Inspirasi Ummu Sulaim Bagi Para Perempuan Muslim

Satu ketika ingatan saya tiba-tiba memanggil kembali kisah indah yang pernah terjadi jaman dahulu kala. Tentang seorang istri yang darinya saya belajar bagaimana menyambut suami sepulang ke rumah dan menghadapi takdir yang pahit dengan demikian tenang.

Adalah Anas bin Malik menceritakan kisah tentang ibundanya, kala satu ketika mengalami sebuah kondisi dimana putranya Abu Umair jatuh sakit hingga parah. Sang suami, Abu Thalhah, amat khawatir akan keadaan sang anak. Namun, Abu Thalhah harus keluar karena satu keperluan dan meninggalkan sang istri beserta anaknya.

Sepulangnya Abu Thalhah, ia bertanya pada sang istri mengenai keadaan putranya. Dengan tenang Ummu Sulaim menjawab, “anakmu sudah dalam keadaan tenang” kemudian melayani suaminya, memenuhi kebutuhan perut, mata dan farjinya.

Usai memastikan sang suami puas, berkatalah Ummu Sulaim, “jika satu kaum menitipkan sesuatu kepada sebuah keluarga kemudian meminta kembali titipannya, bolehkah keluarga tersebut menolak?” Abu Thalhah menjawab tegas, “Tentu tidak!”.
“Maka harapkanlah pahala atas kematian anakmu.”

Kisah lengkapnya, silakan teman-teman baca di buku Biografi 35 Shahabiyah (yang merupakan terjemahan dari kitab Shahabiyat Haula Rasul) atau di berbagai sumber online yang dapat dipercaya keshahihannya ya.


Penggalan kisah Ummu Sulaim ini memberikan saya pelajaran tentang bagaimana contoh seorang perempuan bersikap apalagi dalam kondisi “genting” tapi suami baru sampai rumah. Dan salutnya, keluarga mereka tahu tapi menghormati permintaan Ummu Sulaim untuk tidak mengabarkan tentang kematian Abu Umair kepada Abu Thalhah karena ia sendiri yang akan memberitahukannya.

Masih ingat bahasan tentang perbedaan lelaki dan perempuan? Nah, kisah Ummu Sulaim ini adalah contoh real dari praktek ilmu memperlakukan dengan tepat 😀

Ketika Abu Thalhah memasuki rumahnya, Ummu Sulaim bisa jadi dalam keadaan “sedih”. Siapa yang ga sedih anaknya meninggal. Tapi Ummu Sulaim ngga memperlihatkan itu. Dilayani dulu suaminya. Disediakan makanan minuman, si istri tampil cantik, ketika ditanya tentang kabar anak sang istri menjawab dengan tenang tidak bohong tapi juga tidak blak-blakan. Kalimat “anakmu dalam keadaan tenang” itu kan bener, tapi juga tidak mengatakan “tenang karena sudah meninggal”. Dan Ummu Sulaim melayani suaminya di ranjang hingga puas, baru memulai pembicaraan.

Kalau diibaratkan dengan kondisi jaman now, mungkin ini seperti: suami capek kerja di luar, baru pulang pengennya rehat dulu sebelum diajak cerita. Sementara kondisi istri di rumah dengan anak-anak dan segalanya yang bikin uwow pengennya suami pulang tuh bisa jadi tempat ceritaaa segala rasa yang ada. Curhat segala rupa. Biar langsung plong perasaan.

Kalau kita lirik lagi kisah Ummu Sulaim, kondisi hatinya sedang tak karuan ditinggal anak. (Meskipun kita tahu kesabaran Ummu Sulaim yang luar biasa dalam menerima takdir ya). Tapi ketika suaminya pulang, yang ada Ummu Sulaim ini bersikap tenang, memenuhi dulu kebutuhan suaminya. Setelah sang suami tenang, baru beliau cerita. Yah, meskipun Abu Thalhah sempat marah juga sampai mengadu para Rasulullah, tapi justru berbalas doa dari sang sosok mulia.

Pelajaran yang saya ambil dari kisah Ummu Sulaim ini adalah:

  1. Saat suami pulang, sambut dengan gembira. Tahanlah sejenak setiap rasa yang tengah berkecamuk dalam dada. Tahan untuk tidak langsung bercerita. Biarkan ia istirahat sejenak melepas penatnya usai berbagai aktivitas di luar rumah.
  2. Layani kebutuhannya terlebih dahulu dengan baik. Hal yang perlu dipenuhi untuk seorang lelaki adalah urusan perut (makanan dan minuman), mata (penampilan istri) dan di bawah perut.
  3. Tampillah cantik saat menyambut suami pulang. Karena tampil cantik juga bisa meningkatkan rasa percaya diri kita sebagai perempuan. Bawaannya kan perempuan suka bersolek, lelaki suka perempuan yang bersolek. (Bersolek ga berarti mesti dandan yang gimanaaa gitu ya, tapi mengenakan pakaian terbaik depan suami juga bisa. Plis kalo beda pendapat, abaikan aja kalimat terakhir ini ya. Hoho)
  4. Obrolan di ranjang usai berhubungan badan dikenal sebagai salah satu waktu ngobrol terbaik. Ummu Sulaim mencontohkan ini. Maka jika ada hal yang sangaaatt berat atau penting atau semacamnya, mungkin bisa dicoba obrolan pasca pemuasan kebutuhan di ranjang. Karena biasanya jika mencapai orgasme, baik suami maupun istri dalam keadaan ridho, hatinya tenang dan lebih lapang. CMIIW ya.
  5. Jika diperlukan, gunakan perumpamaan dalam mengkomunikasikan hal-hal yang sekiranya akan menjadi bahasan kurang menyenangkan, menegangkan atau berpotensi konflik. Semacam power question
  6. Pilih kalimat yang baik dan lembut saat berbicara dengan suami, terutama ketika membicarakan hal-hal strategis, bahasan besar, atau obrolan yang penting. Pilihlah kalimat yang baik dan sertakan pengingat kepada Allah.
  7. Menyadari semua adalah titipan membuat kita akan jauh lebih tenang ketika kehilangan, baik itu harta, pasangan maupun anak. (yang pasti ini kudu latihan terus. Lha wong urusan kehilangan dompet beserta kartu-kartu di dalamnya aja bikin freak out dua minggu. Wehehe.. Mangat latihan ya temans. Cari temen yang bisa saling ngingetin terus.)
  8. Berprasangka baik kepada Allah adalah penguat yang dapat menjadikan kita jauh lebih sabar atas segala takdir yang menimpa. Ketika suatu hal buruk terjadi, wajar ada rasa ingin menyalahkan orang lain. Tapi ingat, segala sesuatu terjadi atas izin Allah maka kembalikanlah segala urusan kepadaNya.
  9. Kekuatan iman seorang perempuan, seorang istri dan ibu dapat menjadi penyebab hadirnya rahmat dan keberkahan Allah. Hal ini terbukti dari tumbuhnya Anas bin Malik yang luar biasa, Abu Umair yang menawan dan Abdullah, sang anak yang lahir dari pelayanan Ummu Sulaim di malam itu, memiliki keturunan 9 orang anak yang seluruhnya penghafal alquran. Masyaallah. Semoga kuatnya iman kita menjadi sebab keberkahan untuk keluarga. Utamanya suami dan anak keturunan. Aamiin.

Semoga kita bisa belajar dari Ummu Sulaim ya. Sepenat dan sekacau apapun kondisi hati, kita simpan dulu sampai suami kondusif untuk dijadikan tempat cerita. Izinkan ia mengambil jeda agar reda lelahnya. Dan izinkan diri mengambil jeda agar lebih bisa jernih bersikap.

Semoga dengan kemampuan menahan diri, menjadikan kita diizinkan Allah meraih berkah dan rahmat sejati. Semoga Allah senantiasa menguatkan jiwa dan hati agar terjaga di jalan yang diridhai.

Betapa indah contoh yang diberikan Ummu Sulaim untuk para perempuan di dunia.
Dukanya tak menghentikan ketaatannya. Ketenangan dan kecerdasannya luar biasa. Dan dalam setiap kehilangan, ada harap untuk kembali berjumpa. Kelak, di surgaNya.

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Facebooktwitterpinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: