Fatherless Country dan Sampah Emosi

Fatherless Country dan Sampah Emosi

2 hari kemarin Allah mengizinkan saya dan suami untuk turut serta dalam Gathering Nasional PPA for Healing (GN-PfH). Fokus dari kelas PfH sendiri adalah untuk menjadi tools pembantu dalam memudahkan pengerjaan salah satu poin penting di kelas PPA yang disebut “ganjalan tisu“.

Ganjalan tisu diibaratkan tisu yang menghalangi bagian untuk memasukkan kartu di mesin ATM. Sebanyak apapun tabungan kita, jika ada yang menghalangi kartu masuk ke mesin ATM maka sulit bagi kita mengambil dana di ATM kebaikan itu. Sehingga bisa dikatakan ganjalan tisu merupakan ganjalan-ganjalan emosi yang secara tak sadar mampu menghalangi kebaikan hadir dalam kehidupan kita.

Takdir Allah Selalu Baik

Semula suami ikut serta untuk bantu jaga Hasna saat tidak memungkinkan masuk kelas. Seperti biasanya ketika saya ada kelas.

Ternyata Hasna kali ini tumben nempel banget ke ummi. Ga ganggu sih. Tapi ya begitulah. Ga mau ke abi.
Sepertinya memang oleh Allah dibuat seperti itu justru supaya suami fokus.

Hari ke-2 saat rehat menjelang checkout kamar, kami terlibat obrolan yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Beliau membicarakan “big monster” dan ganjalan-ganjalan emosi yang selama ini saya ga tau. Ganjalan yang beliau sendiri baru sadari saat malam sebelumnya dilakukan pendampingan Emotional Release Procedure massal. MasyaAllah.

Akang bilang, “menurut pengalaman para trainer dan terapis (juga dari pengalaman klien-kliennya), masalah yang dialami oleh pasangan suami istri umumnya bermula dari permasalahan dengan ayahnya.” Pembicaraan lebih serius dibuka setelah suami menyampaikan sampah-sampah emosi beliau yang sekilas nampak “cuman gitu doang”.

Fatherless Country

Usai berbicara demikian, suami lalu mengevaluasi anak-anak kami. Sebagaimana ditanyakan oleh trainer pada beliau, “mas sudah punya anak?” Sudah, jawab suami. 3. “Bagaimana anak mas Chalim? Bagaimana anak pertama, apakah dia pemalu seperti mas Chalim?” iya..

Kurang dekatnya beliau dengan anak-anak semata bukan karena ia tipe personaliti Thinking yang cenderung bahasa cintanya adalah responsibility. Tapi karena ketakutan dan pendaman emosi yang ia miliki mencegahnya untuk dekat dengan anak istri.

Suami bilang, “setelah Ustadz Yunus Anis bilang gitu (bahwa banyak hubungan ayah bermasalah dengan anaknya, sesungguhnya karena dulunya memiliki pendaman emosi terhadap kejadian di rumah yang mereka lihat dari ayahnya), Aa kepikiran: bener ya. Dan fakta tentang fatherless country itu bisa jadi karena para ayah masih punya pendaman emosi terkait dunia ke-ayah-an, dunia lelaki, yang itu dia lihat dan dapatkan dari ayahnya.”

Secara tidak sadar, kita menurunkan sampah emosi itu pada anak.

Dan secara tanpa disadari, kita melanjutkan lingkaran setan itu.

Maka untuk memutus rantainya, kita perlu menetralisir semua rasa di masa lalu. Agar cukup berhenti di kita.

Beliau tahu soal Fatherless Country. Saya selalu mendorong agar ia memiliki waktu dengan anak-anak karena itu salah satu harapan kami: lebih baik dari keluarga. Tapi seperti ada sekat saat saya minta beliau hadir untuk mereka, “anak lelaki harus dekat dengan ayahnya, A. Supaya mereka memiliki gambaran seimbang antara ibu dan ayah”

Dan terjawab sudah. Ada hal yang belum selesai pada dirinya. Pun dalam diri saya.

Anak Cerminan Orang Tua

Hal-hal yang menjadi sorotan (alias keluhan) saya dan suami terhadap anak-anak ternyata ga jauh dari apa-apa yang pernah kami alami. Subhanallah. Maafkan kami, nak..

Suami mengingat banyak hal yang pernah terjadi pada dirinya, dan itu terjadi pada anak kami. Sebagaimana saya juga melihat hal yang sama bahwa apa yang menjadi keluhan saya nyatanya dulu apa yang sempat ingin saya hindari.

Pendaman emosi itu tak mesti selalu berupa kemarahan atau kekecewaan. Tapi bisa juga rasa takut, sedih, dan semacamnya. Intinya adalah CLBK: cerita lama belum kelar 😁

Maka jika kita men-treatment anak, coba deh evaluasi dulu. Jangan-jangan itu adalah hal yang kita turunkan. Kasihan sekali kan mereka, menanggung akibat emosi yang kita pendam.

Mencari Tahu Akar Permasalahan

Saat anak melakukan hal yang tak sesuai harapan, tarik ingatan kita ke: “sejak kapan anak begini? Awal mulanya seperti apa? Apa yang terjadi di keluarga? Bagaimana respons kita?”

Setelah semua terjawab, maka orang tua perlu berlapang dada untuk melanjutkan pertanyaan, “dulu pernah ga kita ngalamin ini? Melakukan itu? Atau pernah melihat hal tersebut dan ingin kita hindari?”

Jika jawabannya pernah, cari tahu. Kapan, dimana, bagaimana kejadiannya dan siapa saja yang terlibat. Apa perasaan kita di kala itu?

Setelah ketemu, maafkan dan minta maaf-lah pada 3 pihak ini:

  1. Allah. Maksudnya terimalah takdir Allah. Sebab ia selalu yang terbaik. Bisa jadi ada zhan (prasangka) kok Allah menimpakan peristiwa kurang mengenakkan itu terjadi? Maafkan dari prasangka su’udzon ke Allah. Lalu meminta maaf-lah pada Allah karena telah meragukan atau bahkan marah pada-Nya.
  2. Orang lain. Maafkanlah mereka yang terlibat dan meminta maaf kepada mereka atas respons kita baik sebelum (yang menjadi pemicu) maupun sesudah kejadian tersebut (misal, marah, kecewa, sedih)
  3. Diri sendiri. Maafkanlah respons diri yang kurang tepat dan meminta maaf pada diri sendiri.

Lakukan hal tersebut terus menerus hingga netral terhadap kejadiannya dan mulai terasa semakin baik keluarga kita. Milikilah catatan progress, baik progress terapi maupun kemajuan yang dihadapi dalam keluarga.

Jika ingin sharing langkah lebih lengkapnya atau ditemani prosesnya, boleh mampir ke rumah. Di google map, cari: Rumah Tes STIFIn Cimahi atau klik bit.ly/STIFInCimahi. Saya dan suami insyaAllah bersedia bantu.

Mari menjadikan Allah sebagai fokus utama. Sebab perbaikan kita bukan semata agar memutus rantai, tapi agar Allah makin ridho dan terbentuk generasi rabbani yang jauh lebih baik.

Selamat menjadi pribadi yang baru! Selamat belajar memutus rantai fatherless. Selamat bersama saling bergandengan tangan menuju perbaikan.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: