Jangan Kalah Sama Anak

Pagi ini, anak-anak bujang berangkat ke sekolah dengan menggunakan angkot dan lanjut berjalan kaki. Kenapa ga bareng Ummi? Kan sekolahnya sama dengan tempat Ummi ngajar?

Kesepakatan anak-anak dengan abinya, kalo ingin berangkat bareng Ummi mesti bergegas. Jika susah dibangunkan dan dalam sekian waktu ga bangun juga, maka benefit itu hilang berganti dengan berangkat sekolah sendiri.

Sebagai ibu, naluriahnya ga suka sama aturan itu. Tapi sebagai seorang istri, saya mesti taat. Lagipula itu sudah mereka sepakati.

Sebetulnya ini kali kedua mereka ngangkot ke sekolah. Hanya saja, saat kali pertama, saya menunggu di pemberhentian angkot untuk kemudian lanjut ke sekolah bareng. Sedangkan kali ini mereka jalan kaki.

Menjadi orang tua mesti tahu kapan tegas dan tega. Dan akan berjalan dengan baik ketika ayah dan ibu hadir dalam proses pendidikan anak. Fitrah sifat raja tega yang Allah anugerahkan pada lelaki dibarengi dengan sifat pembasuh luka yang Allah titipkan pada perempuan akan menjadi penyeimbang. Sebab semesta dibuat sedemikian rupa agar selalu seimbang. Pun dalam tumbuh kembang seorang anak.

Jangan kalah sama anak. Ketika berjanji akan memberikan sesuatu jika sudah mencapai sebuah pencapaian tapi karena rengekan anak maka kita memberikan hadiahnya tanpa pencapaian diselesaikan. Atau kala ancaman hanya di mulut dan iming-iming tak berwujud, anak akan kehilangan kepercayaan atas ucapan orang tuanya.

Maka jangan “kalah sama anak”. Seimbanglah menempatkan kapan mesti mengikuti keinginan anak dan kapan tegas pada anak. Semoga dengan demikian, adversity quotient nya terlatih dengan baik. Sebab dunia nyata tak selalu memberikan apa yang Anak inginkan. Jadikan mereka kuat di masa mendatang.

Wallahu a’lam.

Beberapa hari kemudian, saat dalam perjalanan menuju sekolah, anak-anak bercerita bahwa ketika naik angkot, angkot yang mereka tumpangi belok dulu karena ada penumpang seorang nenek akan turun dengan bawaan yang cukup banyak. Kasihan, kata si sopir angkot.

Hikmah dari perjalanan angkot anak-anak, mereka belajar apa itu empati. Meskipun saat ditanya apakah mereka menolong si nenek, dijawab “tidak” hanya mamang sopirnya saja yang turun bantu. Lalu saya sisipkan nasihat, lain kali saat ada yang butuh bantuan, bantu sebisa kalian. Dan mereka menjawab “iya” alhamdulillah.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspitaFacebooktwitterpinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: