Hari Pertama Danisy Sekolah Sendiri

Hehe.. beberapa orang mungkin menganggap ini ga perlu. Tapi saya catat sebagai apresiasi saya terhadap anak sulung kami, Danisy.

Pertama kali Danisy sekolah sekitar 2 tahun lalu, sepulang mudik Agustus 2013 saat usianya belum genap 3 tahun. Keinginannya untuk masuk sekolah sangat kuat sehingga kami akhirnya mencarikan sekolah yang tidak terlalu terikat aturan ketat.

Alhamdulillah akhirnya memilih sekolah PAUD di daerah sekitaran sekolah SD saya dulu. Memilih daerah itu karena aktifitas saya dan suami banyak disana. Jadi saya pikir, biar sekalian.

Rupanya cukup sulit untuk bisa menyesuaikan waktu meski alhamdulillah semuanya lancar. Danisy sekolah dengan semangat meskipun lebih banyak main. Syukurlah gurunya mengerti bahwa usia Danisy memang masih masanya main. Paham dan tidak memaksa meski tetap dibujuk untuk ikut kegiatan sekolah.

Sekolahnya memang bukan sekolah favorit seperti sekolah anak teman-teman saya, tapi ketika itu memang hanya mencari sekolah dengan jadwal yang cukup fleksibel terhadap anak. Jaga-jaga jika sesekali Danisy tidak ingin sekolah.

Tahun pertama lancar hingga akhirnya saat prosesi wisuda tiba. Danisy ngamuk ga mau masuk kelas. Kenapa saya bilang ngamuk? Karena nangisnya beneran jerit-jerit mirip tantrum. Saya yang ketika itu sambil  menggendong Azam yang masih bayi agak kewalahan. Akhirnya minta mamah nyusul untuk bantu pegang Azam. Rupanya dia takut melihat fotografernya. Seorang bapak tua brewokan dan memang agak seram tapi cukup baik sih. Langganan sekolah.

Jadi tahun pertama yang seharusnya lulus, Danisy ga mau lanjut lagi. Minta pindah pas kebetulan pernah merasakan daycare yang menurut dia lebih menarik. Daycare yang ada di acara seminar ketika saya ikut seminar parenting. Ya, setelah itu kan daycare-nya ga ada lagi 😀

Tahun berikutnya mencari-cari sekolah karena ingin pindah sekolah. Sayangnya ketika itu saya sedang tidak bisa fokus menemani sekolah sehingga kami mengatakan pada Danisy, “Jangan sekolah dulu deh ya, A”. Danisy merengek ingin sekolah di playgroup yang cukup jauh dari rumah. Kami bujuk hingga akhirnya memilih “Sekolah di sekolah Aa yang lama aja” katanya. Itupun tidak sepenuhnya bisa ikut karena saya sedang -sok- sibuk kesana kemari.

Akhirnya tahun ini menguatkan kembali, oke Danisy mulai sekolah lagi. Tapi saya beri syarat: ga ditemani ya. Hanya diantar, nanti dijemput. Di sekolah hanya sama teman-teman dan guru, ga ditemeni ummi. Rupanya ia menjawab “Iya.”

Selasa adalah hari pertama Danisy sekolah lagi. Saya masih menemani. Rabu sepakat saya benar-benar hanya akan mengantar dan nanti dia dijemput.Saat saya diam sebentar, Danisy malah tanya “Ummi katanya mau anterin Aa aja?” akhirnya saya pulang deh.

Ketika dijemput saya ajak ngobrol, bagaimana perasaannya? Bagaimana pengalamannya selama sekolah?

Danisy menceritakan pengalaman hari pertama sekolah tanpa ditunggui ummi dengan semangat. “Alhamdulillah. Aa sudah bisa mandiri. Ummi seneng dan bangga.” dia menjawab dengan senyum bangga.

Tak terasa, sudah besar ya. Tahun depan insyaallah masuk TK. Bagi saya, Danisy bersedia sekolah sendiri, menjaga amanah yang saya titipkan, adalah sebuah kebahagiaan. Semoga Allah selalu menjaganya.

Pengalaman pertama saya membiarkan Danisy “bersama orang lain” sendiri. Melepaskan anak untuk tumbuh sesuai usianya. Belajar membiarkan ia tumbuh semakin mandiri, menjadi dirinya sendiri dan bersosialisasi dengan orang lain tanpa bayang-bayang orang tuanya. Tidak selamanya anak harus ada “di belakang orang tua”. Anak harus tumbuh sesuai usianya.

Kenapa ga HS? Saya dan suami sejauh ini sepertinya belum siap. Kreasi di rumah tetap ada, sebisa mungkin. Tapi untuk memutuskan HS, suami sendiri sudah angkat tangan. Saya tidak bisa memaksakan karena tidak bisa sendiri menjalankan HS.

Well, apapun itu mau sekolah di pendidikan formal atau home schooling, tetap harus kuat soal home-education-nya. Bismillah. Belajar lagi. Belajar terus. Semoga Allah menguatkan dan mengilhamkan segala kebaikan. Aamiin.

Barakallahu fik, Danisy. Semoga Allah senantiasa menjagamu selalu, agar senantiasa di jalan-Nya, tumbuh sesuai fitrah dari-Nya. Aamiin.

doa untuk anak

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *