Inspirasi Alquran Bagi Pendidik

Inspirasi Alquran Bagi Pendidik

Bismillah..

Satu ketika Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya oleh Sa’d bin Hisyam bin Amir tentang akhlak Rasulullah saw. Beliau menjawab: Khuluquhu al-Qur’an (akhlak beliau adalah Alquran).”

Alquran ibarat mata air tak bertepi. Semakin digali, seolah selalu muncul hal baru yang dapat menjadi inspirasi. Dan demikianlah tercermin dari hadits di atas bahwasanya alquran menjadi inspirasi akhlak bagi seorang muslim sebagaimana Rasul pun mencontohkan demikian.

Alquran: Kebenaran tanpa Keraguan

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya;” (QS Al-Baqarah ayat 2)

Berkaca pada ayat ini, seperti halnya alquran, maka penting bagi seorang guru senantiasa membawakan kebenaran dan senantiasa merujuk pada sumber-sumber yang shahih yakni alquran dan sunnah. Yakinlah pada keilmuan yang dimiliki, ajarkan hal yang memang betul-betul dikuasai dimana tak ada rasa ragu dalam menyampaikannya, serta tak ragu sedikitpun akan kebenaran yang coba disebarkan (sebab bersumber dari mata air yang jernih).

Jangan pula seorang pendidik menunjukkan keraguan atas apa yang ia dakwahkan, atas apa yang ia ajarkan. Sebab keraguan ini dapat menjadi penyebab peserta didik menjadi ragu pula.

Alquran: Petunjuk dan Furqon

“… bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah ayat 185)

Alquran di dalamnya terdapat petunjuk dan pembeda. Penting bagi seorang guru dapat memberi petunjuk yang benar, yakni memberitahukan, menunjukkan pada hal-hal yang benar dan harus mampu membedakan yang hak dan bathil.

Alquran: Penawar dan Rahmat

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS Al-Isra ayat 82)

Seorang pendidik hendaknya senantiasa membawa kepada rahmat Allah, menjadi penawar luka dan kekurangan atas peradaban yang ada, menyembuhkan “masyarakat yang sakit” dan senantiasa mengajak kepada hal-hal yang dapat menurunkan rahmat Allah.

Alquran: Memudahkan

Pendidik kiranya senantiasa memberikan kemudahan kepada para peserta didiknya. Bagaimana kah arti memberikan kemudahan itu? Misal, memahami cara belajar yang sesuai. Guru mesti lebih cerdas agar mampu menyikapi anak sesuai dengan tipe kepribadiannya. Paham bagaimana cara belajar yang sesuai bagi anak didiknya. Sebab akan ada kemungkinan cara belajar yang berbeda bagi setiap murid.

Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah; (QS Thaha ayat 2)

Seorang pendidik pun mesti paham metode atau cara mengajar. Agar membantu peserta didik untuk dapat memahami materi pembelajaran secara maksimal. Tentu dengan berpatokan pada adab dan syariat. Jangan sampai hanya mengejar metode tapi melanggar adab, etika dan syariat.

Pendidik tidaklah hadir untuk menyusahkan. Melainkan memudahkan.

Alquran: Tadzkirah (peringatan)

Seorang guru perlu memberikan peringatan kepada anak didiknya atas tindakan atau hal-hal yang memang salah.

Tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), (QS Thaha ayat 3)

Akan tetapi perlu menjadi catatan bahwa peringatan yang diberikan mesti sesuai usia, dan berilah peringatan dengan cara yang lemah lembut. Sebab ketika seorang pendidik bersikap kasar, tentu anak didik akan cenderung menghindar. Jika mereka menghindar, bagaimana mungkin pengajaran dapat sampai kepada mereka.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (QS Ali Imran ayat 159)

Ketika peserta didik melakukan kesalahan, maka maafkanlah mereka. Kemudian mohonkan ampunan di hadapan mereka agar mereka mendengar pula kesalahannya dan semoga menyadarinya.

Buatlah kesepakatan dengan peserta didik tentang apa-apa yang akan dijadikan aturan bersama. Ketika sudah bulat tekad kita mendidik dan sepakat atas aturan, maka bertawakkallah kepada Allah untuk perubahan maupun hasilnya. Agar Allah senantiasa tersenyum kepada kita.

Alquran: Cahaya

“… tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Asy-Syura ayat 52)

Seorang pendidik hendaknya menjadikan dirinya cahaya bagi peserta didik. Ia memberikan cahaya yang membawa pada jalan lurus. Cahaya yang tepat dan sesuai porsinya. Tidak terlalu redup, tidak pula terlalu silau hingga penerima cahaya memicingkan bahkan menutup mata karena tidak nyaman.

Disinilah seorang pendidik kembali perlu memahami tahapan. Agar dapat memberikan cahaya secara bertahap sesuai kebutuhan (dan kemampuan) peserta didik.

Cahaya macam apa yang dimaksud? Yakni ilmu.

Seorang yang tak memiliki ilmu niscaya ia seperti dalam keadaan gelap gulita, buta dan tersesat. Tak dapat melihat jalan yang terbentang di hadapannya. Bisa saja ia selamat sampai akhir, namun tak mustahil pula jika ia celaka. Na’udzubillah min dzalik.

Alquran: Memberi Syafaat bagi yang Membacanya

Seorang pendidik hadir untuk menolong peserta didiknya keluar dari kegelapan menuju cahaya terang dengan ilmu yang ia ajarkan. Semoga dengan diri kita mewujud sebagai penolong, kelak para peserta didik yang kita ajarkan dapat menolong/memberi syafaat kepada kita. Aamiin.

Bacalah Al Quran karena ia memberi syafaat pada para pembacanya pada hari kiamat,” (Hadits Ahmad Nomor 21126)

Alquran: Perniagaan anti-rugi

Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (al-Qur’an), mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dengan diam-diam maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. (QS Fathir ayat 30)

Disandingkan dengan shalat, nafkah (sedekah) membaca alquran dapat membawa kita pada bisnis yang selalu untung. Maka jadilah pendidik yang saat murid bertemu kita, menambah kebaikan mereka, menambah keimanan, ilmu dan hal-hal bermanfaat. Tentu dengan tetap menjaga muruah (kehormatan) seorang guru.

Pastikan akhlak seorang pendidik layak diambil adabnya, layak diserap keilmuannya. Sehingga tak pernah sekalipun seseorang yang bertemu dengan seorang pendidik merasakan hal yang merugikan dari pertemuan itu.

Bergetar Hati

Siapapun yang membaca alquran, hatinya akan bergetar. Maka ucapan seorang pendidik dapat menggetarkan hati para peserta didiknya, menambah keimanannya, tersentuh hatinya. Sebab semua perkataan yang berasal dari hati, perkataan yang berasal dari ilahi dan diutarakan secara ikhlas oleh pendidik dapat menyentuh hati terdalam manusia. Sehingga tak ada hal lain yang hadir melainkan tersentuhnya hati.

Demikian diantara inspirasi yang dapat diambil dari alquran bagi para pendidik. Semoga Allah memampukan kita untuk menjadi pendidik yang menjadikan alquran sebagai pedoman dan dasar setiap tindakan.

allahu a’lam bish-shawwab.

Catatan: setiap diri kita adalah pendidik, baik bagi diri, pasangan, anak, keluarga maupun masyarakat. Maka inspirasi ini berlaku secara umum bagi setiap muslim.

Sumber: Kajian guru Kuttab Bandung Barat, Selasa 24 September 2019 oleh Ustadz Rahmat Hidayatullah. Dengan beberapa penyesuaian dan penambahan insight yang didapat.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspita Facebooktwitterpinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: