Evaluasi: Bersyukur Dulu

Pertengahan pekan lalu tiba-tiba terlintas tentang sebuah perenungan ketika berpapasan dengan penjual keliling. Mereka nampak biasa saja sebenarnya, tapi bagi saya, dengan jualan sebanyak itu pastilah tidak ringan.

Ketika kecil dulu, saya pernah merasakan bagaimana lelahnya berjualan keliling. Menjajakan makanan yang bahkan bagi saya saat itu mahal. Herannya, ada saja yang beli. Dan demi mengumpulkan uang, saya ga berani nyomot satupun dagangan saya meskipun mupeng berat. Hanya suka berharap saja ada sisa supaya bisa makan itu. Hihi. Penjual yang aneh ya 😀

Back to topic. Setiap kali berpapasan dengan para penjual keliling itu, setiap itu pula sering diingatkan: “kamu mah masih beruntung sa. Pergi keluar rumah buat nganterin barang ke ekspedisi. Barang yang sudah jelas terjual dan uangnya pun sudah masuk rekening.
Malah kadang ga perlu keluar rumah sama sekali karena pengiriman ke ekspedisi sudah ditangani oleh asisten. Barang jualan pun tinggal nunggu di rumah, bakal ada yang nganterin. Keluar untuk beli barang hanya sesekali saja saat belanja di supplier dalam kota.”

image

Ketika kita berbicara tentang kepercayaan terhadap rejeki yang sudah Allah siapkan, nampaknya para penjual “offline” itu lebih tinggi level percayanya. Mereka berjalan keliling kota menjajakan barang yang mereka bawa dengan terus berdoa agar jualannya laku banyak dan tawakkal terhadap rejeki yang pasti sudah Allah siapkan.

Maka ketika evaluasi pencapaian Aim Desain beberapa waktu lalu, hal pertama yang harus dilakukan adalah bersyukur terlebih dahulu. Sudah lah dapet ilmunya secara gratis, didamping untuk laporan progress, kemudian diberikan kemudahan oleh Allah dalam mencapai target. Ditambah dengan pencapaian yang sudah mulai dapat diukur.

Pendapatan kami mungkin belum sebanyak teman-teman lainnya. Tapi bagi kami, pencapaian Aim Desain saat itu sudah cukup baik.

Maklum, selama ini kami jarang mengukur dengan lebih teliti mengenai capaian usaha kami. Jadi ketika pertama kalinya serius merencanakan berikut evaluasinya, kami dibuat takjub. Masyaallah, ternyata bisa!

Bagaimanapun, pencapaian tersebut naik 2x lipat dari pekan sebelumnya. Pencapaian yang saya sempat ragu: “bisa ga ya?”. Karena seringkali kami menuliskan target itu yang sekiranya bisa dicapai. Padahal seharusnya target adalah sesuatu yang maksimal bisa dicapai. Bukan minimal alias tidak pe-de kalau Allah Mahabesar dan Mahakaya. Mudah bagiNya memberikan apapun pada yang Ia kehendaki.

Evaluasi berikutnya baru disandarkan pada target yang ditetapkan. Memang masih 80% capaian, belum 100%. Disini kami mengevaluasi apa lagi yang perlu kami maksimalkan untuk mencapai target. Bagaimana langkah berikutnya, dan sudah sejauh mana serius memperbaiki diri, ibadah dan sedekahnya.

Maka saya belajar bahwa evaluasi bagi sebuah usaha (maupun capaian seseorang) baiknya selalu diawali dengan rasa syukur terlebih dahulu. Agar kita mampu berterima kasih untuk segala jenis capaian, entah capaian kecil maupun capaian besar.

Mensyukuri capaian membuat kita mampu tersenyum dan tidak menjadi orang yang kufur. Bukankah janji Allah itu pasti? Bahwa setiap yang bersyukur, akan ditambah nikmatnya. Nikmat bukan sekadar materi saja, tapi ketenangan hati, kekuatan bergerak, kenyamanan usaha, kesehatan dan masih banyak lagi. Meskipun tidak dilarang kita mengharapkan pencapaian yang lebih tinggi lagi.

Baru setelah bersyukur, kita cek lagi dari langkah yang kita catat. Mana saja yang belum dimaksimalkan. Kemudian gali ide, apa lagi yang dapat kita laksanakan. Maksimalkan semua sumber daya dan siapkan tampungan besar untuk rejeki yang lebih besar.
Caranya?
Siapkan hati, belajar delegasi. Bangun tim agar kita mampu memproduksi lebih banyak, mendesain lebih baik dan cepat, menyiapkan segalanya lebih hebat. Jadikan usaha rumahan ini menjadi perantara rejeki bagi yang lain. Insyaallah akan semakin besar tampungan dan semakin bertambah doa yang dipanjatkan, bukan hanya doa kita dan orang tua tapi juga para pekerja.

Bismillahirrahmanirrahim. Rabbi.. Mampukan kami untuk terus memperbaiki diri dan kehidupan kami, serta mempersiapkan bekal sebaik-baiknya untuk hari nanti. Aamiin

Bandung, 29 Desember 2015
Esa Puspita
– a team builder to be, insyaallah

image

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *