Inspirasi Kisah Bilal – Perbaiki Niat Saat Resign dari Tempat Kerja

Pagi ini suami mengawali hari kami dengan obrolan mengenai Bilal bin Rabbah dan Wahsyi bin Harb. Dua budak yang memiliki nama harum dalam perjuangan Islam. Keduanya sama-sama budak, dengan perjalanan yang tidak sama. Awal percakapan aslinya banyak candaan dan komentar nyeleneh saya. Tapi tidak perlu diceritakan lah ya. Khawatir membuat blur ceritanya. Xixixi.

“Aa sedang melakukan refleksi dari kisahnya Bilal”

Kalimat pembuka ini membuat saya sempat berpikir, “kemana arah obrolan ini ya”..

Bilal, Wahsyi dan Perbudakan

Kisah Bilal bin Rabbah, nampaknya hampir semua orang tahu. Ia seorang budak hitam dari Habasyah (sekarang Ethiopia), dikenal sebagai muadzin Rasulullah.

Kisah Bilal yang sering kita dengar adalah, ia budak yang rela disiksa oleh majikannya demi mempertahankan keimanan. Dibaringkan di atas pasir gurun nan panas dengan ditindih batu besar. Kesabarannya berbuah manis, ia dibebaskan oleh Abu Bakar hingga jadilah Bilal seorang yang merdeka.

Wahsyi bin Harb, tak banyak yang mengenalnya. Ia adalah sosok yang berhasil membunuh si nabi palsu yang terkenal: Musailamah al-Kadzdzab. Dan.. ia pula yang membunuh Hamzah, paman Rasulullah. Dengan menggunakan tombak yang sama.

Arti Kemerdekaan Bagi Bilal dan Wahsyi

Bilal dan Wahsyi, keduanya adalah budak yang berasal dari Habasyah. Keduanya memiliki keinginan yang sama: menjadi merdeka, terlepas dari perbudakan. Akan tetapi, jalan yang ditempuh berbeda.

Bilal bin Rabah ingin merdeka karena ia bermaksud berkhidmat pada Allah semata. Ia ingin bebas beribadah pada Tuhannya. Tak apa jika prosesnya harus dilalui dengan kesabaran, siksaan, ujian dan kesulitan. Asalkan ia terbebas dengan cara yang baik.

Sementara Wahsyi bin Harb, apapun akan ia lakukan demi terbebas dari perbudakan. Baginya tak mengapa jika ia harus menerima tawaran dari Hindun binti ‘Utbah, seorang perempuan yang kehilangan ayah, suami dan anaknya dalam pertempuran di perang Badar. Tawaran yang menggiurkan karena Hindun menjanjikan kebebasan dan sejumlah harta yang cukup banyak.

Hindun menawarkan Wahsyi untuk membunuh satu dari 3 orang: Rasulullah, Ali atau Hamzah sebagai balas dendam atas kematian keluarganya. Wahsyi menyanggupi untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muthallib karena ia tahu diantara ketiga nama yang disebutkan Hindun, paman Rasulullah yang diberi julukan Singa Allah itu seringkali “membabi buta” dalam peperangan. Ia tahu bahwa Hamzah akan “lengah” terhadap sekitar. Sebuah pemantauan yang luar biasa.

Maka dalam perang Uhud, Wahsyi berhasil membunuh Hamzah dengan keahliannya dalam menggunakan tombak lembingnya. Lembing itu tepat sasaran, mengenai pinggang Hamzah tembus hingga keluar diantara kedua kakinya. Hamzah hendak melawan, namun rasa sakit yang luar biasa menjadikan Hamzah tak dapat berbuat banyak hingga akhirnya ia menemui ajal.

Usai memastikan Hamzah tak bernyawa, Wahsyi mendekati jasad Hamzah dan mencabut lembingnya. Lalu ia kembali ke jajaran pasukan Quraisy. Ia pun mendapatkan kemerdekaan.

Niat..

Dari kisah Bilal dan Wahsyi, suami menarik hikmah yang direfleksikan ke dalam kehidupan beliau. Semoga menjadi tambahan pertimbangan bagi siapapun yang sedang berencana untuk resign.

Permisalan ini bukan mutlak sehingga dianggap bekerja di tempat lain sebagai budak ya. Ini adalah permisalan yang terpikir dari refleksi kami saat dikaitkan dengan keputusan suami untuk berwirausaha.

Saat Bilal dan Wahsyi ingin “resign” (keluar) dari dunia perbudakan, keduanya memiliki niat yang berbeda. Tentu tidak bisa serta merta disamakan begitu saja dengan kondisi saat ini. Tapi semoga refleksi ini menjadi hal yang patut dipikirkan oleh teman-teman yang memutuskan untuk resign tapi diuji Allah atas niatnya.

Anda hendak dan memulai berwirausaha? Perbaiki niat

Saat memutuskan untuk resign, banyak penyebab yang mungkin tak sama di setiap orang. Suami termasuk yang resign karena situasi kerja yang tidak kondusif setelah berbagai upaya, dan menguatkan keinginannya untuk belajar lebih banyak di dunia arsitektur, sebagai seorang kontraktor yang memiliki kendali. Keputusan yang kemudian saya pahami dan maklumi setelah tahu beliau adalah tipe Thinking introvert.

Uniknya, bahasan niat ini adalah postingan terakhir saya di instagram. Seperti “klop”. alhamdulillah..

Niat menjadi seperti bahan bakar yang menentukan apakah kita sanggup menjalankan prosesnya atau tidak. Dan hanya diri kita yang dapat menilai dengan lebih jujur niat resign itu untuk apa sih? Apakah karena ingin lebih bebas menghamba pada Allah (karena di tempat kerja mungkin sulit untuk beribadah) atau “sekadar pengen bebas” tapi belum jelas niat besarnya.

Niat kita untuk “bebas” alias berwirausaha itu apa sih? Supaya kaya? Supaya hidup enak? Supaya ga disuruh-suruh orang dan kita jadi bos? Iya, tapi ga cuma itu. Sebab perjalanan berwirausaha pun di awal musti siap berdarah-darah.

Di kelas PPA ini disebut luaskan niat dan niat ikhlas lurus murni. Luruskan lagi niat anda kenapa ingin resign? Jangan sampai keputusan tersebut sebenarnya hanyalah pelarian diri karena ketidakmampuan kita beradaptasi dengan lingkungan. Sebab dunia kerja mengajarkan banyak hal, mengenalkan pada banyak orang dan tidak menutup kemungkinan untuk kreasi.

Yang perlu anda pastikan adalah: apakah keputusan resign ini lillahi ta’ala dan sudah sesuai dengan misi hidup utama? Atau hanya sekadar ikut-ikutan tren untuk berwirausaha?

Jika hendak memodel, maka pastikan yang dijadikan model adalah orang yang setipe dengan kita. Jika tidak, maka jangan telan bulat-bulat dan di-copy plek ketiplek. Sesuaikan lagi dengan kondisi dan kemampuan kita. Sesuaikan dengan diri kita. Pertimbangkan dengan matang.

Pastikan anda tidak meninggalkan “hutang” di tempat kerja anda baik itu berupa uang, benda maupun pekerjaan. Sehingga anda betul-betul bertanggung jawab pada diri dan amanah Anda.

Apakah dengan niat luas itu kemudian semuanya akan lancar?

Dalam setiap niat, akan selalu ada uji kelayakan. Disinilah kita akan benar-benar merasakan dan merefleksikan, apakah niat untuk resign itu sudah murni lillahi ta’ala atau bukan. Benarkah kita wirausaha supaya bisa lebih leluasa ibadah? Mungkin niat ini akan diuji dengan pertemuan atau proyek yang membuat kita “nanggung” sehingga tidak melakukan ibadah sebagaimana mestinya.

Benarkah kita wirausaha agar bisa membantu lebih banyak orang? Hingga saat ada yang meminta bantuan, kita mudah membantunya selama memang ybs benar-benar membutuhkan. Mampu memberikan toleransi pada pekerja saat mereka butuh “cuti” padahal proyek sedang dalam kondisi deadline, dst.

Saat awal terjun ke dunia wirausaha, mungkin kita harus mengalami berbaring di tempat panas, tertindih masalah yang berat, goncangan yang tak mudah, dsb sebagaimana yang dialami Bilal. Tapi karena niat kita murni karena Allah, maka semestinya hal itu menjadi penguat. Bahwa Allah sebaik-baik penolong. Ia sebaik-baik pemberi kebebasan. Maka perhatikan kembali perilakumu. Benarkah berwirausaha membuatmu menjadi semakin dekat dengan Tuhanmu?

Karena kesuksesan seseorang terlihat pada ibadahnya. Dimanapun dan apapun profesi kita, baik menjadi pekerja maupun wirausaha, pastikan ia semakin membuat kita dekat dengan-Nya.

Jika niat mulai melenceng, segeralah luruskan kembali. Saat kesulitan menimpa, ingatlah bahwa selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah pencapaian. Harga termahalnya adalah komitmen untuk tetap dalam jalan kebaikan dan kebenaran.

wallahu a’lam..

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *