Hal yang Paling Membuatku Bahagia

Hal yang Paling Membuatku Bahagia

Diskusi tadi pagi dengan suami, terkait buku yang tengah beliau baca. Pas banget siang ini juga lagi kepikiran pencapaian saya secara pribadi yang membawa kebahagiaan buat seisi keluarga.

Pada dasarnya setiap orang itu egois.

Begitu kurang lebih pernyataan yang saya garisbawahi. Pernah dengar kalimat serupa tapi lupa dimana 😅

Ego. Adalah bagian dari fitrah individualitas. Sebuah fitrah yang sengaja Allah installkan dalam diri setiap manusia dengan target utama: sadar diri. Setidaknya itu yang saya maknai.

Sadar diri kalo kita ini hamba, ego kita untuk mencintai diri adalah bentuk rasa syukur sudah dititipi diri ini, hidup di dunia. Mencintai diri sendiri adalah mutlak sebuah keharusan. Agar bisa jadi jalan mencintai Sang Pemilik diri kita, Allah swt.

Sadar diri kalo kita diciptakan bersuku dan berbangsa agar saling mengenal. Termasuk mengenal pasangan, anak, keluarga, masyarakat sekitar dan manusia lainnya.

Sadar diri kalo ada yang perlu dijaga. Ego diri yang kemudian dinaikkan kapasitasnya dari egosentris menjadi sosiosentris. Ego diri untuk keperluan menjaga diri, setelah itu mampu menjaga masyarakat.

Ego Allah titipkan agar kita bisa mempertahankan diri, mempertahankan hak kita dan sadar akan hak orang lain. Egosentris yang terpuaskan di masa usia 2-3 tahun dapat menjadi bekal pribadi seseorang untuk tangguh. Ketika ego ini terpenuhi, ia siap untuk mengenal sosiosentris yang dicirikan diantaranya: berbagi.

Dengan mengenal personaliti genetik saya tipe Feeling extrovert, suami bisa memahami apa saja yang betul-betul bisa dituntut dari diri saya. Dan lebih dari itu, saya diperkenalkan dengan diri saya yang sesungguhnya.

Mengetahui saya tipe Fe dapat membantu saya lebih selow menghadapi perbedaan dengan perempuan lain di luar sana. Saya jadi lebih paham kepribadian bawaan yang Allah titipkan pada diri saya itu apa saja. Meliputi sifat, kecenderungan, kebutuhan dasar, harapan tertinggi, kebahagiaan yang paling dibutuhkan, refreshing paling sesuai dll yang dimiliki.

Itu kenapa di kasus depresi yang saya cerita di status wa kemarin, konsep STIFIn ini membantu memetakan kebutuhan dasar yang tak terpenuhi kira-kira apa. Pendekatan paling cocok untuk tipenya gimana, dst. Tentu tidak mengganti tugas para ahlinya ya. Tapi membantu efektivitas.

Saat kemarin berhasil bikin gepuk yang empuk dan enak alias disukai suami dan anak-anak, bagi saya yang memang kurang terampil di bidang masak memasak, menjadi kebahagiaan tersendiri. Yang bagi mereka para perempuan jago masak, mungkin itu hal sepele.

Konsep STIFIn memperkenalkan bahwa kebahagiaan saya salah satunya saat bercengkerama. Dan betul sekali. Bukan sugesti tapi setelah kontemplasi, ini benar adanya.

Ketika saya memuaskan kebutuhan eksperimen, enaknya sambil kumpul keluarga. Hal ini terpenuhi lewat masak.

Bareng anak-anak siapkan bahan, kupas potong ulek. Yah, meskipun ujungnya saya yang beresin ngulek 😂

Sebagai seorang pribadi, saya puas dengan hasil eksperimen. Sebagai istri saya puas bisa membelanjakan harta suami #eh. Sebagai ibu saya puas bisa memasakkan makanan bagi para manusia di rumah.

Dan itu diantara hal yang paling membuatku bahagia. Sebab bahagia itu bukan dicari, tapi diciptakan.

Apa yang paling membuatmu bahagia, temans?

Facebooktwitterpinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: