Doa yang Diulang dan Perjalanan Kehidupan

Setelah kita membahas tentang doa yang diulang di artikel ini, ada tambahan pertanyaan dan bahasan di grup mengenai “apa sih hubungannya surah alfatihah dengan bahasan STIFIn yang sedang kita diskusikan?”. Berikut lanjutan jawabannya.

Lalu apa kaitannya surah alfatihah dengan STIFIn? Bahwa faktanya, menggembleng diri (dan keluarga) pun adalah bagian dari perjalanan kita menuju pribadi terbaik di hadapan Allah. Dengan apa? Dengan memaksimalkan potensi perbekalan yang sudah Allah berikan, baik untuk diri maupun keluarga kita. Pasti ada “sesuatu” kenapa saya, misalnya diciptakan menjadi seorang Feeling extrovert.

Ga enak lho jadi Fe. Mukanya muka curhat, kayaknya orang tuh pengennya curhat aja ngeliat orang Fe. Belom lagi dianggap tebar pesona dan berakhir dengan banyak yang patah hati merasa diPHPin padahal mah ga pernah tuh ngerasa tepe-tepe begitu. Tapi ya itu kalo kita melihat dari sisi “ga enak”nya. Maka saya coba terus gali, kenapa sih saya dijadikan anak sulung, memiliki personality genetic Feeling extrovert dengan kehidupan yang justru traumatis di sisi “kasih sayang”. Ada yang salah nih sama takdirnya Allah.

Eit, tunggu dulu. Benarkah takdir Allah itu salah? Lalu dimana keimanan kita terhadap Qadha dan Qadar? Baik buruknya takdir, sebagai seorang muslim seharusnya kita terima dengan lapang. Disana terletak keimanan pada Allah Sang Pemilik Semesta.

Kasarnya, terima aja dulu hasil tesnya. Lalu pelan-pelan pelajari. Runut kehidupan kita sejak kecil, jika menjadikan diri saya sebagai contoh, maka saya merunut segala kejadian sejak kecil hingga saat ini. Mengecek sisi Feeling saya dimana sih. Yang ga sesuai dimananya, dan kira-kira kenapa? Benarkah sangat tidak sesuai atau ketidaksesuaian itu justru karena tempaan lingkungan yang membuat kita tidak mampu atau tidak diizinkan mempertunjukkan diri sebagai seorang Feeling extrovert.

Lha ya kok kayak maksa sih? Emang. Hehe. Maksa untuk menggali diri lebih dalam. Maklum kita yang sekarang kan hasil perpaduan 20% genetik dengan 80% lingkungan. Wajar dong kalo untuk bener-bener menyadari yang 20% itu butuh effort lebih jauh. Begitu pula dalam mengenali anak-anak.

Maka coba deh jalani kehidupan sebagai mesin kecerdasan kita, sebagai personality genetic kita. Jika awal-awal ga nyaman, wajar. Nah setelah terus menerus mencoba, apakah tetap nyaman atau justru galau? Galaunya kenapa?

Kalau pengalaman saya pribadi, lama kelamaan akhirnya nyaman. Setelah menerima dulu tentunya. Dan bahkan dari situ juga cara saya merunut hal-hal negatif untuk dinetralkan.

Jadi yuk sadari kalau perjalanan kita ini memang tidak mudah. Lha doa yang sering diulangnya kan begitu. Jadi Allah akan secara perlahan membawa kita di jalan itu. Tinggal kitanya siap ngga menjalani jalan yang ditunjukkan Allah itu?

Semangat ya manteman. Hayu kita saling mendoakan supaya dikuatkan melewati perjalanan ini..

Wallahu a’lam..

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *