Jangan Biarkan Anakmu Mengalah

Egosentris adalah salah satu sifat yang lazim ada pada periode tumbuh kembang anak terutama di usia balita. Pada fase ini anak belajar mengenai sifat ke-aku-an, mengenal kepemilikan barang dan nantinya berujung pada sikap berbagi jika diapresiasi dengan benar pada fasenya.

belajar dari anak


Diapresiasi dengan benar disini bermakna, kita tahu persis tentang fase egosentris, memahami kenapa ada sikap ini dan tahu bagaimana harus menyikapi fase ini. Jika orang tua dan anak mampu melewati salah satu fase penting tumbuh kembang anak ini, insyaallah kelak akan tumbuh pribadi anak yang lebih baik.

Fase tumbuh kembang anak tidak semua dapat dimengerti oleh orang awam. Sebagian dari mereka kemudian menganggap anak yang sedang dalam fase egosentris ini adalah anak yang pelit atau anak yang egois dan keras kepala. Hal ini berujung pada pelabelan anak. Padahal jika orang tua (dan masyarakat) tahu mengenai fase tersebut, disinilah saat tepat menanamkan secara perlahan sikap berbagi.

Kenapa dikatakan perlahan? Karena anak butuh proses belajar yang tidak instan.

Mulanya anak belajar “ini milikku, jangan ganggu aku”, “ini miliknya, harus kumiliki juga”. Lalu belajar tentang konsep berbagi dan meminjam “ini milikku, mintalah izin padaku”, “ini miliknya, mintalah izin padanya”.

Pengenalan secara bertahap ini butuh perjuangan yang tak mudah. Biarkan anak memenuhi sikap egosentrisnya terlebih dahulu agar ia paham konsep kepemilikan dan nantinya paham tentang “meminjam” dan “meminta izin”.

Hal ini nampak sepele tapi penting untuk perkembangan anak. Di saat ia beranjak besar, ia memiliki kepercayaan diri untuk mempertahankan kepemilikannya, bahkan mampu mengambil keputusan sendiri apakah perlu meminjam, perlukah meminjamkan miliknya, dan tahu cara menolak dengan baik permintaan orang lain.

Anak yang sudah terpenuhi fase egosentrisnya akan tumbuh lebih percaya diri. Percaya bahwa orang tuanya memberikan ruang cukup untuk pemenuhan pribadinya.

Jika anak sedari kecil “dipaksa” untuk mengalah, anak akan menyimpan informasi bahwa “pokoknya aku harus mengalah meskipun aku ga suka”. Mungkin sekilas nampak tak masalah, tapi jika ditelisik lebih jauh justru disitu masalahnya. Anak tidak belajar mempertahankan diri, anak tidak belajar menimbang dan memutuskan sendiri. Yang ada, anak harus selalu mengalah pada tamu apalagi pada anak lain yang lebih muda usianya. Ia membiarkan dirinya “dijajah” oleh pemaksaan kehendak orang lain. Ia akan membiarkan dirinya untuk tidak berpendapat sedikitpun, tidak memprotes orang tua dan tamu.

Kejadian pemaksaan kehendak ini seringkali dianggap lumrah di masyarakat karena merasa tidak enak pada tamu atau kasihan adik kecil. Tidak salah memang, tapi kurang tepat. Kurang tepat jika dihadapkan pada balita yang sedang ada di fase egosentris.

Anak secara naluri memiliki cara tersendiri untuk menyelesaikan konflik diantara mereka sesama anak-anak. Jika orang tua mau membiarkan beberapa saat setelah konflik terjadi, mereka biasanya sudah punya solusi terbaik diantara mereka.

Hanya saja pembiasaan permakluman ini terkadang yang membuat sebal. Ketika anak kita sedang mencari solusi, anak orang lain sudah kadung mengadu pada orang tuanya lalu orang tua anak itu turut campur. Atau anaknya menangis dan orang tua mencoba meredakan dengan basa-basi yang membuat kita tak enak sendiri. Malu rasanya ternyata anak kita membuat tamunya menangis. Kemudian kita turut campur meminta anak mengizinkan mainannya dipinjam. Anak tetap pada pendiriannya, terjadilah cekcok “membujuk” hingga tak jarang justru anak kita balik menangis karena merasa “terancam”.

Meskipun ujungnya mainannya dipinjamkan, bisa jadi anak kemudian menyimpan rasa kecewa. Kecewa karena orang tua mempermalukannya di hadapan para tamu dan menurunkan kepercayaan dirinya di hadapan anak lain terutama anak yang usianya lebih kecil. Betapa menyakitkan dipermalukan di depan umum. Hati dan harga dirinya terluka.

Tak hanya dengan tamu, tapi juga terhadap adiknya. Jika saja orang tua mau membiarkan anaknya sejenak, tidak reaktif, pada dasarnya si kakak sedang mengajarkan sang adik tentang arti kepemilikan dan menghormati orang lain. Tidak selamanya kakak harus mengalah pada adik, tidak selamanya semua keinginan harus dipenuhi. Baik kakak maupun adik sama-sama belajar tentang cara bersikap yang semestinya.

Mungkin mereka akan bertengkar, adu argumen bahkan hingga adu fisik. Tegur seperlunya saja tapi tidak ikut campur menyelesaikan masalah. Jika diperlukan, orang tua cukup mengarahkan bagaimana tindakan yang sebaiknya dilakukan kakak maupun adik.

Jadi, jangan biarkan anakmu mengalah terus menerus. Ada masanya anak harus mempertahankan keinginannya, mengutarakan pendapatnya, berbagi atas kesadarannya.

Mari terus belajar menjadi orang tua dari anak-anak.

Kebumen, 9 Syawal 1436
Di tengah dinginnya dini hari menjelang shubuh.

Salam hangat, Esa Puspita
Family Development Enthusiast
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *