Empati, Mempertahankan Diri dan Kemandirian

Empati, Mempertahankan Diri dan Kemandirian

Setelah 4 tulisan sebelumnya, tulisan ini sepertinya akan jadi tulisan terakhir untuk diskusi sementara di grup emak-emak cantik. 4 tulisan lainnya bisa cek di satu, dua, tiga, empat.

Mempertahankan diri. Sebuah sikap ketika menghadapi ancaman atau sesuatu yang tidak nyaman.

Ada saat anak harus berempati tapi ada saat anak harus mempertahankan diri. Tindakan mempertahankan diri ini penting agar ketika ada temannya yang semena-mena padanya ia mampu membedakan kapan harus berempati dan kapan harus mempertahankan diri agar tidak terus-terusan disakiti orang lain yang jika dibiarkan akan jatuh pada kasus “bullying”.

Pun ketika anak marah pada kita dengan memukul misalnya, orang tua pertama mencoba berempati, “Aa marah sama ummi ya? Maaf sudah bikin Aa kesal.” dst hingga si anak merasa tenang, baru kemudian ke solusi (bin bin Solutions) “tapi umminya jangan dipukul, disayang aja. Kalau marah, bilang baik-baik ya anak shalih”. Jika orang tua tidak mempertahankan diri seperti ini, anak akan menganggap bahwa itu boleh dan lama kelamaan bisa tambah parah. Na’udzubillah min dzalik.

Dengan berempati lalu mempertahankan diri anak juga belajar lemah lembut tapi tegas menghadapi kemarahan orang lain. Empati hanyalah sebuah cara memahami orang lain, bukan cara menyelesaikan masalah. Tetap harus ada langkah selanjutnya untuk sampai pada solusi. Empati dulu baru kemudian problem solving.

Empati juga mengajarkan kita untuk bersabar dalam proses memahami kenapa dan bagaimana orang lain bertindak. Kelak sikap empati ini jadi bekal kita maupun anak ketika anak mulai belajar mandiri.

give empathy

Kan ada saatnya anak mulai ingin serba sendiri tapi belum sepenuhnya bisa. Jika kita tidak mampu berempati dan memaksa “sama ummi aja deh biar cepet” karena tak mau sabar dengan proses belajar anak, hal ini justru akan mematikan kemandirian anak. Dan takutnya nanti anak akan belajar cemen, cengeng, manja dan tidak mandiri.

Sering kali hal “sepele” semacam ini berujung anak jadi anak mami banget. Apa-apa harus sama ummi, hampir semua hal tergantung sama ibunya. Ujung-ujungnya yang rugi ya orang tua sendiri, ketika saatnya anak harus bisa mandiri, anak ga bisa. Sebenarnya bukan tak bisa tapi karena memang sudah tertanam bahwa “sama ibu lebih cepat dan aman”.

Iya kalau kita punya anak tunggal, kalau punya anak lebih dari satu? Kebayang repotnya semua harus serba dilayani. Maka empati membantu kita lebih tenang dalam mempercayai orang lain dan ketika kita menghadapi masalah.

Perhatikan pula pola komunikasi dengan anak saat berempati. Hal ini penting karena biasanya kesalahan cara komunikasi menjadi penyebab kenapa empati itu belum bisa menjadi awalan dari sebuah solusi yang baik.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Facebookinstagram

Tinggalkan komentar