Pengejar Angin, Sebuah Film Drama Berlatar Sumatera

Pengejar Angin

Film ini sekilas mirip dengan cerita Laskar Pelangi dengan konflik yang agak sedikit berbeda. Berlatar belakang tanah Sumatera yang terkenal dengan wataknya yang keras dan sekaligus juga membuat saya bergidik ketika mendengar cerita dari teman asli daerah sana. Scene dimulai dari perampokan sebuah bus lintas Jawa Sumatera yang memasuki area hutan paling rawan di Lahat.

Konfliknya tidak terlalu menegangkan atau berliku tapi cukup seru untuk ditonton. Menggambarkan kekuatan pencapaian mimpi dari seorang anak lelaki keluarga sederhana bernama Dapunta atau sering dipanggil Dapun.

Impian Dapun sederhana saja, ia ingin melanjutkan kuliah. Sayangnya, sang ayah yang merupakan ketua dari sindikat perampok Bajing Loncat itu, bersikeras tidak mengizinkannya. Sang ayah yang diperankan oleh Mathias Mucus ingin Dapun menjadi jawara melanjutkan kepemimpinannya.

Dapunta Pengejar Angin

Meskipun ayah Dapun adalah perampok, tapi ia adalah “orang baik”. Semua hasil rampok untuk membantu orang sekitarnya. Ia juga tak segan membela orang yang terancam dengan kemampuan beladiri yang luar biasa. Bahkan menjelang akhir cerita, sang ayah masuk koran karena menyelamatkan anak kecil dari ancaman seorang lelaki depresi dengan hanya beberapa gerakan saja. Sikap jawara sang ayah juga terbukti dari beberapa kejadian dimana saat kelompoknya hampir kalah, ia akan turut tangan tidak hanya menyaksikan dari kejauhan. Di scene akhir, ayahnya tertangkap karena ketika turun tangan usai pasukannya kalah, anggota pasukan yang dilumpuhkan itu diancam dengan pistol sehingga ayah Dapun pun menyerahkan dirinya dan dipenjara.

Konflik di sekolah berkutat seputar permasalahan yang mungkin terjadi juga pada sekolah pinggiran meskipun ia berlabel negeri. Dapun yang merupakan murid cerdas itu berkesempatan mengikuti olimpiade sains di Jepang dan kuliah dengan jalur undangan. Sayangnya slot jalur undangan yang dimiliki pihak sekolah ternyata sudah diberikan pada siswa lain oleh kepala sekolah. Sementara kepergiannya ke Jepang terancam batal karena sekolah tidak memiliki dana dan tidak memungkinkan untuk mengumpulkan dana dari siswa sebab di awal scene, ada bagian yang menceritakan salah satu wali murid memprotes sekolah atas sumbangan pekan olah raga.

Pak Damar diperankan oleh Lukman Sardi merupakan satu-satunya guru yang memperjuangkan Dapunta. Ia memiliki teman dekat yang merupakan seorang Coach di bidang olah raga bernaa Ferdi diperankan oleh Agus Kuncoro, dan sedang mencari calon atlit Sea Games. Damar memperkenalkan Dapun pada Ferdi dan takjub akan kemampuan Dapun dalam berlari. Di pertandingan lari antar sekolah se-provinsi Dapun akhirnya memenangkan posisi satu dan berhasil meraih rekor baru.

Sebelum pertandingan, Dapun menemui sang ayah di penjara. Ayah Dapun bercerita tentang asal mula ia diberi nama Dapunta yang merupakan nama raja pendiri kerajaan Sriwijaya. Ayahnya ingin Dapunta tumbuh menjadi seperti raja Dapunta, raja yang besar dan dicintai rakyat.

Ada scene dimana saking kesalnya dengan semua kejadian di sekolah yang puncaknya ia diminta untuk keluar dari sekolah setelah seluruh sekolah tahu bahwa Dapun adalah anak seorang perampok, Dapun memutuskan untuk melanjutkan jejak ayahnya yang dipenjara. Saat ia sudah bersiap memimpin pasukan merampok kendaraan yang lewat, Yusuf yang merupakan teman sekolah sekaligus musuh besarnya datang memberitahukan bahwa ibu Dapun masuk rumah sakit sehingga rencana perampokan perdana Dapun urung dilakukan dan ia berbalik menuju rumah sakit tempat ibunya dirawat.

Nasihat-nasihat yang diberikan sang ibu menjadi pelajaran tersendiri bagi saya. Pun nasihat sang ayah yang memegang teguh nilai jawara dimana Dapun tidak boleh menggunakan kemampuan beladirinya jika berhadapan dengan yang tidak memiliki kemampuan yang setara. Hal ini ditegaskan di scene saat Dapun dikeroyok teman sekolahnya setelah diketahui Dapun anak perampok.

Akhir cerita ditutup dengan diterimanya Dapun di Universitas Indonesia dan memenangkan juara lomba lari tingkat provinsi. Sang ibu yang sempat kehilangan nafas akhirnya berhasil selamat dan kembali hidup. Sementara sang ayah yang melarikan diri dari penjara, tidak jelas apakah memang meninggal saat lompat ke jurang dan ditembak polisi atau berhasil menyelamatkan diri dan kembali ke rumah karena ketika Dapun pulang ke rumah, ada sosok harimau di bawah air terjun dekat rumah dan Dapun berteriak “Bapung” (ayah).

Hikmah yang dapat saya ambil dari film ini:

  1. Seorang ayah, bagaimanapun memiliki peran penting dalam tumbuh kembang seorang anak baik kemampuan maupun cara berpikirnya.
  2. Peran ibu sudah tidak diragukan lagi. Ia mampu menjadi penyeimbang sang ayah. Sang ibu tetap menanamkan nilai kebaikan dan mendukung anaknya selama mimpi itu adalah hal yang baik.
  3. Dalam pencapaian mimpi, pengorbanan sudah pasti. Ini merupakan salah satu quote yang ada dalam filmnya: semakin tinggi mimpimu, semakin besar pengorbanan yang harus kau lakukan.
  4. Bahwa takdir buruk semata karena kita tidak dapat melihat apa yang akan terjadi Tetaplah dalam kebaikan agar kita dipertemukan pada takdir baik yang mungkin menjadi kado di balik permasalahan.
  5. Peran seorang guru yang bijak dan mampu melihat kelebihan dari sang murid adalah dukungan yang juga tidak bisa dianggap sepele.
  6. Peran sahabat juga menjadi hal yang menarik dalam film ini sebagaimana di film Laskar Pelangi
  7. Tak lupa selain peran ibu, ada peran perempuan yang bisa menjadi penyejuk, penyeimbang sifat berapi-api Dapun. Perempuan itu bernama Nyimas yang di film ini merupakan gadis yang disukai Dapun, putri seorang dokter (yang tidak saya ceritakan disini)

Film Pengejar Angin diproduksi oleh Putaar Production bekerjasama dengan Pemprov Sumatera Selatan. Disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra. Dirilis pada 3 November 2011.

Semoga makin banyak film Indonesia berlatar belakang asli Indonesia yang beredar. Meskipun tidak ada di televisi, setidaknya ada di situs-situs film (eh film Pengejar Angin ini ada di UseeTV).

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Tips Perawatan Acer One 10

Setelah sebelumnya Acer Aspire hijau saya tak terselamatkan karena LCDnya entah kenapa tiba-tiba ada layar hitam menggurat dan terus membesar, Acer One 10 jangan sampai memiliki nasib yang sama: terbengkalai dan ga sempat service.
Eh sebetulnya yang Aspire One itu bukan terbengkalai sih, memang waktu itu ga sengaja layarnya pecah. Coba cari info, biaya memperbaikinya sampai 1,5 jutaan. Kata suami: mending beli lagi aja 😀

image
My Acer One

Oke, kembali ke Acer One 10 (AO10) ya. Kalau ga salah tipe ini disebut notebook hybrid karena selain jadi notebook juga dapat dijadikan tablet. Meski awalnya saya agak bingung juga sih mengingat sistem operasi si AO10 ini kan Windows ya. Sementara tablet biasanya berbasis Android.

Sedari awal beli, bermasalah sama USB cable untuk charging. Slotnya seperti longgar sehingga butuh trik tertentu supaya bisa charging. Waktu itu tidak terlalu dipedulikan.

Kemudian seringkali kerjaan terganggu karena seolah-olah layar lepas sendiri. Maksudnya gimana? Jadi ketika layar dicopot dari keyboard, otomatis akses ke memori di keyboard (memori D) tidak bisa dilakukan. Hanya bisa akses memori di C. Menyebalkan karena kadang bikin ga bisa save (saya punya kebiasaan ketika rehat pasca update file atau dokumen, langsung save untuk memastikan perubahan tersimpan segera, tidak menunda selesai semuanya).

Sampai suatu ketika, keyboard nya mulai macet. Ga terlalu saya anggap masalah karena masih dominan menggunakan mouse dan ada keyboard virtual. Sayangnya kemudian yang sangat mengganggu adalah ketika si notebook mulai ngaco. Seolah ada tombol yang ditekan terus menerus atau fungsi yang berjalan sendiri.

Dan puncaknya adalah ketika keyboard virtual ga bisa dipake, “tombol berjalan sendiri” makin mengganggu karena sulit akses program maupun Windows Explorer. Ah ini mah fix kudu di-service.

Puncak kerusakan itu Desember. Baru service Maret kemarin. Itupun ga sengaja 😀
Alhamdulillah notebook masuk ruang operasi saat masih ada garansi sehingga ia keluar “rumah sakit” hanya perlu membayar 44.000 rupiah saja. Itupun untuk beli kabel USB baru. Nah, hal-hal yang saya perhatikan dan info yang saya dapat terkait unit AO10 akan coba di-list disini.

1. Kabel USB
Ketika pertama kali menerima kabel baru, saya coba cek. Perasaan sama aja. Sampai akhirnya saya nemu satu hal berbeda: gigi kabel. Yang kayak gimana sih?

image
Gigi USB Kabel

Coba perhatikan gambar di atas. Yang dimaksud gigi adalah bagian yang saya lingkari. Bagian yang membuat charger “klik” saat dimasukkan ke slot USB charge adalah tonjolan yang seperti gigi di foto bawah. Foto atas adalah kabel lama sedangkan foto bawah adalah kabel baru. Sekarang charging ga ada masalah. Jadi kalau ada masalah kabel longgar, cek giginya lalu belilah yang baru. Kabelnya aja, head-nya ga perlu beli lagi.

2. Lid sering “terlepas”
Hal ini menyebabkan seolah layar dan keyboard terpisah (dicopot) padahal nggak. Sehingga akses ke D terputus. Repot nih kalo pas pake source file yang disimpan di D. Ini penyebabnya adalah kabel sambungan yang longgar di layar, kata CS. Jadi ya sebaiknya begitu sering terjadi “copot tanpa dilepas” itu langsung ke service center aja.

3. Permasalahan keyboard stuck
Menurut CS, karena saat melepas layar dari keyboard (dipisahkan) tidak di-eject terlebih dahulu. Itu saya baru tahu sih. Tapi sebelumnya jarang lepas-lepasin layar kecuali ya pas “lid seolah lepas” musti dicopot dulu layarnya, pasang lagi. Baru deh bisa berjalan seperti semula (bisa pake keyboard, mouse dan akses D).
Jadi bagi yang menggunakan Acer One 10, saat akan mencopot layar, eject dulu ya. Cek di status bar (kanan bawah) bagian logo USB (Safely Remove Hardware and Eject Media. Klik disana lalu “Eject USB3.0 SATA Bridge” di bawahnya ada keterangan nama direktori kita.

image

4. Keyboard virtual tidak berfungsi
Ini saya ga dapet penjelasan tapi sepertinya karena keyboard utama terganggu, sehingga mengganggu sistem dan begitulah.

Oke, itu saja tips dari permasalahan yang saya alami. Sempat bertemu dengan pemilik AO10 yang mendapat masalah Blue Screen padahal usia notebook-nya baru 3 bulan. Itu mah langsung ke service center aja sepertinya ya. Karena 1 tahun punya AO10 saya ga alami blue screen.

Terima kasih sudah membaca tulisan saya. Semoga bermanfaat ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

PADI Yang Bermanfaat

Belajarlah pada ilmu padi. Semakin berisi, semakin merunduk

Satu ketika saat berbincang tentang anak di obrolan ibu-ibu sebuah grup, tersirat pertanyaan “adakah buku islami yang lengkap membahas pendidikan anak dalam kacamata Islam?” Salah satu teman menjawab buku PADI.

PADI? Ih, becanda ya?

Beneran PADI. Pendidikan Anak Dalam Islam atau judul aslinya Tarbiyatul Aulad fil Islam. Subhanallah, bisa ya singkatannya pas banget.

buku Pendidikan Anak dalam Islam (Tarbiyatul Aulad fil Islam)

Buku Pendidikan Anak Dalam Islam ini sudah agak lama saya dengar. Tapi dulu rasanya sulit menemukan buku itu. Ternyata bukan sulit tapi memang ga niat. Pas temen nawarin pas ga bisa beli. Duh jaman dulu mah yaa. Qeqeqe. Masih sering mikir beli buku mahal. Sekarang alhamdulillah sudah diberi hidayah buat tobat 😀

Akhirnya setelah punya 2 anak dan tantangan semakin berat, diingatkan lagi tentang pendidikan yang dilakukan Rasulullah dan dipandu oleh Islam. Cari buku PADI, tanya teman yang dulu menawarkan, hasilnya tak jelas. Kemudian dapatlah buku PADI di sebuah toko online karena setiap kali mau ke toko buku ga bisa aja -_-

Setelah buka buku, baca daftar isi. Deg. Ya Allah, ini dulu aja deh tuntasin. Bismillah. Buat dasar pengetahuan sembari belajar.

Karena sudah dapat materi soal adab ilmu, maka mau tidak mau saya memaksa diri membaca mukaddimah dari penulis. Lampiran yang seringkali saya lewat

Jadi maklum ya kalo bacanya agak lama. 31 halaman buat pengantar doang.

Selain selesaikan mukaddimah, juga mencerna kalimatnya yang seperti sastra. Mungkin karena terjemahan. Tapi sebenarnya enak sih bahasanya.

Kembali ke bahasan buku. Yang ga biasa baca mukaddimah, ayo mulai dibiasakan. Mukaddimah buku PADI yang segambreng itu rupanya bukan sekadar “ucapan terima kasih penulis” tapi menjabarkan isi buku sekaligus mengobarkan semangat kenapa buku ini ada. Padahal baru mukaddimah lho.

Menarik karena buku ini membahas pendidikan jauh sebelum anak lahir, yakni sebelum sepasang suami istri menikah. Rasanya takjub terhadap perhatian Islam dalam membangun sebuah keluarga.

Beranjak ke daftar isi, ini adalah list-nya:

  1. Bagian Pertama terdiri dari 4 pasal
    1. Pernikahan yang Ideal dan Kaitannya dengan Pendidikan
    2. Perasaan Psikologis Terhadap Anak
    3. Hukum-hukum yang berkaitan dengan Kelahiran
    4. Sebab-sebab Terjadinya Kenakalan pada Anak dan Penanggulangannya
  2. Bagian Kedua, Tanggung Jawab Para Pendidik terdiri dari 7 pasal
    1. Tanggung Jawab Pendidikan Iman
    2. Tanggung Jawab Pendidikan Moral
    3. Tanggung Jawab Pendidikan Fisik
    4. Tanggung Jawab Pendidikan Akal
    5. Tanggung Jawab Pendidikan Kejiwaan
    6. Tanggung Jawab Pendidikan Sosial
    7. Tanggung Jawab Pendidikan Seks
  3. Bagian Ketiga (terakhir) terdiri dari 3 pasal
    1. Metode dan Sarana Pendidikan yang Berpengaruh pada Anak
    2. Kaidah-kaidah Asasi dalam Pendidikan
    3. Sarana Pendidikan

Subhanallah.  Cukup lengkap untuk dasar ilmu parenting ya. Tinggal dilanjut (atau bisa dibarengi) ilmu parenting lainnya sebagai pelengkap dan peluas khazanah ilmu parenting. Baca buku ini seperti tersambung dengan bahasan 3 ibu penggiat Homeschooling Muslim yakni teh Kiki Barkiah, teh Patra dan bu Ida di seminar yang diadakan oleh Sabumi beberapa waktu lalu. Referensi yang insyaallah terjamin sahih. Dan benar kata mereka, Islam itu pada dasarnya sudah meletakkan fondasi pendidikan yang fundamental bagi pendidikan dan tumbuh kembang anak.

Segitu dulu review saya terhadap buku ini. Bagi yang mau membeli secara Online bisa cari di Tokopedia. Sementara untuk area Bandung, saya sarankan beli di Gelap Nyawang aja. Saya berlangganan buku di Toko Buku Tazkia (pas belokan mau ke Salman). Kiosnya kecil, tapi harga bersaing karena biasanya ada diskon. Hehe. Ritel di Online sama dengan di TB, Cuma di TB ada diskon dan tanpa ongkos kirim.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Coba-coba Beralih ke Menspad

Jaman semakin modern tapi gaya hidup dalam perhatian saya sedang kembali ke “alam”. Seperti kembali ke masa kehidupan jaman dahulu kala saat orang-orang tua kita serba memanfaatkan alam tanpa tergantung pada kebanyakan barang yang diproduksi. Termasuk dalam penggunaan popok kain yang kemudian merambat pada penggunaan pembalut dari kain.

Ingatan saya terlempar pada masa SMP. Kala itu teman perjalanan saya, saya menyebut demikian karena dia adalah teman yang selalu barengan saat berangkat dan pulang sekolah, dia bercerita bahwa dirinya tidak menggunakan pembalut sekali pakai. Alasan dia saat itu sederhana saja, karena tidak ada uang untuk membeli pembalut. Sehingga setiap kali haid, dia menggunakan sobekan kain sinjang (biasa digunakan untuk jarik atau gendongan) yang dilipat. Jika sudah sekian jam, ia ganti dan kain itu dicucinya.

Saya yang mendengar cerita itu sesaat merasa bingung. Musti rajin kalau begitu ya. Gimana kalau ga kering? Padahal kain sinjang sendiri mudah kering. Pernah juga dia bercerita tentang insiden yang cukup bikin saya nyengir. Ah, pikiran anak-anak sekali karena saat itu memang belum mengalami.

Teringat akan kisah itu, saat kemudian mengalami masa-masa haid, saya berpikir sebenarnya teman SMP saya –yang sekarang entah ada dimana- benar-benar rajin. Tak terbayang harus berganti sekian jam sekali, mencuci dan memakainya lagi. Sesaat saat berpikir, agak jijik juga.

Hingga saat saya memiliki anak, pertama kali saya berkenalan dengan popok kain modern (dikenal dengan clodi) di usia anak pertama menginjak 6 bulan. Meski anak pertama menggunakan popok tali tradisional di 3 bulan kelahirannya, tapi saat bepergian ia sudah mengenal popok sekali pakai (pospak). Alhamdulillah keluarga masih termasuk yang berpikiran “ga apa cucian popok banyak, kasihan kalau pakai pospak masih bayi”. Ya meskipun kemudian hukum itu tidak berlaku di anak kedua. Hehe

Orang yang tahu saya membeli clodi sebagian mengernyitkan dahi, “ih mahal banget”. Iya sih memang. Clodi saat itu mahal pake banget. Kalau sekarang mah sudah pada sering banting harga. Meskipun secara performa, harga tidak berbohong. Hoho..

Tapi selentingan macam itu ga terlalu saya pedulikan. Sama saja ketika saya memilih membeli pompa ASI, coolerbag dan botol kaca untuk stok ASI Perah si sulung agar tetap mendapat ASI kala saya tinggalkan untuk kuliah dan ketika saya harus ke luar kota untuk mengurusi sisa-sisa pekerjaan yang belum selesai.

Meski sudah mengenal clodi, tapi saya lupa kapan tepatnya pertama kali saya mendengar istilah pembalut kain (atau dikenal dengan menspad). Hanya saja seingat saya, menspad saya kenal ketika anak pertama berusia sekitar 1 tahun. Saat itu belum tertarik menggunakan menspad meski anak sudah menggunakan clodi dan merasakan sendiri hemat dan capek ber-clodi 😀 eh saya jujur lho. Capek karena kan cucian bertambah. Hehehe..

Ketika akan beralih dari pembalut sekali pakai ke menspad, saya ragu. Bagaimana kalau susah mencucinya? Kan itu noda darah. Ah nanti saja deh beralihnya. Dan qadarullah hamil anak kedua. Sayangnya saat nifas saya malah beralih pada pembalut herbal, memang nyaman juga.

Sampai akhirnya tahun ini memilih beralih setelah melirik produk jualan yang tidak pernah saya promokan karena belum difoto-foto. Hahaha.. Awalnya terpaksa, tapi setelah mencoba ternyata oke juga.

menspad anannda

Menspad Anannda menjadi menspad pertama yang saya pakai. Model menspad-nya sendiri beda dari menspad lain yang pernah saya temui. Jika menspad lain seperti pembalut dengan wing pada umumnya, maka menspad Anannda lebih mirip celana dalam dengan gesper karet di bagian pinggang.

Pun untuk segi ukuran, jika menspad lain ukuran reguler dan maxi disesuaikan dengan kemampuan menampung volume cairan, maka ukuran pada menspad Anannda lebih pada ukuran tubuh penggunanya. Sebenarnya ukuran ini disesuaikan dengan kemampuan menampung juga, tapi bagi saya akan lebih akurat jika disesuaikan dengan bobot tubuh pengguna.

Ribet? Iya banget ribet. Harus punya banyak menspad? Antara iya dan tidak. Tapi kalau punya banyak juga harga menspad tidak semahal clodi kok. Hehehe..

Ribet karena setelah ganti sebaiknya dicuci. Atau kalaupun tanggung, bisa direndam air saja lalu dicuci setelah menumpuk sekalian supaya memudahkan juga saat dikeringkan pada spinner mesin cuci. Jika tidak memiliki mesin cuci, memang lebih lama keringnya tapi dibanding insert clodi, menspad tetap lebih cepat kering.

Saya baru memegang bahan 2 merk menspad: Anannda dan GG. Dua-duanya memiliki bahan yang lembut dan hampir sama sehingga kemungkinan mencucinya pun sama mudah sehingga noda darah insyaallah bisa mudah hilang asal begitu ganti langsung direndam air. Jika noda sulit hilang, gunakan sabun batang atau sabun pencuci piring.

Hanya saja dari segi warna, GG lebih menarik. Bahan outer (yang menahan agar tak mudah tembus) memiliki warna-warna soft dan bagian dalam berwarna putih polos. Model mirip pembalut biasa tapi ada tambahan wing untuk dipasang pada celana dalam.

Menspad Anannda sendiri memiliki warna outer (dan ada yang motif) yang bisa dibilang agak norak. Tapi bagian dalamnya cenderung gelap sehingga noda darah tidak terlalu nampak.

menspad
Foto ini saya ambil dengan mode terbalik. Bagian inner yang berwarna merah, outer yang warna hitam. Karet elastisnya yg di atas itu, warna hitam

Bagi saya, ukuran maxi lebih enak digunakan sementara ukuran reguler jadinya ngepas banget. Jadi jika teman-teman ingin menggunakan menspad Anannda, saya sarankan konsul dulu sama penjualnya ya, bobot tubuh.

Saya sendiri owner Belanja Keluarga yang merupakan Agen produk Anannda. Hanya saja lebih sering menggunakan sistem PO produksi terutama untuk reseller. Antrian produksi biasanya 2 minggu setelah PO ditutup.

Sudah dulu ah catatannya. Yang pasti setelah berulang kali menggunakan menspad, masih nyaman dan sudah tidak mengeluarkan dana untuk membeli pembalut sekali pakai ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Saya Warga Kampoeng

Berbicara tentang kegiatan belakangan, ternyata asyik ya tergabung di grup-grup yang kita benar-benar fokus di grup itu. Dulu tergabung juga sih, di grup-grup kece dengan ember ribuan. Tapi kemudian jarang nengok lagi karena adanya di grup FB.

Nah, baru setahunan ini mungkin ya tergabung di berbagai grup WhatsApp dengan bermacam keilmuan yang dibahas. Jujur, dulu masuk ya cuma masuk aja. Semacam “sekadar mengamankan kesempatan”. Masih kesulitan mengatur waktu untuk mempelajari dan mempraktekkan. Rasanya sibuk ga jelas juntrungan deh kalau seperti itu.

Tapi kemudian saya belajar sedikit demi sedikit fokus setidaknya di beberapa grup ilmu. Salah satunya grup kepenulisan yang baru dibuat sekitar awal tahun ini yang oleh founder-nya diberi nama Kampoeng Kata-kata.

Dari Kampoeng Kata-kata saya belajar banyak hal, utamanya mengenai tulisan apalagi harus setor tulisan sebulan sekali. Ditambah ada kuis-kuis yang mengasah kemampuan menulis entah itu pembiasaan menulis ataupun kreativitas dan spontanitas menulis.

Web ini saya dapatkan sebagai apresiasi, hadiah dari turut sertanya saya dalam lomba #15HariMenulis yang diselernggarakan di Kampoeng Kata-kata. Penyedia kuisnya memberikan hadiah web gratis pada peserta yang mampu bertahan setidaknya memberikan 80% setoran tulisan harian (dari 15 hari, minimal 12 hari setor).

Ketika ada kuis resensi buku, saya yang semula sudah mundur akhirnya terdaftar tidak sengaja. Mulanya saat kuis buku berlangsung, ada kuis dadakan yaitu lomba menyelesaikan membaca novel. Yang paling cepat menyelesaikan novelnya dan dapat menceritakan kembali isi novel tersebut berhak mendapat hadiah. Saya sebenarnya mendaftar untuk lomba menyelesaikan baca novel tersebut. Namun karena ada lomba resensi, kemudian melontarkan pertanyaan “bisa buat resensi juga kan ya? Jadi sekalian.” hihi. Rupanya saya gagal menyelesaikan tantangan baca novel itu karena belum sempat mencari novelnya sudah keburu ada yang menang.

Kuis yang diadakan disepakati tak jauh dari dunia menulis. Baru-baru ini (tepatnya 2 hari lalu) ada kuis menyambung cerita. Penyedia kuis memberikan cerita awal, lalu warga Kampoeng lainnya berhak melanjutkan cerita tersebut. Hasil ceritanya berhasil membuat warga Kampoeng terkekeh-kekeh dengan semua keanehan ide cerita sambungan yang muncul. Menjadi sebuah kisah utuh yang tak terduga. Bermula dari rencana mengukur jalanan, hingga pemilihan lurah, satral, berpindah roh dan perjodohan. Dua toko utama yang disodorkan pemberi ide kuis tentu harus ada di keseluruhan cerita.

Kebersamaan dan kekeluargaan di Kampoeng terasa begitu akrab layaknya sebuah perkampungan. Obrolan ngalor ngidulnya pun tetap penuh ilmu. Alhamdulillah dipertemukan dengan grup yang anggotanya memang orang-orang yang berpengalaman dan mumpuni dalam kepenulisan plus memiliki keilmuan lain yang luar biasa sehingga selalu ada saja ilmu baru yang didapat. Minimal anggotanya suka membaca buku sehingga khazanah ke-buku-an pun bertambah.

Di Kampoeng ada banyak yang dipelajari. Belajar bahasa Inggris, belajar bahasa Arab, belajar tentang resensi, belajar tentang pemerintahan (bukan gosip pemerintah ya), belajar tentang tips menulis, belajar tentang anak, belajar tentang bisnis, tentang keimanan, tentang pemahaman keislaman, tentang pernikahan, dan masih banyak lagi bahasan yang bermanfaat. Saling menyemangati dalam menulis sudah pasti jadi salah satu agenda yang tak perlu diragukan keampuhannya.

Menjadi bagian dari grup yang di dalamnya ada berbagai profesi menjadi kelebihan lainnya. Teman berbagai profesi dengan semangat menulis dan berbagi yang cukup tinggi. Alhasil, selain tersemangati untuk menulis, juga tersemangati untuk terus menggali ilmu. Masyaallah. Barakah untuk semua warga Kampoeng ^_^

kampoeng kata

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Parfum Custom, Parfum Gue

Sejak ikut acara Workshop STIFIn Level 1 (WSL1), saya sudah penasaran dengan sebutan sebuah parfum “Custom” saat pemiliknya memperkenalkan diri di sesi perkenalan peserta WSL1. Seperti apa sih parfum Custom itu. Konon menurut perkenalan pemiliknya, parfum itu disesuaikan dengan tanggal lahir.

Beberapa waktu sejak acara WSL1, saya bahkan sudah hampir lupa mau menanyakan mengenai parfum ini. Kemudian di grup alumni WSL1, ada yang mempromosikan parfum Custom ini. Karena penasaran, saya inbox lah si pengiklan yang merupakan agen dari parfum Custom yang membuat saya penasaran tersebut.

Kang Chuba namanya, nama panggilan tapi memang dikenal dengan nama itu. Saya kirim pesan WhatsApp ke kang Chuba untuk menanyakan perihal parfum Custom yang diberi Merck “Parfum Gue”.

Kenapa disebut Parfum Gue? Karena katanya akan jadi parfum unik bagi setiap orang. Parfum ini diracik sesuai dengan “perhitungan” mengenai si pemesan. Pemesan sendiri akan diminta data berisi:

  • Nama lengkap
  • Tanggal lahir
  • Golongan darah
  • Jenis kelamin

Saya yang jarang sekali menggunakan parfum karena belum menemukan yang cocok akhirnya memesan satu untuk saya sendiri. Sekadar ingin tahu dulu apakah cocok atau tidak.

Dulu pernah sih dapet parfum yang cocok waktu awal nikah, tapi terus lupa namanya jadi ga pernah beli lagi. Hehe.

Setelah dipikir-pikir, sepertinya suami juga butuh parfum. Saya ga terlalu cocok dengan parfum yang beliau beli di supermarket. Maka saya pesankan satu untuk suami. Judulnya sih biar sepasang gituh parfumnya. Xixixi.

Sekitar 1 apa 2 minggu ya, parfumnya sudah siap. Begitu sampai rumah, dicoba deh parfumnya. Hmm.. awal mencium sih kok kayak parfum cowok ya. Apa jangan-jangan ketuker.

Setelah suami coba, kata suami ga ketuker ah. Dan beliau suka dengan parfumnya. Sementara saya sendiri, karena jarang pake parfum jadinya nanya sama suami: “Aa suka ga sama parfum ade?” Alhamdulillah beliau bilang suka, cocok sama saya. Begitu testimoninya.

Lama kelamaan, ternyata memang nyaman menggunakan parfum itu. Wanginya khas. Cuma ya namanya parfum jangan sampe berlebihan biar ga malah menyengat.

Parfum Gue

1 paket parfum terdiri dari packaging eksklusif Parfum Gue dengan botol khas bertuliskan sama, Parfum Gue. Ditambah ada sebuah Family Card yang berisi biodata pemesan berikut rangkaian bahan yang menjadi komposisi parfum pemesan. Di Family Card juga tertera “tebakan” sifat si pemesan. Beberapa cocok, beberapa ya namanya juga perhitungan manusia berdasarkan data kebanyakan. Tipe parfumnya sendiri Eau de toilette. Segera banget digunakan setelah mandi.

Dan ingat, untuk perempuan sebaiknya digunakan di dalam rumah saja ya. Boleh sih dipake saat keluar, tapi sebisa mungkin jangan terlalu tercium wanginya ^_^

 

Oiya lupa, kontak kang Chuba: 0881-9583-134. Langsung kontak beliau aja ya 😉

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.

Training Public Speaking Bareng GPS

Apa sih yang pertama kali anda pikirkan ketika mendengar “Public Speaking”? Jika anda menanyakan hal tersebut pada saya, maka saya akan menjawab dengan sederhana: ngomong depan umum.

Ya, meskipun “pengertian sebenarnya” tidak tepat seperti itu. Ketika suami menawarkan saya untuk ikut training public speaking, jawaban saya selalu sama: “tidak, terima kasih”. Karena ketika itu saya pikir “buat apa lah.. toh kan cuma ibu rumah tangga, ga kerja, ga perlu tampil depan umum juga.”

Ya sebenarnya bukan hanya itu alasan saya menolak. Diantara penyebabnya adalah karena lembaga yang ditawarkan suami adalah lembaga yang saya kenal. Di saat orang lain senang karena kalau kenal sama lembaganya berarti dapat dipercaya, saya malah sebaliknya. Bukan karena saya tidak percaya pada lembaganya tapi lebih pada rasa malu saya. Malu ah ketemu mereka, tim dari Ganesha Public Speaking (GPS) Bandung. Apalagi mereka teman-teman suami. Ih ngga banget deh.

Alasan lain yang sering saya kemukakan tentu sudah bisa ditebak. Urusan dana. Yang namanya training profesional begitu, tak mungkin gratis kan? Masuk akal ya alasan saya?

Hingga suatu hari, suami hanya mengatakan begini pada saya: “De, nanti tanggal 9-10 dan 16-17 Mei ikut pelatihan public speaking ya di Tubagus.” Eh, kok tiba-tiba. Menyebalkan sekali kalau sudah begini. Itu berarti suami sudah mendaftarkan saya ke training itu dan mau tidak mau harus mau dong. Kalau ngga, kan bisa hangus uangnya. Huhu..

Tiba saatnya pelatihan. Ada yang aneh? Ada. Mereka disana. Ya iya lah.. Tim GPS pasti disana. Aarrrggghhh.. pengen lari aja rasanya waktu itu. Tapi baiklah. Demi uang yang sudah dikeluarkan. Heuheu.

Ketika kelas dimulai, kaget karena banyak hal tak terduga yang saya dapatkan. Benar-benar di luar dugaan. Dan saya menikmati 3 hari kelas plus 1 hari final presentation yang mendebarkan.

Jadi ada apa aja sih di training Public Speaking Basic-nya GPS? Kok Esa sampai-sampai heboh sekali sepertinya. Mmm, begini ya. Ini saya catat berdasar pengamatan saya saja:

  • Pertama, peserta kelas dibatasi demi efektifitas. Waktu itu kami 6 orang saja.
  • Kedua, kelas diikuti tidak hanya oleh orang Bandung, tapi juga dari luar kota. Teman “sekelas” saya ada dari Jakarta, Tangerang dan Kebumen. Seru kan..
  • Ketiga, dominasi praktek. Ide prakteknya kreatif pula. Apa aja? Rahasia ah. Ikut aja deh trainingnya.
  • Keempat, ada yang namanya “Final Presentation” di dalam Graha Ganesha yang dihadiri oleh puluhan audiens karena setiap peserta diharuskan membawa minimal 3 orang. Kelas Basic Weekday dan Basic Weekend digabung untuk presentasi.
    Ngapain aja di Final Presentation? Nyanyi. Haha.. serius lho disana disuruh bernyanyi. Ditambah mempresentasikan apapun yang dapat disampaikan.
    Syarat ikut Final Presentation harus mengikuti keseluruhan sesi kelas. Bolong satu saja, harus mengulang di training berikutnya.
    FYI: 1 hari dibagi ke dalam 2 sesi. Jadi total 6 sesi pertemuan plus 1 sesi Final Presentation.
  • Kelima, tarif training yang kece menurut para peserta (testimoni langsung dari yang memilih training di GPS setelah membandingkan). Setelah mendengar testimoni teman-teman dari luar kota, rasanya jadi gimana gitu. Ternyata ya harga segitu bagi yang membutuhkan adalah harga yang paling menarik saat saya menganggap harga itu bagi saya mahal 😀
  • Keenam, karena salah satu pembuat kurikulumnya bergerak di dunia NLP, ada sesi “hipnosis”nya juga lho di akhir sesi pertemuan terakhir.
  • Ketujuh, bisa seat-in alias mengulang training di angkatan berikutnya dan angkatan berapapun, bebas. Asal harus komitmen untuk hadir full.
  • Kedelapan, Tempat training memang ruangan yang tidak terlalu luas. Tapi cukup kok sesuai kuota. Nyaman dan ber-AC. Letaknya di tengah kota (jalan Tubagus Ismail)
  • Kesembilan, Bisa dapet copy video penampilan kita. Jadi tahu perkembangan kita per sesi. Kadang malu sendiri dan kadang bangga sendiri. Hehe.
  • Kesepuluh, ada grup alumni
  • Kesebelas, ada gathering alumni bulanan lho. Sharing dan refresh. Bisa dapat ilmu baru, memantapkan ilmu yang sudah didapat, menambah koneksi bahkan dapat free Lele kriuk (hihi, ini sih “gift” saat gathering Ramadhan kemarin)
  • Keduabelas, ada grup per kelas
  • Ketigabelas Trainer yang ramah dan bisa diajak diskusi
  • Keempatbelas mendapatkan masukan dan pesan yang tak terduga di sesi awal. Apa itu? Ikut aja deh.
  • Kelimabelas, bisa dapet kesempatan “pengecekan” tulisan tangan dari direkturnya yang juga seorang trainer graphology.
  • Keenambelas, Ikut paket kelas Basic dan Advance sekaligus, ada harga spesial <3
  • Ketujuhbelas, bisa memilih ikut jadwal di hari kerja atau akhir pekan.

Ada 2 tingkatan kelas dalam training Public Speaking yang diadakan oleh GPS: Basic dan Advance. Di kelas Advance konon diajarkan tentang rahasia tips trik tampil yang kece badai. Kelas Basic khusus untuk yang ingin belajar tampil di khalayak ramai, sementara Advance untuk mereka yang ingin meningkatkan “performa” tampilan mereka seperti tips berpakaian, tips slide presentasi, dan hal lain yang lebih advance.

Itu yang saya rasakan sendiri. Untuk kelebihan dan info lengkap tentang training Public Speaking bisa langsung cek ke webnya saja www.gpssbandung.com dan untuk tanya-tanya, baiknya langsung ke kantor PT. Ganesha Sentra Perubahan/GSP (nama perusahaannya) di Jalan Tubagus Ismail no. 5D lantai 2 untuk mendapatkan presentasi lengkap mengenai training ini ^_^

-paragraf pembukanya panjang banget ya. Hehe. Tak apa lah. Saya masih senang bercerita jadi begitulah.

Begitu aja kesan saya terhadap training Public Speaking Basic yang diadakan oleh Ganesha Public Speaking. Jika teman-teman tertarik tahu lebih jauh, di atas sudah saya sebutkan kontaknya ya 😉

Ganesha Public Speaking Bandung

SStt.. Denger-denger ada GPS Cabang Cirebon juga lho.. Makin sukses deh buat GPS dan PT. GSP ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.