Coba-coba Beralih ke Menspad

Jaman semakin modern tapi gaya hidup dalam perhatian saya sedang kembali ke “alam”. Seperti kembali ke masa kehidupan jaman dahulu kala saat orang-orang tua kita serba memanfaatkan alam tanpa tergantung pada kebanyakan barang yang diproduksi. Termasuk dalam penggunaan popok kain yang kemudian merambat pada penggunaan pembalut dari kain.

Ingatan saya terlempar pada masa SMP. Kala itu teman perjalanan saya, saya menyebut demikian karena dia adalah teman yang selalu barengan saat berangkat dan pulang sekolah, dia bercerita bahwa dirinya tidak menggunakan pembalut sekali pakai. Alasan dia saat itu sederhana saja, karena tidak ada uang untuk membeli pembalut. Sehingga setiap kali haid, dia menggunakan sobekan kain sinjang (biasa digunakan untuk jarik atau gendongan) yang dilipat. Jika sudah sekian jam, ia ganti dan kain itu dicucinya.

Saya yang mendengar cerita itu sesaat merasa bingung. Musti rajin kalau begitu ya. Gimana kalau ga kering? Padahal kain sinjang sendiri mudah kering. Pernah juga dia bercerita tentang insiden yang cukup bikin saya nyengir. Ah, pikiran anak-anak sekali karena saat itu memang belum mengalami.

Teringat akan kisah itu, saat kemudian mengalami masa-masa haid, saya berpikir sebenarnya teman SMP saya –yang sekarang entah ada dimana- benar-benar rajin. Tak terbayang harus berganti sekian jam sekali, mencuci dan memakainya lagi. Sesaat saat berpikir, agak jijik juga.

Hingga saat saya memiliki anak, pertama kali saya berkenalan dengan popok kain modern (dikenal dengan clodi) di usia anak pertama menginjak 6 bulan. Meski anak pertama menggunakan popok tali tradisional di 3 bulan kelahirannya, tapi saat bepergian ia sudah mengenal popok sekali pakai (pospak). Alhamdulillah keluarga masih termasuk yang berpikiran “ga apa cucian popok banyak, kasihan kalau pakai pospak masih bayi”. Ya meskipun kemudian hukum itu tidak berlaku di anak kedua. Hehe

Orang yang tahu saya membeli clodi sebagian mengernyitkan dahi, “ih mahal banget”. Iya sih memang. Clodi saat itu mahal pake banget. Kalau sekarang mah sudah pada sering banting harga. Meskipun secara performa, harga tidak berbohong. Hoho..

Tapi selentingan macam itu ga terlalu saya pedulikan. Sama saja ketika saya memilih membeli pompa ASI, coolerbag dan botol kaca untuk stok ASI Perah si sulung agar tetap mendapat ASI kala saya tinggalkan untuk kuliah dan ketika saya harus ke luar kota untuk mengurusi sisa-sisa pekerjaan yang belum selesai.

Meski sudah mengenal clodi, tapi saya lupa kapan tepatnya pertama kali saya mendengar istilah pembalut kain (atau dikenal dengan menspad). Hanya saja seingat saya, menspad saya kenal ketika anak pertama berusia sekitar 1 tahun. Saat itu belum tertarik menggunakan menspad meski anak sudah menggunakan clodi dan merasakan sendiri hemat dan capek ber-clodi 😀 eh saya jujur lho. Capek karena kan cucian bertambah. Hehehe..

Ketika akan beralih dari pembalut sekali pakai ke menspad, saya ragu. Bagaimana kalau susah mencucinya? Kan itu noda darah. Ah nanti saja deh beralihnya. Dan qadarullah hamil anak kedua. Sayangnya saat nifas saya malah beralih pada pembalut herbal, memang nyaman juga.

Sampai akhirnya tahun ini memilih beralih setelah melirik produk jualan yang tidak pernah saya promokan karena belum difoto-foto. Hahaha.. Awalnya terpaksa, tapi setelah mencoba ternyata oke juga.

menspad anannda

Menspad Anannda menjadi menspad pertama yang saya pakai. Model menspad-nya sendiri beda dari menspad lain yang pernah saya temui. Jika menspad lain seperti pembalut dengan wing pada umumnya, maka menspad Anannda lebih mirip celana dalam dengan gesper karet di bagian pinggang.

Pun untuk segi ukuran, jika menspad lain ukuran reguler dan maxi disesuaikan dengan kemampuan menampung volume cairan, maka ukuran pada menspad Anannda lebih pada ukuran tubuh penggunanya. Sebenarnya ukuran ini disesuaikan dengan kemampuan menampung juga, tapi bagi saya akan lebih akurat jika disesuaikan dengan bobot tubuh pengguna.

Ribet? Iya banget ribet. Harus punya banyak menspad? Antara iya dan tidak. Tapi kalau punya banyak juga harga menspad tidak semahal clodi kok. Hehehe..

Ribet karena setelah ganti sebaiknya dicuci. Atau kalaupun tanggung, bisa direndam air saja lalu dicuci setelah menumpuk sekalian supaya memudahkan juga saat dikeringkan pada spinner mesin cuci. Jika tidak memiliki mesin cuci, memang lebih lama keringnya tapi dibanding insert clodi, menspad tetap lebih cepat kering.

Saya baru memegang bahan 2 merk menspad: Anannda dan GG. Dua-duanya memiliki bahan yang lembut dan hampir sama sehingga kemungkinan mencucinya pun sama mudah sehingga noda darah insyaallah bisa mudah hilang asal begitu ganti langsung direndam air. Jika noda sulit hilang, gunakan sabun batang atau sabun pencuci piring.

Hanya saja dari segi warna, GG lebih menarik. Bahan outer (yang menahan agar tak mudah tembus) memiliki warna-warna soft dan bagian dalam berwarna putih polos. Model mirip pembalut biasa tapi ada tambahan wing untuk dipasang pada celana dalam.

Menspad Anannda sendiri memiliki warna outer (dan ada yang motif) yang bisa dibilang agak norak. Tapi bagian dalamnya cenderung gelap sehingga noda darah tidak terlalu nampak.

menspad
Foto ini saya ambil dengan mode terbalik. Bagian inner yang berwarna merah, outer yang warna hitam. Karet elastisnya yg di atas itu, warna hitam

Bagi saya, ukuran maxi lebih enak digunakan sementara ukuran reguler jadinya ngepas banget. Jadi jika teman-teman ingin menggunakan menspad Anannda, saya sarankan konsul dulu sama penjualnya ya, bobot tubuh.

Saya sendiri owner Belanja Keluarga yang merupakan Agen produk Anannda. Hanya saja lebih sering menggunakan sistem PO produksi terutama untuk reseller. Antrian produksi biasanya 2 minggu setelah PO ditutup.

Sudah dulu ah catatannya. Yang pasti setelah berulang kali menggunakan menspad, masih nyaman dan sudah tidak mengeluarkan dana untuk membeli pembalut sekali pakai ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *