Emosi itu Menular, Kenali Penyebab dan Solusinya

Emosi itu bervibrasi. Emosi itu menular. Saat ada kita marah, orang sekitar akan merasakan bahkan “tertular” kemarahan kita. Dan efek tertular itu bisa satu diantara 2 ekspresi: ikut marah atau terdiam dengan semacam rasa bersalah.

Pagi ini pesan sebuah layanan kirim barang online dan dapet driver yang sebenarnya wajar saja mengeluhkan kesulitannya diakibatkan sms patokan rute yang tak sampai. Saya sudah minta maaf dan menginformasikan bahwa tadi mengirim SMS berisi patokan dan rute (hanya saja ternyata gagal terkirim), namun sang driver masih saja melanjutkan mengulang-ulang keluhan yang sudah dipahami.

Intonasi menyebabkan kalimat itu kemudian terdengar seperti marah-marah dengan nada ancaman “bisa aja saya cancel orderan”. Hmm.. Padahal tak ada yang memaksa untuk mengambil orderannya. Dan kalaupun dicancel, bukankah saya bisa mendapatkan driver lain?

Kemudian saya jadi dapet pelajaran. Ini mirip dengan keluhan kita tentang beratnya hidup ini. Bisa jadi bukan susah nyari alamatnya yang jadi masalah karena jika memang itu masalahnya, seharusnya saat saya meminta maaf dan memberikan patokan lalu ikuti saja patokan itu hingga sampai di tujuan dan selesai kan?

Mungkin bapak driver ini ada masalah lain sebelumnya, entah dengan keluarga, atau sebenarnya masalah ada pada diri yang terlalu gengsi bertanya, gengsi mencari bantuan tentang bagaimana seharusnya menyelesaikan masalah dan masih banyak kemungkinan. Termasuk mungkin sedang butuh uang untuk sekolah anaknya sehingga pikiran kalut, belum sarapan, pertama kali mengalami kejadian seperti ini (atau malah terlalu sering dan kemudian dihadiahi bintang 1-3 sehingga trauma).

Variabel Penyebab Kemarahan

Ah banyak sekali variabel yang menjadi penyebab kemarahan dan keluhan seseorang. Tidak tahu tentang diri adalah salah satu pemicunya.

Di seminar parenting Bersama ustadz Harry Santosa ada pernyataan yang menjadi input baru bagi saya. Lelaki yang tak mau terlibat aktif mengurus anak adalah mereka yang belum selesai dengan dirinya dan bisa jadi tidak bahagia dengan dirinya.

Kalimat lain dari ustadz Harry Santosa yang menjadi reminder saya adalah: lelaki yang “salah karir” alias belum selesai urusan kerjaan (belum ridha terhadap pekerjaannya) tidak akan bisa fokus mengurus keluarga. Karena lelaki adalah tipikal single tasking, butuh menyelesaikan satu per satu.

Bagi saya pernyataan ini menohok. Betapa kemudian jawaban atas fatherless country ini mulai terbuka satu per satu.

Kenapa para lelaki saat ini kurang aktif dalam dunia pendidikan anak-anak mereka dan tidak terlalu peduli dengan keadaan sang istri beserta pernikahan mereka. Salah satu jawabannya: mereka sendiri bahkan kehilangan dirinya.

Apalagi jika ditambah dengan sang istri yang tak mau mengerti, pengen “tau ada” aja. Padahal bisa jadi suami sedang sangat tertekan dan butuh pelukan hangat serta dukungan sosok terdekatnya.

Akhirnya sebab akibat ini menjadi lingkaran setan. Belum selesai di karir (salah karir) akibatnya uring-uringan ke keluarga. Keluarga tak harmonis, hubungan dengan pasangan kacau, hubungan dengan anak tak jelas hingga aliran cinta tersumbat menyebabkan tak nyaman di rumah. Alhasil uring-uringan di tempat kerja. Pekerjaan ga bener, dapet SP. Pusing, sampe rumah marah-marah, anak istri kena. Begitu seterusnya.

Jadi para istri, kasihanilah suami kalian. Berikan kehangatan dan kelembutan saat mereka pulang ke rumah.

Dan para suami, segeralah temukan akar permasalahannya lalu ajak istri dan anak-anak bersinergi mencari tahu kenapa dan harus bagaimana setelah itu.

Kenali Diri, Minimalisir Penyebab Kemarahan

Melalui konsep STIFIn inilah kami belajar lagi. Menyelesaikan satu per satu masalah dengan diri. Dibarengi berbagai ilmu healing dari para guru. Sebab STIFIn memperkenalkan “why”. Apa penyebab utamanya selain perkara kurangnya pemahaman tauhid kita.

Keruwetan lingkaran setan itu akan terbantu selain dengan belajar lagi mengenai tauhid, juga dengan belajar mengenali diri.

Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal tuhannya.

Diantara cara mengenal diri bisa dengan menggunakan tools tes STIFIn. Hasil tes STIFIn akan memetakan temasuk kelompok mana kah personaliti kita. Kemudian dari sana akan ketahuan kira-kira apa saja sih penyebab utama ketidaknyamanan kita, apa hal yang akan paling kita suka sekaligus apa hal yang mungkin menjadi salah satu pencetus utama sikap kita terhadap sesuatu.

Kemistri dan Hubungan Segilima, Kaitannya dengan Emosi

Ada setidaknya 2 hal yang perlu diperhatikan oleh suami-istri dalam memahami penyebab kemarahan: kemistri dan hubungan segilima.

Kemistri: setiap personaliti hasil tes STIFIn akan kita temukan 9 kelompok memiliki masing-masing kemistri alias orientasi hidup. Secara umum kita akan mengelompokkan ke kumpulan yang lebih sedikit bertumpu pada 5 mesin kecerdasan dengan 5 kemistri: harta, tahta, kata, cinta, bahagia.

  1. Pada kelompok pertama yang dikenal dengan istilah Sensing, maka orang-orang kelompok ini kemistrinya adalah harta sehingga mereka yang termasuk kelompok Sensing memiliki kecenderungan hal yang paling membahagiakan sekaligus hal yang menjadi masalah terberatnya adalah harta. Orang Sensing yang “miskin” (apalagi punya mindset miskin) maka cenderung akan uring-uringan.
    Tapi kan semua orang pasti uring-uringan kalau ga punya uang? Ga semua kok. Lihat saja, mereka yang bukan orang Sensing memiliki “ketahanan emosi” yang lebih baik dalam mengatasi perihal ekonomi. Sebab mereka memiliki “masalah sendiri” sesuai kemistrinya.
  2. Kelompok kedua Thinking adalah mereka yang tak nyaman ketika dirinya tidak memiliki jabatan/tahta/wewenang. Bagi orang-orang ini terkadang ga masalah naik pangkat tapi gaji tetap sama karena kepuasannya ada pada wewenang yang ia miliki, lebih membahagiakan bagi mereka.
  3. Kelompok ketiga adalah mereka yang tergolong ke dalam kecerdasan Intuiting yang baginya asalkan idenya terpakai, itu sangat membahagiakan. Dan menjadi masalah bukan soal gaji dan jabatan tapi lebih pada ide-ide brilian yang out of the box ditolak oleh sekitar. Uring-uringan deh jadinya.
  4. Kelompok keempat adalah para manusia yang fokus pada cinta, baginya fans atau kader yang banyak memberikan kebahagiaan tiada tara dibanding harta dan jabatan. Inilah kelompok Feeling. Maka untuk orang-orang seperti ini akan uring-uringan ketika dirinya kalah pamor atau tidak memiliki teman karena dikungkung aturan misalnya.
  5. Kelompok terakhir yang paling nampak nyaman di berbagai keadaan sebab kemistrinya bahagia. Tak masalah bagi kelompok Insting gaji pas-pasan, jabatan di situ-situ juga, asalkan dia dapat berkontribusi dan diberi kesempatan untuk terlibat itu sudah cukup. Orang-orang seperti ini justru akan uring-uringan jika terlalu ditekan dan tidak diberi kesempatan untuk terlibat membantu orang lain.

Jadi, penyebab kemarahan pun sesuai dengan kemistrinya bukan? Lalu teori kedua penyebab kemarahan adalah hubungan segilima.

Melalui teori ini kita jadi paham kenapa dengan kalimat dan intonasi yang sama, kita bisa merasakan rasa sakit hati yang berbeda. Bisa jadi karena yang memarahi kita berbeda dalam hal hubungan segilimanya.

Ketika kita ditaklukkan oleh seseorang, betapa kita mengaguminya (di sisi lain bisa jadi malah kita sangat membencinya). Diamnya dia saja kita segan, apalagi ketika dia marah rasanya seperti disambar halilintar. Dan ini tidak memandang jabatan atau siapapun orang itu melainkan aliran energi berdasarkan teori segilima tadi.

Jadi mari kenali diri, pasangan dan keluarga bukan semata untuk menemukan minat bakat kita, tapi lebih dari itu: mari temukan jalan pulang kita. Jalan yang seharus kita tempuh sejak kecil agar perjalanan usia kita sesuai dengan tujuan akhirnya.

Selamat mengenali diri, mengenali penyebab emosi. Lalu netralkan. Dan tumbuhlah.

*tulisan ini sekaligus merupakan gambaran jawaban saya atas pertanyaan seorang teman: “teh, ada ga sih manfaat tes STIFIn kaitannya dengan manajemen emosi?” Semoga terjawab ya.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *