Happy Eid al-Adha

Idul Adha menjadi salah satu dari 2 hari raya umat Islam. Dan saya bersyukur setidaknya di tempat kami tinggal, takbir masih terdengar menggema dimana-mana. Shalat Id pun dapat dilakukan dengan tenang tanpa kekhawatiran atas ancaman pihak tak bertanggung jawab.

Masyarakat yang sadar akan esensi kurban dan berbagi pun masih cukup banyak. Ada 7 ekor sapi (dengan 7 nama pekurban tiap satu ekornya) dan 3 ekor kambing di mesjid tempat suami menjadi jamaahnya.

Idul Adha kali ini entah kenapa terasa berbeda. Ada bahagia membuncah tanpa diketahui penyebabnya.

Ketika anak-anak dengan semangat bangun menyambut hari raya bahkan beberapa hari ke belakang setelah hewan kurban mulai didatangkan dan cerita seputar kurban terdengar dimana-mana. Mereka antusias melaksanakan shalat Id dan bergegas ke masjid usai menyiapkan diri.

Mungkin bahagia itu karena ini kali pertama setelah menikah, saya melaksanakan shalat Id dan tanpa rengekan. Atau mungkin karena imam shalat yang suaranya begitu merdu dan tartil melafadzkan ayat al-Quran. Atau karena hal lain? Rasanya lega sekali usai menunaikan shalat Id kali ini. Seperti ada beban yang terlepas meski sedikit dan sekejap.

Membahas Idul Adha biasanya tak jauh dari cerita tentang kisah “asal mula” ibadah kurban ditetapkan. Kisah keluarga nabi Ibrahim a.s.

Cerita mengenai kisah Ibrahim dan Ismail menghiasi hari-hari menyambut Idul Adha di keluarga kami. Apalagi si sulung memiliki nama akhir Ismail. Maka ini saat yang dirasa tepat untuk menyampaikan harapan kami atas nama yang diberikan. Bagaimana kesabaran dan komunikasi seorang ayah bernama Ibrahim, kekuatan iman pemuda bernama Ismail, dan keteguhan seorang ibu bernama Hajar. Sungguh kisah teladan bagi keluarga muslim.

Saat bercerita, anak kedua kami bukan tidak dibahas. Tetap dibahas dalam pemaknaan nama Azam dan Nashrullah. Karena kisah kurban berkaitan erat dengan kebulatan tekad untuk taat pada Allah. Dan digantinya Ismail dengan domba adalah bukti pertolongan Allah pada hamba-Nya yang memiliki ketaatan dan kepasrahan yang luar biasa.

Semoga Idul Adha membuat kita semakin sadar bahwa ajaran Islam begitu indah. Bahwa berbagi itu bukan mengurangi tapi justru menambah. Menambah saudara, teman dan tentu saja tabungan pahala yang semoga dapat dikonversi menjadi penyebab hadirnya keridhaan Allah atas diri kita sehingga kita dimasukkan Allah ke dalam surga.

image

Selamat hari raya Idul Adha 1436H.
Tahun kelima sejak kelahiran Danisy zhuhur 10 Dzulhijjah 1431H dan 9 hari menuju tahun keenam pernikahan Chalim-Esa, dhuha 19 Dzulhijjah 1430H.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *