujuan buruk.

Ketika bertemu dengan anak sepulang sekolah atau main misalnya, maka fokus perhatian kita adalah sisi positif bukan sisi negatif meskipun mungkin bagi orang tua sebenarnya itu adalah bentuk perhatian. Pertanyaan semisal “Aa tadi main sama Kakak nangis ga?” atau “tadi Aa berantem ga sama temennya?” dan sebagainya. Cobalah mulai mengubah pertanyaan menjadi sisi positif atau tanyakan perbuatan baik anak.

Anak masih memiliki keinginan untuk dipuji, maka berikanlah pujian saat ia memang pantas dipuji. Dan tetap peringatkan ketika ia melakukan kesalahan. Katakan bahwa ia salah dan puji ketika ia berbuat positif. Informasi ini akan disimpan anak sebagai bahan untuk menyaring informasi, yang baik akan dipilih dan yang buruk akan coba ia ubah.

Selain membuat anak tidak akan berusaha bohong, terbiasa mendapat pujian yang tepat akan membuat anak percaya diri dan dengan mudah mengapresiasi orang lain dengan pujian. Hal ini menjadi penting terutama jika ia memiliki adik. Ia akan menjadi backing terbaik ayah ibu dalam menghadapi adiknya. Pengalaman saya, kadang adik lebih nurut sama kakaknya dan lebih banyak meniru kakaknya mungkin karena mereka lebih sering berinteraksi. Kakaknya sering jadi “penerjemah” adiknya ketika saya atau abinya tidak paham apa yang diinginkan sang adik.

Pe-er lagi nih.. semangat, Sa ^_^

*poin-poin dan referensi tulisan ini adalah buku Mendidik Anak dengan Cinta, penulisnya bu Irawati Istadi

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.