Dia Hanya Butuh Waktu

Adakah di antara anak anda yang “pemalu”? Ketika bertemu orang baru atau teman baru, dia nampak malu, ragu untuk bergabung. Jika dia ada di dekat ibu, dia akan lebih memilih untuk berada di sekitar ibu daripada langsung melebur dengan kenalan barunya. Baru setelah disemangati atau saat dia merasa siap bergabung, dia akan turut berbaur.

Bagaimana perasaan ibu ketika itu? Ketika misal ada kumpul ibu-ibu atau arisan yang membawa anak. Di saat anak lain dengan mudahnya melebur, anak kita malah nempel. Apalagi jika ternyata antara anak-anak itu sudah saling kenal, sementara kita pendatang baru. Rasanya malu dan campur aduk.

Sulung saya nampaknya salah satu dari anak “pemalu” itu. Ketika ia di tempat baru, ia akan lebih memilih berada di samping saya atau bermain bersama adiknya. Saya yang sering diingatkan tentang sikap anak, terkadang dapat menyikapinya dengan biasa saja. Memberi dia waktu untuk memperhatikan keadaan. Tapi tak jarang juga saya terprovokasi, “panas” melihat sikapnya dan membandingkan dengan orang lain (meski tak mengucapkannya langsung pada si sulung tentang perbandingan tersebut).

Tapi harus terus belajar melatih diri. Tidak boleh menghakimi dan melabeli dia dengan kata “pemalu” karena akan mengarah pada hal negatif. Kecuali malu dalam urusan syar’i semisal tentang aurat atau adab.

Pernah satu saat berbincang dengan suami, jangan ucapkan hal negatif pada anak-anak termasuk mengenai sikapnya yang kita sudah tahu sendiri sikap itu hanya sikap kehati-hatian anak. Jika dia sudah kenal, pasti dia akan berbaur. Suami berpesan, jangan sampai apa yang terjadi pada dirinya, terulang pada diri anak kami.

Suami dulu seorang yang sebenarnya “suka tampil” alias “pamer” kemampuan (dalam arti positif) hanya saja beliau butuh waktu untuk benar-benar menampilkan kemampuannya. Dan beliau butuh waktu untuk bisa berbaur dengan orang baru. Sayangnya masyarakat terkadang tidak merespon dengan baik kemampuan itu sehingga berulang kali beliau dicap sebagai “Alim itu pemalu (dalam arti yang sangat luas)” dan tidak diberi ruang yang cukup untuk mengekspresikan kemampuannya secara maksimal. Pelabelan berulang akan secara otomatis masuk alam bawah sadar seseorang sehingga akhirnya suami tumbuh menjadi sosok pemalu sekaligus kurang percaya diri padahal sebenarnya dia mampu.

Suami tidak ingin anak-anak kami tumbuh dengan pelabelan negatif seperti itu. Maka kami terus belajar menahan untuk tidak berkomentar negatif pada sikap anak, apalagi di depan orang banyak.

Ketika kami mudik misalnya, sulung kami Danisy cenderung berhati-hati ketika bertemu orang dan terkadang lebih memilih pergi lalu main di luar. Sementara anak kedua kami, Azam lebih mudah berbaur dengan para tamu yang datang bahkan bersedia salim sehingga sudah tentu tamu akan menganggap Azam lebih ramah dibanding kakaknya.

Danisy sendiri memang tidak terlalu ramah, tapi dia tidak kelewat jutek juga. Hanya sedikit ja-im. Mirip sama abinya sehingga Alhamdulillah mertua memahami karakternya meski terkadang kami tegur juga agar tidak melabeli dengan perkataan yang sebenarnya kami tahu itu hanya basa-basi saja tapi kenyataannya anak belum bisa membedakan hal tersebut.

Pada prakteknya memang jadi tantangan tersendiri menyikapi perbedaan anak dengan sikap tenang. Kadang ketika mood tidak baik, ya ada masanya saya iri pada anak lain, membandingkan, memaksa dia untuk sempurna, tidak merespon prestasinya dan tindakan buruk lainnya. Astagfirullah.

Jadi pe-er bagi saya sebagai orang tua sebenarnya bukan sekadar mencari tahu tentang anak tapi juga mencari cara agar sikap positif dan tenang itu selalu ada. Tentu saja dibarengi sikap waspada jika ternyata ada yang salah dalam proses tumbuh kembang anak.

Dia hanya butuh waktu. Sebagai orang tua kita tidak bisa dan tidak boleh memaksa anak untuk menjadi sempurna karena kita pun bukan orang tua yang sempurna. Mari dampingi anak agar tetap tumbuh dalam jalurnya, dan kita pun ikut tumbuh bersama.

anak

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *