Golden Moment Mengalami Pembelajaran di Kelas Anak

Golden Moment Mengalami Pembelajaran di Kelas Anak

Pengalaman pagi ini saat anak setor hafalan secara online melalui video call Whatsapp entah kenapa membuat haru. Rasanya gimanaaa gitu. Ah, ini diantara hikmah dari kejadian yang tengah menimpa dunia saat ini.

Selama ini saya seringkali diingatkan oleh para guru maupun teman-teman,

Tugas mendidik itu kewajiban orang tuanya.

Guru dan sekolah dipilih sebagai ikhtiar membantu orang tua mendidik. Tidak menggantikan peran kita sedikitpun.

Sebab pertanggungjawabannya tetap ada pada diri kita. Meskipun mungkin “sekadar” mempertanggungjawabkan “siapa guru yang engkau pilihkan” sebagaimana tanggung jawab seorang lelaki akan ditanya “seperti apa ibu yang engkau pilihkan”.

Selama anak-anak bersekolah, saya ga pernah tahu secara pasti apa saja yang dialami anak-anak di kelas, bagaimana sikap dan kebiasaan mereka selama belajar, dan apa saja yang dikatakan atau dijelaskan oleh gurunya. Jadi kalau ada yang nanya “gimana Danisy atau Azam ketika di sekolah” maka saya hanya bisa menjawab sedikit. Sedangkan yang tahu betul sikap dan progress mereka adalah para gurunya, dengan segala upaya dan kesabaran mereka. Biidznillah.

Betul bahwa orang tua tahu banyak tentang anak, tapi saya mah sadar, ini tetap tidak menjadikan kita tahu segalanya mengenai sang anak ketika kita tidak bersama mereka. Maka doa yang seringkali saya lantunkan adalah temani kami dan titip, ya Rabb. Temani saat kami bersama mereka dan titip ketika mereka tidak bersama kami.

Disinilah saya mendapati bahwa, betul butuh sinergi antara orang tua dan semua pihak luar yang mendukung pendidikan anak. Agar tumbuhnya paripurna sebagai seorang pribadi. Di rumah mendapat pengajaran yang baik dan benar, di luar pun demikian.

Golden Moment

Hari ini, seperti sebuah golden moment bagi saya mengetahui bagaimana gurunya mengajar untuk kemudian saya tiru kebaikannya. Hari ini adalah golden moment dimana saya bisa melihat dan mengalami secara langsung hal itu. Meskipun mungkin tidak seutuhnya.

Tapi segitu aja buat saya mah sudah mengharukan. Sampai-sampai nahan air mata.

Ih Teh Esa kok lebay banget sih?

Iya kali ya lebay. Tapi coba bayangin deh, ketika sekolah para guru menghadapi setidaknya 10 anak. Meskipun materinya sama, tapi daya tangkap setiap anak berbeda. Ini tantangan yang tak mudah.

Suasana video call tadi bagi saya adalah gambaran saat anak setor hafalan. Karena urusan setoran ini setau saya (sejauh ini) adalah setoran per orangan.

Bagaimana gurunya memperhatikan adab murid ketika setoran, bagaimana mengkoreksi, bagaimana berkomunikasi dan yang paling bikin baper adalah saat guru mendoakan. Ya Allah.. saat mendengar doa yang dipanjatkan oleh sang guru, rasanya terenyuh aja gitu.

Semoga doa dari lisan sang guru yang terjaga dengan alquran menjadikan doanya melesat tanpa penghalang.

Behind the scene setor hafalan online

La hawla wa la quwwata illa billah.

Ya Allah bimbinglah kami.. Jaga para guru dimanapun mereka berada..
Teruntuk seluruh guru kami dan anak-anak kami, kami haturkan jazakumullah khairan katsira.. Barakallahu fiykum..

Bagaimana pengalamanmu membersamai ananda selama “liburan” kali ini, ayah dan ibu?

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspita Facebooktwitterpinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: