Fase Atau Urutan (Kala) dalam Proses Persalinan (Lahiran)

Kehamilan ketiga konon katanya sudah ga ada yang perlu dikhawatirkan karena sudah “berpengalaman”. Padahal ya, sama saja seperti “pengulangan” pada umumnya dalam kehidupan, seringkali tidak sama persis antara pengalaman satu dan yang lainnya. Setidaknya itu yang saya alami.

Lagipula, pengalamannya pasti berbeda karena jika anak pertama murni memikirkan 3 orang: diri sendiri, suami dan bayi, maka di kehamilan kedua dst tidak mungkin hanya 3 orang itu yang dipikirkan kan 😁

Di kehamilan pertama memang tanpa ilmu yang mumpuni tentang bagaimana proses kelahiran. Selama proses kehamilan dan fase menyusui hingga MPASI dan pertumbuhan anak sih masih oke, tapi proses melahirkan tidak kami persiapkan dengan sebaik-baiknya karena berpikir: melahirkan adalah proses alami. Semua perempuan hamil sangat mungkin akan melewati fase itu. Tak ada hal yang perlu dikhawatirkan atau apa gitu.

Dan ternyata saya salah.

Proses melahirkan memang sebuah sunnatullah. Tapi itupun harus dijalankan dengan keilmuan yang mumpuni. Setidaknya keputusan yang diambil bukan berdasarkan prasangka atau masukan melainkan sudah melewati filter dari kitanya sendiri. Keputusan yang disadari.

Maka di kehamilan ketiga ini saya dan suami seperti belajar lagi dari awal tentang bagaimana proses kehamilan, bagaimana proses melahirkan yang minim trauma (sejujurnya, suami sih yang trauma terutama di kelahiran anak pertama. Sampe ga mau lagi lahiran di tempat yang sama. hihi). Trauma pun ga yang gimana-gimana banget sih, cuma ya membuat kami agak jaga jarak. Ibaratnya, kalo bisa ga harus dirujuk ke RS, jangan sampe dirujuk. Gitu deh.

Dan di catatan kali ini, mau nyatet tentang fase atau kala dalam proses melahirkan untuk lebih mengenali diri dan bagaimana proses alamiah ini terjadi. Sehingga saat ada indikasi medis pun, sudah lebih paham ilmunya dan mempersiapkan dengan lebih baik. Itu juga kenapa penting sekali mencari tenaga kesehatan medis yang mendukung agar penjelasan “kenapa dirujuk” atau bisa menjawab dengan baik kenapa begini begitu. Jadi keputusan yang diambil lebih matang.

Tahapan atau Kala dalam Proses Persalinan (Melahirkan)

Ada setidaknya 4 kala dalam persalinan yang perlu kita tahu. Ah, ibu-ibu jaman dulu juga ga perlu tahu yang beginian lancar-lancar aja. Iya sih, tapi kalo buat saya mah penting tahu supaya lebih mantep lagi.

Kala I

Fase kala I merupakan kala pembukaan antara pembukaan 0 hingga 10 (atau biasa kita kenal dengan pembukaan lengkap). Fase ini ternyata yang saya kenal selama ini dengan istilah pembukaan. Saya pikir kala I akan dimulai sejak kapan 😛

Lama berlangsungnya fase kala I ini tidak sama bagi setiap orang sehingga jangan dibandingkan ya. Hanya saja umumnya pada perempuan yang baru pertama kali mengalami kehamilan (atau istilahnya primigravida) kala I terjadi selama sekitar 12 jam. Sedangkan pada perempuan hamil yang telah hamil lebih dari 1x (multigravida), kala I berlangsung selama kurang lebih 8 jam.

Ada 2 fase dalam kala I ini yaitu fase laten dan fase aktif.

Fase Laten
  • Dimulai sejak awal kontraksi dirasakan dimana penipisan dan pembukaan serviks mulai terjadi secara bertahap.
  • Masih dihitung fase laten hingga serviks membuka kurang dari 4 cm.
  • Umumnya berlangsung hampir 8 jam.
Fase Aktif
  • Terjadi kontraksi uterus dengan frekuensi dan lama kontraksi yang terus bertambah secara bertahap. Kontraksi dianggap memadai jika dalam 10 menit terjadi setidaknya 3x atau lebih dan lamanya kontraksi selama 40 detik atau lebih.
    Ini yang saya ga sempat perhatikan dan alami di 2 proses kelahiran sebelumnya karena keduanya lahir dengan proses induksi tanpa merasakan kontraksi “normal” sebelumnya. Meskipun pada kelahiran anak kedua, sempat merasakan dan saat periksa ke bidan sudah ada pembukaan 1.
  • Dari fase laten pembukaan 4 (yang berarti sudah terbuka sekitar 4cm) hingga pembukaan lengkap 10 cm terjadi kecepatan pertambahan pembukaan rata-rata 1 cm per jam pada primigravida atau nulipara (pernah hamil dan melahirkan tapi anaknya meninggal di dalam kandungan). Sedangkan pada multigravida kecepatan pertambahannya bisa 1-2 cm atau lebih per jam.
  • Terjadi penurunan bagian terbawah janin

Yang Akan Dilakukan Nakes (dan mungkin akan kita terima) Saat Kala I

Sebagai seorang ibu, naluri pasti jalan. Tapi tidak ada salahnya mengetahui ini sebagai acuan mengenali proses diri.

  1. Pastikan kita sebagai parturien (pasien alias yang akan melahirkan) menjaga kesabaran melewati prosesnya.
  2. Pihak nakes akan melakukan pemeriksaan tekanan darah, nadi, temperatur pernafasan secara berkala sekitar 2-3 jam sekali.
  3. Setiap 30 menit atau 1 jam sekali akan dilakukan pemeriksaan denyut jantung janin.
  4. Pastikan kandung kemih selalu kosong. Pihak nakes akan memastikan ini kok.
    Pengalaman lahiran anak kedua, ada proses dimana dimasukkan selang untuk mengeluarkan air kencing setelah ditanya “udah sempet pipis belum” dan saya jawab “belum” karena memang lebih fokus pada kontraksi yang dialami. Sebelumnya ga paham, setelah mencari tahu ternyata kandung kemih yang penuh bisa menghambat proses kelahiran.
  5. Nakes akan memperhatikan kondisi patologis kita
  6. Jangan dulu mengejan ya buuu kecuali sudah diinstruksikan sama asisten kelahiran.
    Pengalaman saya di proses sebelumnya: ujian terberat adalah mules semakin kuat tapi tidak boleh mengejan dulu (biasanya di pembukaan 7-8). Memang perasaan ingin mengejan rasanya udah di ubun-ubun, tapi dokter/bidan ga memperbolehkan mengejan.
    Tipsnya adalah atur nafas. Di kelahiran pertama mah boro-boro ngerti soal pernafasan, mengenali mules aja dibantu suster. Haha.
    Di kelahiran anak kedua baru deh saat ingin mengejan dengan kuat tapi belum lengkap pembukaannya, belajar atur nafas. Dibantu suami juga untuk elus-elus punggung, pijat relaksasi, lari-lari kecil di seputar tempat lahiran dan tentu saja pelukan hangat yang mengeluarkan hormon oksitosin membantu menenangkan melewati fase “terberat” (versi saya) itu.

Kala II

Fase ini dimulai ketika pembukaan sudah lengkap hingga bayinya lahir. Umumnya berlangsung selama 2 jam pada primigravida dan 1 jam pada multigravida. Adapun tanda dan gejala pada kala II persalinan adalah sebagai berikut:

  1. Terasa ingin meneran (menahan nafas dengan tenaga dan menekan, seperti akan mengejan saat hendak BAB). Hal ini terjadi bersamaan dengan terjadinya kontraksi (atau mulas, yang merupakan respon dari tubuh dan bayi).
  2. Kita merasakan adanya peningkatan tekanan pada bagian kemaluan dan/atau rektum (daerah pinggul gitu)
  3. Nakes akan mengecek, biasanya perineum sudah nampak menonjol
  4. Vulva vagina dan sfingter ani nampak membuka (ini mah nakes yang ngerti)
  5. Meningkatnya pengeluaran lendir bercampur darah

Tanda pasti kala II bisa diketahui lewat “pemeriksaan dalam” oleh tim nakes dimana pembukaan sudah lengkap atau terlihat bagian kepala bayi.

Kala III

Fase Kala III merupakan proses yang terjadi segera setelah bayi lahir hingga plasenta terlahir pula. Berlangsung kurang lebih 30 menit. Tanda lepasnya plasenta terjadi saat ada perubahan bentuk dan tinggi uterus, tali pusat memanjang dan ada semburan darah mendadak dan singkat. Ini mah nakes yang paham kali ya. Kita mah kan ga akan merhatiin 😀

Pihak nakes akan melakukan yang disebut manajemen aktif. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan kontraksi yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu berlangsungnya, mencegah pendarahan dan mengurangi kehilangan darah.

Manfaat manajemen aktif kala III adalah persalinan kala tiga menjadi lebih singkat, mengurangi jumlah kehilangan darah, mengurangi kejadian retensio plasenta (tidak lahirnya plasenta dalam waktu 30 menit setelah bayi dilahirkan). Tiga langkah yang biasanya dilakukan dalam manajemen aktif ini adalah:

  1. pemberian suntik oksitosin dalam 1 menit pertama setelah bayi terlahir
  2. penegangan tali pusat secara terkendali
  3. masase fundus uteri (semacam pemijatan pada bagian fundus uteri)

IMD (Inisiasi menyusui dini) dilakukan di kala ini karena dapat membantu kontraksi sehingga memudahkan plasenta keluar (lahir) atau oleh beberapa penelitian disebut IMD dapat mempercepat kala III.

Kala IV

Fase ini dimulai sejak plasenta terlahir hingga 2 jam setelah kelahiran (post partum istilahnya). Kala IV dimaksudkan untuk pelaksanaan observasi karena umumnya pendarahan setelah melahirkan (yang tentu saja dapat membahayakan jika tidak ditangani dengan baik) paling sering terjadi pada 2 jam pertama setelah kelahiran. Adapun observasi yang dilakukan oleh pihak nakes meliputi  hal yang perlu diperhatikan berikut:

  1. Kondisi kita apakah bahagia dan sadar. Sebab tugas beratnya sudah selesai dan bayi lahir dengan selamat.
  2. Dicek tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu tubuh.
  3. Kontraksi uterus baik
  4. tidak ada pendarahan per vaginam (di area alat reproduksi) atau dari alat genital lainnya
  5. plasenta dan selaput ketuban semua harus sudah terlahir dengan lengkap
  6. kandung kemih harus kosong
  7. luka-luka pada perineum (jika ada) akan dirawat dan dipastikan tidak ada hematoma (kumpulan darah tak normal di luar pembuluh darah)
  8. resume umum keadaan ibu dan bayi
  9. bayi yang telah dibersihkan akan diletakkan di samping kita untuk pemberian ASI
  10. Observasi dilakukan setiap 2 jam
  11. Bila kondisi kita membaik, akan dipindah ke ruang rawat inap bersama bayinya.
    Ini saya baru paham, kenapa dulu pas di RS agak lama dari ruang vk ke ruang biasa.

Wah, jadi panjang ya tulisannya. Gapapa deh. Alhamdulillah, jadi paham juga kenapa bidan yang sekarang menangani meminta saya mengingat dan mempelajari kembali kala dalam persalinan. Semoga bermanfaat untuk teman-teman juga.

Sumber-sumber:

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

One thought on “Fase Atau Urutan (Kala) dalam Proses Persalinan (Lahiran)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *