Ibu Sebagai Poros Cinta

Menjalani peran sebagai seorang ibu mengajarkan saya banyak hal tentang dunia manusia. Rasanya peran ini mengharuskan saya paham banyak bahasan mengenai human development. 

Bersyukurlah bagi teman-teman yang belum menikah tapi sudah menjadi pendidik, sebab kalian bisa bersiap sebelum amanah itu hadir. 

Sedang bagi saya yang dulu persiapannya kurang, rasanya sekarang kejar-kejaran mencari ilmu dan menerapkannya. Jika ada yang senasib, tenang anda tidak sendiri. Hehe.

Meski demikian, kesadaran ini janganlah malah dijadikan beban. Minimnya ilmu yang membuat kita ingin belajar disana-sini juga perlu diatur. Sebab salah-salah bukannya menghasilkan pendidikan yang lebih baik, malah anak terbengkalai karena alasan nyari ilmu. 

Pengalaman saya yang merasa belum cukup berbekal, pernah jatuh pada kondisi dimana saya pada akhirnya malah overload informasi. Akibatnya bisa ditebak, saya bingung mana yang harus diterapkan sedangkan usia anak terus bertambah. 

Maka tips dari saya, tetapkan prioritas ilmu yang akan kita pelajari. Beberapa diantara yang mungkin dapat teman-teman pertimbangkan adalah sebagai berikut:

  1. Pendidikan anak dalam Islam
  2. Fitrah manusia
  3. Milestone tumbuh kembang anak

Prioritas ini karena selain belajar tentang dunia anak, kita juga perlu update tentang ilmu mengenai pasangan (suami istri) dan pernikahan. Sebab sebaik apapun teori parenting yang kita kuasai, jika aliran cinta antara suami istri kurang baik, energi negatifnya nyampe ke anak. 

Jika tidak menerapkan prioritas, akhirnya kita bingung mau ngapain aja nih. Rasanya ingin semua dipelajari biar perfect. Padahal untuk awal, penting memperhatikan hal-hal yang sifatnya pondasi entah pondasi pernikahan maupun pondasi pendidikan anak. 

Bahkan jika kurang pandai mengatur emosi, tidak adanya prioritas membuat ibu uring-uringan. Akibatnya? Bisa ditebak. Suami kena semprot, anak kena omel. 

Padahal kita sedang belajar untuk mereka kan? Apa untuk kepuasan pribadi aja biar disebut ibu yang hebat bisa didik anak-anaknya atau takut disebut ibu yang ga becus ngurus anak? Insyaallah bukan keduanya ya..

Dengan memiliki prioritas, emosi cenderung lebih mudah diatur sebab kita paham mana yang mesti didahulukan dan mana yang urgent dipelajari serta dipraktekkan. 

Selow tapi ga lamban. Perlahan, insyaallah pasti. 

Sebab ibu adalah poros cinta dan kewarasan. Sebah secara fitrah, perempuan diberi Allah kemampuan mencintai lebih banyak daripada laki-laki. Ibu diberi Allah kekuatan untuk menjadi poros tempat cinta suami dan anak-anak berlabuh.

Jika ibu bahagia dengan sebenar-benarnya (bukan memendam rasa dan pura-pura bahagia), maka rasa bahagia itu akan memenuhi seisi rumah. Memancarkan semangat yang tak dapat ditularkan oleh siapapun kecuali dari seorang ibu.

Ibu yang bahagia akan memancarkan keceriaan saat menyiapkan segala keperluan suami dan anak. Ibu yang bahagia akan menyebarkan sinar cinta kala mengantar suami dan anaknya berangkat keluar rumah lalu menyambut kepulangan mereka kembali usai beraktivitas.

Sebaliknya ketika ibu sedang sedih atau kecewa, rasa yang meski ia pendam tetap akan memancar melalui mata maupun ekspresi tubuhnya. Hingga semangat yang tadinya menjadi energi seluruh penghuni rumah, menghilang tak tau kemana.

Menjadi poros seringkali tak mudah. Kenali diri, apa saja kiranya yang menjadi penyebab emosi tak stabil. Ajak suami untuk saling memahami apa kiranya yang mengganggu stabilitas keluarga dan hubungan suami istri. Lalu sepakati bersama solusinya.

Menjadi poros membuat hampir sebagian besar tumpuan ada pada diri kita. Maka poros ini mesti senantiasa dijaga, diurus dan dirawat dengan baik.

Jagalah diri dengan keimanan, ibadah yang baik. Milikilah amal andalan yang selalu dijalankan secara berkesinambungan. Rayu Allah agar senantiasa menemani dan menjaga kita. Agar cinta tetap membara, dan kewarasan tetap terjaga. 

Ajak suami untuk memahami diri kita dan dirinya sendiri. Kenali anak-anak. Bangun bonding yang kuat. Teman-teman bisa menggunakan berbagai metode, tes biometrik STIFIn misalnya (seperti yang kami gunakan).

Jika dalam membangun rumah saja kita rela menunggu prosesnya, apalah lagi membangun “isi” rumah yang ini merupakan misi jangka panjang seumur hidup: diri, pasangan dan anak-anak.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *