Diamnya Anak dan Luka Orang Tua

Diamnya Anak dan Luka Orang Tua

Menyandang gelar bernama ayah atau ibu adalah sebuah fase berikutnya dalam kehidupan sepasang suami istri. Ada harapan masa depan yang jauh lebih baik dicanangkan untuk kehidupan sang anak.

Namun ada hal yang terkadang tak disadari oleh diri setiap orang tua, bahwa ia tetaplah dirinya yang sudah terbentuk selama berpuluh tahun. Dengan peran baru.

Setiap ayah maupun ibu selalu mengusahakan hal yang jauh lebih baik untuk anaknya. Dengan sifat diri yang lama. Padahal selayaknya ketika ada peran baru yang dijalankan, maka kualitas diri pun harus dinaikkan.

Salah satu hal yang sering terlupa adalah luka lama yang seolah-olah sudah tertutup sempurna. Tapi di kala bagian luka itu tersentuh, ia tetap menghasilkan rasa tak nyaman bagi pemiliknya.

Maka kemudian kita menjadi sosok ayah/ibu yang hampir sulit menerapkan teori-teori mengenai sikap terhadap anak. Ayah, ibu, anak memiliki fitrah kebaikan. Segala sifatnya selalu mengarah pada keinginan untuk berbuat baik. Dan ayah ibunya lah yang kemudian menjadi orang pertama yang dianggap sebagai sumber contoh kebaikan. Tak peduli apapun yang ayah ibu lakukan, bagi anak semuanya adalah benar.

Anak terlahir dengan sifat rasa ingin tahu yang besar. Terkadang ia mencoba sesuatu yang ia lihat dari lingkungannya, menganggapnya sebagai sebuah kebaikan yang tidak perlu dipertanyakan.

Lalu ayah dan ibu yang sudah berpuluh tahun hidup mendahului mereka memaksa anak agar mengikuti pemikiran yang bahkan belum sampai sepertiganya ia alami. Dengan mudahnya ayah ibu menegur anak dengan cara yang kasar. Menganggapnya sebagai anak nakal. Tanpa ia pernah diberi tahu dengan lembut bahwa hal yang ia lakukan salah, solusinya bagaimana lalu memaafkan dan beri kesempatan ia belajar. Karena toh itu kesalahan pertamanya. Tidak layak jika kita menegur kesalahan dengan fatal lalu mengecap dengan label yang tak semestinya.

Diamnya anak saat kau bentak, bisa jadi karena ia sedang mencoba menyimpan luka yang dirasa. Ia tak tahu apa yang mesti dilakukan. Ia bahkan takut membela diri, mengatakan yang sebenarnya ia pikirkan. Ia takut jika tangisannya justru akan membuat sang orang tua tercinta menambahkan bentakan padanya. Ia khawatir jika ayah ibu akan menambah hukuman dengan cap “bandel” bahkan yang lebih kasar.

Ayah, ibu. Saat ia terdiam, belum tentu karena ia paham. Tapi bisa jadi karena ia mencoba memendam torehan rasa sakit di hatinya. Yang ia butuhkan adalah pelukan. Memastikan diri bahwa ayah ibu aman untuk menjadi tempat bercerita tentang kesah dan khawatirnya. Tentang apa yang sedang ia pendam saat ayah ibu memarahinya. Untuk menyelesaikan luka yang tertoreh tanpa direncanakan.

Terkadang orang tua yang belum selesai dengan luka lamanya, mencoba menurunkan luka itu pada sang anak. Entah untuk tujuan apa. Sengaja ataupun tidak.

Tapi saya yakin, tak ada satu orang tua pun yang ingin menyakiti anaknya. Apalagi sengaja bermaksud agar sang anak merasakan hal sama dengan yang pernah ia rasa. Sayangnya teori force power itu berlaku. Semakin kita mencoba untuk tidak menjadi orang tua yang buruk dengan menghindari sifat (dan luka) menyakitkan di masa lalu, justru diri malah ditarik pada pusaran sikap yang sama. Seringkali tanpa sadar. Saat kita marah misalnya.

Maka satu-satunya tugas ayah dan ibu untuk memutus rantai luka busuk itu adalah dengan menyembuhkannya. Hingga saat bagian yang terluka itu tersentuh, ia takkan membuat ayah ibu berteriak lebih tinggi dari yang biasanya. Terimalah bahwa luka itu ada, bukan mencoba tegar mengatakan bahwa luka itu sudah tidak terasa.

Kemudian meski perih dan butuh waktu cukup lama untuk menyembuhkan luka, jalanilah. Agar ayah ibu dapat menjalankan peran baru ini dengan lebih nyaman dan lapang. Tidak ada lagi bentakan yang berlebihan karena ketidaktahuan anak. Tak ada lagi luka yang ditorehkan lebih dalam hanya karena kesalahan tak sengaja oleh anak. Hingga orang tua dan anak dapat sama-sama menjalankan peran dengan lebih maksimal. Tanpa kemarahan berlebihan dan luka yang diturunkan.

Selamat menikmati peran baru ini wahai ayah ibu. Mari kita bersama menyelesaikan segala urusan masa lalu yang belum selesai. Dan menatap masa depan dengan lebih ringan tanpa membawa beban dari masa silam.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: