Jangan Biarkan Kekuranganmu Menang

​#recommendedbook

Don’t let your ability win

Demikian salah satu penekanan isi buku “Inilah Jihadku” ini. Sebuah motivasi semangat sekaligus inspirasi mengenai bagaimana berdamai dengan segala kekurangan. Kekurangan bukan hanya dari sisi fisik tapi juga kekurangan lainnya yang menghambat kita berkembang ke titik terbaik.

Tak lupa ada keyakinan, keimanan dan peran orang tua disana untuk menguatkan. Tapi sisi terbaiknya memang anda harus membaca sendiri buku ini. Banyak pelajaran kehidupan termasuk “penjelasan ayat” yang sederhana tapi baru saya dapatkan di dalam buku ini.

inilah jihadku

Buku ini juga membahas sekilas bagaimana islam dan disabilitas, bagaimana Rasulullah benar-benar memperlakukan umatnya dengan sedemikian adil. Bukan melihat fisik tapi melihat kemampuan yang tersembunyi di dalamnya. Sebagaimana Ibnu Ummi Maktum yang tuna netra pernah ditunjuk jadi “PLT” pemerintahan kala Rasulullah harus bertugas meninggalkan kota sementara waktu. Seorang tuna netra dipercaya menjadi pemimpin pengganti sementara saat Rasulullah tugas ke luar kota. Luar biasa bukan? Dan masyarakat taat serta patuh pada keputusan tersebut. Ada kemampuan Ibnu Ummi Maktum yang tidak dimiliki sahabat lainnya dalam menggantikan kepemimpinan sementara, bukan berbicara tentang dia yang tak bisa melihat dunia.

Bahasa bukunya ringan meski sedikit agak nyastra. Tapi tetap tidak terlalu berat kok. Bisa dihabiskan dalam hitungan jam atau hari. Apalagi jika tahu bagaimana buku itu berhasil ditulis, tentu waktu yang kita habiskan untuk membaca buku ini jadi terasa tidak sebanding.

Dan hal yang paling ditekankan adalah: jangan sampai keterbatasan mengalahkanmu. Meski di buku ini fokus membahas keterbatasan para difabel, tapi sesungguhnya juga mengajarkan arti perjuangan untuk segala jenis keterbatasan (dalam arti fisik maupun non fisik).

Buku “Inilah Jihadku” pun memberikan gambaran perbandingan perlakuan difabel di Indonesia, Qatar dan Inggris. Yang kemudian rasanya jadi pe er untuk kita semua agar di negara kita, mereka yang memiliki keterbatasan diberi ruang yang sama untuk tumbuh maksimal dengan potensi dirinya sebagaimana di Qatar maupun Inggris. Bukan dibatasi dan “dikasihani”. Apalagi Indonesia adalah negara dengan mayoritas muslim yang semestinya lebih dalam lagi mempelajari bagaimana Allah dan Rasul-Nya mengajarkan bersikap adil terhadap semua orang, tak peduli fisik maupun keadaannya. Semua berhak mendapatkan hal yang setara.

Buku ini ditulis oleh seorang Asphyxia Neonatal. Gangguan sistem pernafasan yang berakibat kadar oksigen berkurang kemudian berdampak pada kondisi fisik dimana pertumbuhan lambat dan beberapa saraf tubuh tak berfungsi. Zulfikar, panggilannya. Dan saat ini ia tengah mengenyam pendidikan S3 di Manchester, Inggris. Menginjakkan kaki di #Inggris adalah salah satu mimpinya sejak kecil.

Perjalanan Fikar menuju Inggris memang tidak mulus. Tapi dari buku ini saya secara pribadi belajar, bahwa mimpi itu menjadi bahan bakar kehidupan kita. Pemahaman terhadap ayat-ayat Allah menjadi pondasi dan penguat. Dan percayalah, Allah senantiasa mencatat mimpi kita. Jika ia baik, meski berliku, maka kita akan tetap sampai pada mimpi itu. Luaskan mimpimu agar tidak hanya sekadar untuk pencapaian diri tapi juga kebermanfaatan pribadi.

Selamat menembus batas. Dengan syariat sebagai satu-satunya batas.

#asphyxianeonate #AsphyxiaNeonotorum #AsphyxiaNeonatal #Difabel #BukuBagus

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *