Kadang yang Asli itu Pahit!

Beberapa waktu lalu ada surprise kecil dari suami. Sepaket makanan yang pernah terbersit saja ingin menikmatinya tapi sudah lama tidak menyengajakan mampir sebab memang anak-anak tidak terlalu suka dengan menu yang ditawarkan.
Sampailah saya pada momen dimana minuman yang dibawa dibuka dan coba dinikmati. Begitu sampe mulut, waaaawww pahit 😀
Pengalaman pahit ini (jyaaa) kemudian saya bagi di grup. Ya istilah kerennya mah curhat. Wehehe.
Ditimpali sama temen-temen di grup. “Iya itu namanya Ocha teh”. Wah wah. Familiar sama nama itu? Saya sih familiar. Sebuah produk di dalam sebuah iklan 😂
kadang yang asli itu pahit
Kritikan ibarat teh hijau murni. Pahit tapi menyehatkan.
Saya sendiri pernah mencoba produk bernama belakang ocha itu. Cuma ya kan ga ngerti aslinya ocha itu apa. Ternyata sejenis teh hijau.
Akhirnya si air hijau yang menurut temanku itu adalah ocha, jadi terpikir. Kadang produk “modifikasi” itu memang enak di lidah. Tapi ternyata “produk asli”nya pahit, tidak nyaman di lidah tapi insyaallah cukup baik untuk badan.
Dalam kehidupan kita secara umum pun hal-hal seperti itu terjadi. Beberapa hal atau produk dimodifikasi agar sesuai selera dan sesuai kebutuhan. Sayangnya kemudian kita tidak siap akan pahitnya rasa asli.
Menghadapi kritik misalnya, mirip seperti menikmati ocha. Pahit meski disajikan dengan sangat menarik sekalipun. Lalu kita yang tidak terbiasa akan lebih memilih terbuai dengan modifikasi dan lebih senang menikmati pujian semu atau kritik yang disajikan dengan “gula” pemanis buatan penyebab manis sesaat. Manis di lidah tapi tak terlalu baik untuk dicerna.
Ocha asli harganya justru lebih mahal dibandingkan ocha modifikasi yang diproduksi secara massal. Tak semua orang siap dengan pahit dan harga yang harus dibayar. Padahal penyaji ocha profesional pun tidak bisa sembarangan menyajikan karena adanya cara khas penyajian dengan ocha terbaik pilihan agar rasa yang didapat adalah tepat.
Sehingga untuk mendapatkan kritik yang berbobot atas diri kita pun terkadang membutuhkan uang yang tak sedikit. Coaching, misalnya. Biaya yang dikeluarkan bisa membuat kita mengernyitkan dahi. Tapi memang kemudian dapat membuat kita memperoleh “rasa” yang “tepat” untuk berkembang dan semakin baik setiap harinya.
Maka, mari kita nikmati ocha yang sudah dibelikan oleh suami. Dan sesekali boleh lah menikmati ocha modifikasi 😁
Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *