Dukungan Bagi Seorang Ibu, Bahan Bakar Cinta Baginya

Demi menjaga mood, seorang ibu terkadang harus belajar mendelegasikan pekerjaan yang sekiranya bisa diserahkan atau memilih prioritas mana yang perlu dan urgent diselesaikan dan mana yang bisa ditunda terlebih dahulu. Memiliki bayi dengan kakak usia 7 tahun dan 4 tahun cukup menjadi sebuah situasi dimana emak kudu waras. Heuheu.

Membaca berbagai status para ibu yang berseliweran di timeline alias linimasa akun facebook, terkadang saya menangkap ada dilema yang dialami oleh beberapa ibu. Biasanya terkait pekerjaan rumah, mencari penghasilan tambahan (entah karena nafkah dari suami kurang atau apapun itu, saya kurang paham), memasak atau beli makanan jadi di luar, sifat perfeksionis, dan lain sebagainya.

Saya sendiri paham bahwa tidak mudah untuk seseorang yang perfeksionis menurunkan standarnya sebab suami termasuk yang perfeksionis. Awal-awal nikah beliau sering uring-uringan jika melihat cara saya bekerja.

Rumah yang bagi saya sudah rapi, menurut standar beliau masih jauh dari kata “bagus”. Akhirnya bisa ditebak, kami berselisih bahwa saya sudah berusaha merapikan serapi mungkin dan itu sudah di atas standar.

Setelah melakukan tes STIFIn barulah kami sadar bahwa ada perbedaan yang memang sangat bertolak belakang antara saya dan suami. Suami yang Thinking sangat peka penglihatannya sedangkan saya yang Feeling cenderung tidak terlalu peka dengan kerapian seperti itu.

Meskipun pada beberapa kasus, saya lebih rapi dari beliau. Tapi secara keseluruhan, beliau lebih peka. Akhirnya kami sepakat mengambil jalan tengah. Saya memperbaiki, suami menurunkan standarnya.

Kembali pada sifat perfeksionis, setelah menjadi ibu -lebih tepatnya setelah berkeluarga, dan tak hanya berlaku pada seorang istri sebetulnya- kita akan dihadapkan pada realitas untuk menyesuaikan diri dengan kegiatan baru dengan keluarga baru. Apalagi adaptasi memiliki anak, bertambahlah tugas dan kewajiban sebagai seorang individu.

Bentuk Dukungan untuk Seorang Ibu

Dengan semakin maraknya sosial media dan terbukanya akses internet di berbagai kalangan, bermacam informasi dengan sangat mudah kita dapatkan. Termasuk berbagai komentar pun akan dengan mudah masuk ke kehidupan kita. Maka kontrol dalam diri perlu diperkuat.

Tak jarang saat ada seorang ibu membuat status yang kurang lebih isinya seperti keluhan atau curhat, berbagai komentar baik berupa dukungan maupun yang kontra akan masuk. Maka jika tidak kuat dengan hal tersebut, disarankan untuk para ibu agar tidak mengumbar urusan internal ke luar.

Dukungan bagi seorang ibu terkadang sederhana. Suami mengizinkan istri mencuci dengan mesin, memasak nasi menggunakan magicom, sesekali jajan di luar. Dan tentu akan sangat membahagiakan jika suami memfasilitasi itu semua. Seperti saat jalan-jalan di Jakarta lalu berinisiatif mencari tempat makan di blok M saat makan siang tiba. Hehe.

Sebagai seorang istri, yang saya rasakan memang dukungan suami terhadap mood istri itu memiliki persentase yang luar biasa. Meskipun dukungan lingkungan secara menyeluruh juga diperlukan, akan tetapi dukungan suami itu menjadi peran kunci menurut saya mah.

Sebab jika suami sudah sejalan, rintangan dan tantangan dari pihak luar entah itu keluarga besar, tetangga, teman, kerabat dsb, tidak akan terlalu membuat seorang ibu tertekan. Ia memiliki tempat bercerita, bersandar dan berbagi kekuatan.

Suami perlu sadar bahwa dirinya dapat menjadi sumber energi besar bagi seorang istri. Dan sebaliknya, istri pun adalah sumber energi besar bagi seorang suami.

Teringat saat ada acara kopdar di Jakarta beberapa tahun lalu. Suami tahu bahwa saya butuh refreshing, bertemu langsung dengan teman yang sudah kenal lama di dunia maya akan membahagiakan sekali. Sayangnya ia tak dapat menemani saya pergi sementara saat itu kami sudah memiliki 2 putra, satu bayi dan satu balita. Terbayang jika berangkat sendiri.

Akhirnya suami mengizinkan saya berangkat dengan mengajak mamah turut serta. Semata memastikan saya tidak pergi sendiri dan ada teman untuk bantu jaga anak-anak.

Pertemuan seharian dengan teman dunia maya di area tempat makan di blok M itu cukup menjadi mood booster saya selama berhari-hari. Suami paham saya sedang jenuh karena kondisi saat itu saya yang terbiasa bekerja di luar dan kuliah, akhirnya tinggal di rumah.

Ibu, Tetaplah Menjadi Dirimu

Menjadi ibu artinya kita menjadi tumpuan perhatian dalam keluarga. Suami dan anak-anak membutuhkan ibu hadir untuk memenuhi hati mereka dengan kasih sayang. Ya, sebetulnya kebutuhan anak dan suami adalah ibu hadir dengan kasih sayangnya.

Akan tetapi, karena tumbuh di budaya timur kita terbiasa mengerti bahwa ibu melakukan segala pekerjaan rumah tanpa harus memikirkan diri sendiri. Istilahnya, berkorban untuk anak dan suami. Berada di balik kesuksesan mereka.

Tidak ada yang salah dengan pemahaman seperti itu. Hanya saja terkadang hal tersebut membuat seorang ibu kehilangan dirinya.

Meskipun berdasarkan pengalaman saya pribadi, memang setelah menjadi istri dan ibu rasanya panggilan jiwa lebih fokus pada mendahulukan mereka dibanding diri sendiri. Akan tetapi suami sering mengingatkan bahwa saya berhak memiliki waktu untuk memikirkan diri sendiri. Agar tetap perform sebagai pribadi dan mampu menghadirkan nyala api cinta dari dalam diri.

Saat acara kopdar seperti saya sebutkan sebelumnya, suami nitip pesan: “ade nikmati waktu disana” dan saya yang mengajak mamah turut serta jadi teringat untuk membuat mamah menikmati waktu juga. Mengajak mamah mengitari tempat makan di blok M bukanlah hal mudah.

Dengan berbagai alasan menolak makan. Mungkin khawatir uang yang dikeluarkan banyak dan lain sebagainya. Setelah agak dipaksa barulah mamah bersedia memilih-milih menu makan disana. Ya, ternyata begitu kalau sudah jadi ibu ya. Memikirkan banyak hal dan lebih baik menahan keinginan.

Maka saya dan suami sepakat, jika ada yang saya inginkan maka harus dikomunikasikan meskipun tidak semuanya dapat dipenuhi. Setidaknya saya sudah mengeluarkan “uneg-uneg” dan suami tahu isi hati istrinya.

Bicarakan dengan suami untuk saat-saat kita menikmati waktu. Tidak harus bepergian. Sekadar menikmati camilan kesukaan, menyisihkan uang untuk jajan di sekolah anak-anak meskipun jajanan murah meriah tapi memang kita suka, atau hal-hal kecil yang kita bahagia melakukannya dan dapat menjadi salah satu bahan bakar nyala api cinta dan semangat dalam diri kita.

Jadi bu, tetaplah menjadi dirimu dan teruslah menjadi lebih baik. Berbuat baiklah pada orang lain tapi jangan lupa berbuat baik pada dirimu sendiri.

Selamat menyalakan api cinta dan menyebarkannya. Be a loving care mom ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *