Gadis Kecil Itu Natasya

​Namanya Natasya. Entah bagaimana ejaan seharusnya dari nama yang ia bisikkan. Bicaranya begitu pelan hampir tak terdengar. Malu, katanya.

Anak perempuan berkaos merah itu nampak ragu saat saya memintanya duduk usai ia memberikan sehelai amplop. Berulang kali mencoba meyakinkannya bahwa saya tidak bermaksud buruk, ia pun akhirnya duduk di pinggir luar kursi panjang yang saya duduki. Akhirnya memutuskan untuk menggeser tempat duduk mendekatinya.

Ia kini duduk di kelas 2 SD. Rumahnya seputar Babakan Ciamis, Cihampelas, Bandung.

Penasaran saya tanya, ia kesini dengan siapa? Mengingat Cihampelas bukanlah tempat yang cukup dekat untuk dijangkau meskipun mungkin saja ia berjalan kaki dengan menyebar amplop sepanjang jalan. Ternyata ia menaiki angkot bersama uwaknya.

Sang ibu bekerja sebagai pembantu, begitu pengakuan yang diberikan. Sementara sang uwak adalah perempuan yang tak memiliki pekerjaan (yang kemudian saya tahu bahwa uwaknya ada di sekitar ia meminta-minta).

Sambil terus melemparkan senyum untuk membuat anak perempuan berambut lurus ini nyaman, saya coba mendekatkan diri “Natasya sudah makan? Ayok makan.” Tapi ia menggeleng. “Atau mau jus? Ini ambil punya kakak” lagi-lagi ia menolak. Maka saya pun langsung beralih pada sebuah permintaan sederhana yang direncanakan, “Natasya muslim? Agamanya Islam?” Iya mengangguk.

“Hafal surah annas? Atau alfatihah? Kakak mau dengar ya.” Tapi ia diam seraya menampakkan rasa gugup yang begitu besar. “Tenang aja, amplopnya nanti kakak isi kok. Kita baca bareng ya” lagi-lagi ia diam. Ia masih menjawab “malu” tanpa suara, hanya pergerakan bibir saja.

Ya, saya tahu. Memang malu rasanya. Dulu ketika saya menawarkan dagangan dari pintu ke pintu pun, rasa malu menyelimuti sepanjang perjalanan. Apalagi dia, yang sepertinya tahu persis bahwa tindakannya adalah meminta-minta.

Permintaan sederhana itu akhirnya membuat saya mulai menemaninya membaca ta’awudz. Dia tak bersedia mengikuti. “Ini, lihat uangnya. Kakak masukkan sini ya” seraya memperlihatkan uang itu dimasukkan amplop. Setelah memastikan saya memasukkan uang ke dalam amplop yang ia serahkan, mulailah suaranya terdengar meski tetap pelan.

Ta’awudz, basmalah dan awal surah an-nas kami baca bersama. Setelah itu ia melanjutkan hingga ayat terakhir dengan cukup baik. Alhamdulillah, syukurlah. Setidaknya dia hafal surah alquran.

Lalu amplop itu kulipat dan kusodorkan padanya seraya bertanya, cita-citanya apa. Namun ia hanya menjawab dengan senyuman tersipu. “Semoga lancar ya sekolahnya. Ga usah malu, annas kan surat cinta dari Allah. Bisa hafal itu luar biasa. Semoga cita-citanya tercapai ya. Sukses!” Kemudian kuelus punggungnya.

Lalu ia pun beranjak, menerima amplop yang kuserahkan seraya menuju tempat lain. Ah, hidup ini sudah cukup berat untukmu ya, Natasya. Meski uang yang diberikan tidaklah besar, tapi semoga kisah kecil ini akan kau ingat sebagai menjadi penyemangat.

Bahwa ada Allah bersamamu 🙂

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *