Cinta itu Mengikhlaskan

Diskusi saya dan suami kemarin malam terkait materi yang akan disampaikan di acara Genetika Merajut Cinta, inSyaAllah 15 September mendatang di Jakarta, membawa kami pada sebuah obrolan menarik. Apa sih obrolannya? Makanya ikut ya ke acara 15 September nanti 😀

Nah, berbicara tentang merajut cinta.. Bagi beberapa pasangan mungkin hal ini mudah dan sederhana. Tapi bagi pasangan lain, mungkin butuh upaya lebih. Apapun jenis pasangan anda, tapi kita perlu sepakat bahwa cinta yang tulus ibarat kasih Allah pada manusia. Ianya memberi terus tanpa meminta. Adapun ibadah lebih merupakan kebutuhan kita akanNya.

Saat kami mendiskusikan tentang keikhlasan dalam cinta, pikiran kami sama-sama bermuara pada satu surah dalam alQuran yang memiliki nama serupa. Surah al-ikhlas di dalamnya tak ada satupun kata ikhlas disebut melainkan hanya terdiri dari pernyataan bahwa Allah Mahaesa, Allah tempat bergantung, tak satupun menyerupaiNya.

CINTA SEJATI itu Cinta yang TULUS 
dan berani mengikhlaskan 

Maka cinta sejati adalah cinta yang tulus, memberi tanpa mengharapkan balasan selain balasan kebaikan dari Sang Mahacinta. Ia berani mengikhlaskan. Mengikhlaskan diri untuk taat pada Sang Mahacinta. Menerima seluruh syariatnya. Termasuk perintah untuk taat pada suami, tanpa tapi selama tidak melanggar syariat.

Sehingga saat suami meminta untuk resign, maka dengan niat taat, resign lah. Saya pernah berada di titik itu, beberapa kali. Dan keberkahannya berbeda saat “sekadar taat suami” dengan “taat pada suami karena itu yang disuruh Allah. Sehingga taatku padamu wahai suami, adalah interpretasi ketaatanku pada Allah dan ekspresi cintaku padamu sebagai sosok yang menjalankan kewajibanmu pada tuhanmu atas diriku”.

Bagi teman-teman yang sedang galau untuk resign atau tidak, istikharahlah. Meski saya tidak berada di posisi teman-teman saat ini, tapi saya pernah tahu bagaimana rasanya berhenti dari sebuah pekerjaan yang menjadi jalan rezeki selama bertahun-tahun, atau menarik diri dari sebuah kegiatan yang membawa kebahagiaan bagi saya saat itu.

Kembali berbicara tentang merajut cinta. Cinta yang ikhlas, sebagaimana surah al-ikhlas menyiratkan, senantiasa menjadikan Allah sebagai tujuan utama. Maka setiap ekspresi cinta, setiap ikhtiar kita selalu bermuara pada mengejar keberkahan dari Sang Mahacinta.

Pelajarilah ilmu tentang pasangan agar dapat bersama bergandengan tangan mendidik generasi yang dititipkan Allah pada kita. Pelajarilah ilmu tentang parenting sebagai ikhtiar membangun peradaban masa depan yang menjadi interpretasi atas ayat “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.“. Dst..

Surah al-ikhlas juga mengisyaratkan agar saat merajut cinta, kita menjadikan hanya Allah satu-satunya tempat bersandar, tempat meminta tolong dalam perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga. Bukan bersandar pada satu sama lain antara suami-istri dan anak. Ia mengisyaratkan untuk memohon padaNya saja. Memohon kesabaran saat ada luka dan kesulitan, memohonkan hati yang syukur saat kebaikan dan suka hadir di tengah kehidupan.

Maka.. mari kita hadirkan cinta sejati dalam kehidupan yang kita jalani. Tulus dan berani mengikhlaskan.

Wallahu a’lam.

*fyuh, lama ga nulis disini ya. Kangen banget asli..

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspitaFacebooktwitterpinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: