Dialog Iman

Anak-anak itu polos. Mereka terlahir dalam fitrah-fitrah dari Allah. Fitrah yang membawanya cenderung mudah menerima kebaikan.

Maka.. di usia dini-lah saat-saat penting menanamkan nilai dalam keluarga. Baik nilai keimanan, nilai dari kisah-kisah yang membangun karakter yang Allah siapkan dan nilai kearifan lokal (selama tidak bertentangan dengan syariat).

Dalam perjalanan penguatan nilai ini, penting adanya keselarasan antara pendidikan di rumah dan di sekolah. Sebab keselarasan akan membantu pondasi anak semakin kokoh.

Ibarat akar, keselarasan antara lingkungan internal keluarga dan lingkungan eksternal termasuk sekolah, seperti siraman dan pupuk yang pas untuk tumbuh kembang fitrah anak. Sehingga harapan untuk tumbuhnya kalimat yang baik dalam diri anak sehingga ia menjadi pohon yang baik, dengan akar yang teguh, cabang menjulang ke langit dan memberikan buat setiap musim dapat lebih mudah ikhtiarnya.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS Ibrahim ayat 24-25)

Pelajaran tentang nilai kali ini saya dapati dari salah seorang santri kami di Kuttab Bandung Barat. Kala itu hari Jumat, menjelang pulang ia nampak murung. Semula saya kira itu akibat sakit gigi yang ia keluhkan saat jam kudapan. Namun ia bersikeras akan bercerita usai pulang.

Usai teman-temannya keluar satu per satu dan hanya ia yang tertinggal, saya mendekatinya. Ia pun bercerita. Tentang keluhan sikap teman-temannya yang masih perlu belajar adab, kurang taat pada ketua kelas, sulit dirapikan, dll. Anak ini sendiri memang bukan tipe yang juga rapi sebetulnya. Tapi ketika ia berkata, “aku sakit hati, ustadzah. Teman-teman disini tidak seperti di sekolah sebelumnya (maaf sensor nama sekolahnya). Mereka sulit sekali diatur. Tidak taat pada amir, tidak mau diam” hati bergetar. Ya Allah, anak sekecil ini memang masih suci.

Seraya mengelus punggungnya, saya berbisik. “Tidak semua anak sudah diajarkan seperti yang Aa dapatkan. Mereka disini untuk belajar. Aa yang sudah pernah belajar, jadilah contoh untuk mereka. Teman-teman Aa di sekolah sebelumnya, mereka sudah belajar lebih lama. Sedangkan teman-teman disini, mereka baru belajar 4 hari. Tentu akan berbeda”

“Tapi teman-teman di sekolah sebelumnya ada yang jahat juga, mereka tidak taat. Mereka banyak berdosa. Aa tidak suka.” mendengar kalimat ini, campur aduk rasanya. Ya ampun, anak 6 tahun pemilihan katanya MasyaAllah. Hihi..

“Aa ingin berhenti sekolah aja ustadzah. Aa ga betah. Aa ga mau disini lagi.” mencoba menyelami dunia anak memang tidak mudah. Tapi Allah tuntun lisan untuk berdiskusi dengannya. Alhamdulillah Hasna juga pas lagi bisa dikondisikan. Bersamaan dengan guru quran kami berdialog.

“Aa pernah dengar perjuangan awal Rasulullah? Berapa lama Rasul berdakwah di Mekkah?” tanya saya perlahan. Ia terdiam. “13 tahun A. Rasulullah awal berdakwah di Mekkah itu 13 tahun. Berapa banyak pengikut beliau kala itu?” saya menjeda. Ia masih diam. “Sedikit.” saya lanjutkan.

“Aa, sudah berapa lama di Kuttab Bandung Barat?” ia belum mau bersuara. “4 hari.”

Berjeda, saya lanjutkan. “4 hari bandingkan dengan 13 tahun. Jika Aa berhenti sekarang, bagaimana saat Aa bertemu Rasulullah nanti? Bagaimana jika Rasul bertanya, “Aa berapa lama dakwah di Kuttab Bandung Barat? 4 hari? Dan Aa menyerah?” Aa mau bertemu Rasulullah dalam kondisi Aa menyerah?” ia menggeleng.

“Tapi Aa lelah, ustadzah” (ini asli kalimat dia lho. Keren kan, maSyaAllah) “Rasul pun dulu merasa lelah. Ustadzah juga lelah. Ustadzah Listiya juga lelah. Tapi ini jalan dakwah kita.”

“Tapi ustadzah kan baru 4 hari di Kuttab Bandung Barat. Kalo Aa kan disini 4 hari, di sekolah sebelumnya lama. Kenapa sih harus ditambah? Apa Aa sekolah di rumah aja ya? Atau ga usah sekolah aja?”

Subhanallah. “Allah menakdirkan Aa ada disini itu berarti ini bagian dari dakwah Aa. Kalaupun Aa meninggalkan jalan ini, akan ada orang lain yang menggantikan Aa. Aa mau digantikan di jalan dakwah?” dan ia pun menggeleng. Terharu.

“Percaya deh sama ustadzah, kalau Aa tetap di jalan ini, kelak ketika akhirnya teman-teman beradab, Aa dan teman-teman bisa duduk diam saat berada dalam majelis dan kebaikan-kebaikan di masa depan yang terjadi, Aa bisa tersenyum dan ketika bertemu Rasulullah Aa bisa dengan bangga bilang, “Ya Rasulullah, aku sudah berjihad disini. Alhamdulillah teman-teman sekarang jadi muslim yang baik. Maka saksikanlah bahwa aku adalah umat yang dapat engkau banggakan” iya mulai mengangkat wajahnya. “Jadi, Aa siap melanjutkan perjuangan disini?” ia mengangguk. “Aa siap lebih semangat lagi mengajak kebaikan ke temen-temennya dan tidak menyerah?” kali ini ia menjawab, “Siap”

“Alhamdulillah. Sampai ketemu lagi Senin ya A. inSyaAllah” ia pun berpamitan. Mencium tangan, lalu mengambil tasnya dan pulang. Aah, semoga semangat jihadnya selalu dalam ilmu. Semoga kita semua senantiasa dalam lindungan Allah untuk bisa bertahan kuat dalam jalan dakwah kita masing-masing.

Dialog ini menyadarkan saya pentingnya memperluas khazanah tentang kisah agar karakter anak terbangun di atas keimanan. Tidak hanya berkarakter baik tapi juga berkarakter iman yang kuat.

Wallahu a’lam.

Mohon maaf mesti mengendap berhari-hari di draft karena qadarullah weekend kemarin sakit jadi tidak sanggup meneruskan tulisan dan berlama-lama online. Semoga ada pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspitaFacebooktwitterpinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: