Ironi

Malam ini diingatkan tentang sebuah rasa bernama syukur. Sering kita melupakan nikmat yang Allah beri karena kita kurang bersyukur. Merasa hidup paling menderita “hanya” karena kehidupan tidak berjalan seperti apa yang kita inginkan.

image


Bercerita tentang syukur, kali ini saya ditegur melalui sebuah IRONI. Ironis dengan kehidupan yang dijalani oleh orang lain. Jalan hidup yang ketika berhadapan dengan mereka, kita dipaksa untuk tetap tersenyum. Karena mereka sendiri nampak ceria tiada keluhan.

Adalah kehidupan desa tidak mudah dijalani meski kebun dan sawah luas terbentang. Rupanya kekayaan alam tetap saja dimiliki oleh mereka yang memiliki harta, atau mereka yang memiliki ilmu.

Adalah ilmu mengalami kesempitan makna secara paksa. Jika tak membahas sekolah, ianya bukanlah sesuatu yang patut diperjuangkan.

Ironi masyarakat pedesaan adalah hidup kekurangan di tengah kekayaan alam. Sebagian dari mereka putus sekolah karena tak mampu, sebagian karena tak mau, sebagian karena diharuskan memilih takdir yang lain.

Maka salah satu hal yang patut kita syukuri saat ini adalah kesempatan kita menuntut ilmu di bangku sekolah meski sekadar sampai tingkat SMA. Kesempatan yang tidak mudah didapatkan anak-anak desa dengan hidup serba pas-pasan dan kurangnya informasi serta kesadaran akan pentingnya ilmu. Hanya orang kaya yang bisa menyekolahkan anaknya sampai bangku SMA apalagi sampai jenjang perguruan tinggi. Nilai yang melekat hingga begitu membuat nafas tercekat.

Ironi masyarakat pedesaan ini kemudian merambat pada faktor ekonomi lainnya: pekerjaan. Menjadi buruh tani yang untuk merasakan hasil taninya sendiri jarang mereka nikmati kecuali “sisa”. Ya, hasil tani sortiran yang tak masuk kualifikasi kualitas tanaman. Tak jarang sekadar upah seadanya dengan bonggol saja.

Tanah luas di pedesaan tidak menjamin kekayaan pemiliknya. Jika di kota kita bisa mendapatkan kehormatan karena besarnya lahan yang dimiliki dan luasnya rumah yang ditempati, maka di desa adalah hal lumrah yang kemudian berbalik menjadi ironi lainnya di pedesaan. Luasnya lahan hanyalah lahan. Tak semua dapat dikonversi ke bentuk nilai tukar yang menggiurkan.

Saat di kota-kota pencarian asisten rumah tangga membludak, masyarakat desa berbondong mencari peruntungannya disana. Meninggalkan keluarga untuk mengurus keluarga orang lain, meninggalkan anak tercinta untuk mengurus anak orang lain. Ironi sekadar untuk menyambung hidup dan mencapai impian semoga berada di kehidupan yang lebih baik kelak.

Ketika permintaan pembangunan rumah-rumah meningkat, para lelaki bersaing melamar menjadi buruh bangunan. Membangun rumah orang lain sementara dirinya bahkan tak memiliki rumah tinggal yang layak.

Jika di kota obrolan para ibu seputar pergolakan ibu bekerja dan ibu rumah tangga, maka di desa sekadar “urus anak atau bantu keuangan keluarga?”. Keduanya nampak sama tapi sangat jauh berbeda tujuan dan penyebabnya.

Jika di kota obrolan para orang tua adalah biaya masuk sekolah anak dari yang murah hingga puluhan juta, maka di desa sekadar “lanjut sekolah atau bantu cari uang?”

Beberapa orang tua di desa hanya bisa mendukung keputusan sang anak yang memilih berhenti sekolah dan merantau mencari kerja. Selain karena kurangnya kesadaran akan pendidikan, mereka lebih realistis memikirkan biaya sekolah dan pendapatan. Ada harga yang harus dibayar untuk semua keputusan. Tak melulu soal finansial.

Ketika di kota obrolan seputar jalan-jalan, maka di desa hiburan mereka sederhana. Saat kendurian atau ketika ada arak-arakan melewati rumah mereka. Sekejap saja tapi nampak begitu membahagiakan.

Kebahagiaan masyarakat pedesaan seringkali sederhana. Saat panen berhasil meski keringatnya tak jarang hanya dihargai seratus dua ratus rupiah.

Kebahagiaan masyarakat pedesaan seringkali sederhana. Saat mereka dikunjungi seorang guru yang mengajar anak mereka. Rasa haru bercampur bangga seperti mendapatkan harta yang luar biasa.

Maka sebagai seseorang yang lahir dan besar di kota, di desa kelahiran suami inilah saya belajar banyak. Belajar tentang arti kerja keras, tentang kesederhanaan hidup, tentang mimpi, tentang pengorbanan, tentang kekeluargaan dan tenggang rasa, tentang rasa syukur, tentang kesabaran, serta tentang betapa sederhananya kebahagiaan.

Ironi yang memberikan banyak pelajaran.

Kebumen, 8 Syawal 1436H
Jumat malam, pelajaran setelah menerima tamu..

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *