Kecepatan yang Berbeda

Kecepatan yang Berbeda

Dalam perjalanan menjadi orang tua (dan pendidik), akan ada kemungkinan hadir momen dimana anak mulai memasuki fase ingin mandiri. Sebagaimana alamiah terjadi pada fase tumbuh kembang seseorang, perlu tarik ulur dan hal yang “dikorbankan” untuk kebaikan di masa mendatang.

Sore ini, sekelibat pikiran itu muncul. Saat menanti Danisy datang kala mendampingi ia pulang-pergi naik sepeda dari sekolahan. Sebab saya, dan 2 anak naik motor sedangkan si sulung naik sepeda.

Reflek berucap pada anak kedua saya, Azam,

Begitulah seorang ibu, Mas. Ada kalanya mesti berhenti untuk memastikan anaknya sampai.

Ya.. Ummi bisa saja lanjut. Tapi sudah berjanji akan mendampingi. Maka Ummi perlu memastikan Aa terlihat ataupun Aa melihat Ummi. Meskipun saya tidak selalu ada di sekitar si sulung.

Saat itu langsung terpikir.. Ada kalanya sebagai orang tua, kita mengalah dalam mengejar impian. Berhenti sejenak untuk memastikan anaknya sampai pada tujuan sesuai perkembangan. Lalu melesat saat tiba masanya.

Bukankah tak jarang kita melihat, seorang ibu yang resign dari pekerjaannya demi menemani sang anak. Tak sedikit ayah yang mengorbankan pekerjaan impiannya agar bisa memberikan pendidikan terbaik bagi anaknya.

Dan banyak orang tua yang rela mengorbankan harta, pikiran, tenaga agar anak-anaknya tumbuh dengan baik. Utamanya, tumbuh sebagai hamba Allah yang taat dan mampu menjadi khalifah.

Saya sendiri merelakan resign saat si sulung dulu sakit, bertahun belajar menahan ego untuk fokus pada suami dan anak. Hingga perlahan Allah mempertemukan saya dengan berbagai jawaban impian dan doa.

Meskipun saya menyadari belum maksimal membersamai suami dan anak. Tapi setidaknya saya tau bahwa tidak mudah untuk berhenti sejenak.

Dibutuhkan alasan yang kuat dan pengingat yang sabar untuk membersamai kita melewati rintangan yang menghadang.

Kecepatannya Berbeda

Saya kemudian tersadar. Perjalanan orang tua dan anak itu jika diibaratkan motor dan sepeda, orang tua sudah di tahap kecepatan motor sementara anak masih di kecepatan sepeda.

Kecepatan kita sebagai orang tua diakui atau tidak, ada di titik yang berbeda dengan anak. Sekuat apapun ia berusaha memenuhi standar orang tua, mengikuti kecepatan orang tua, mereka “hanyalah sepeda”. Yang gowesannya meski dipaksa maksimal, tetap sulit mengejar kecepatan motor. Maka sebagai orang tua, kitalah yang perlu menyesuaikan dengan kecepatan anak.

Orang tua terkadang menuntut bisa ini itu karena melihat anak sebagai sosok diri kita versi kecil. Kadang kita juga membandingkan anak dengan diri kita di usia yang sama. Bahkan menjadikan anak sebagai pelampiasan obsesi masa lalu yang tak sempat kita gapai.

Kita lupa bahwa mereka bukanlah diri kita. Bahkan bukan diri kita versi kecil sekalipun.

Mereka adalah sosok pribadi yang berdiri sendiri, diciptakan Allah untuk peran spesifik yang bisa jadi tak sama dengan kita sebagai orang tuanya. Meskipun pasti ada irisannya.

Paham Fase Anak

Menyadari perbedaan ini, adalah mutlak menjadi sebuah kebutuhan untuk orang tua memahami fase anak. Agar kita tahu kapan berada di hadapannya untuk menarik ia ke depan, kapan berada di sampingnya untuk mendampingi ia sampai ke tujuan, kapan berada di belakangnya untuk mendorongnya sampai ke akhir. Dan kapan pada akhirnya kita perlu melepaskan ia sepenuhnya menjalankan peran yang sudah Allah tetapkan.

Diantara fase yang dapat menjadi gambaran, berikut saya tuliskan sebagaimana yang dijabarkan oleh ust. Harry Santosa di buku Fitrah Based Education (saya punyanya versi 3.0).

  • Usia 0-7 tahun, anak sebagai player, orang tua sebagai facilitator.
    • Golden age bagi fitrah keimanan
    • Secara fitrah, anak usia ini berada pada masa dimana imajinasi dan abstraksi berada dalam puncaknya. Alam bawah sadar masih terbuka lebar sehingga imaji-imaji (gambaran) akan mudah dibangkitkan pada usia ini.
  • Usia 7-10 tahun, anak sebagai worker/learner and explorer, orang tua sebagai coach dan guide.
    • Golden age bagi fitrah Belajar dan Nalar
    • Anak berada pada masa dimana otak kanan dan otak kiri sudah tumbuh seimbang, egosentris sudah bergeser ke sosiosentris sehingga mulai terbuka pada eksplorasi dunia luar dirinya secara maksimal. Menjadi titik kritis awal dimulainya adab sebagai perintah.
  • 10-14 tahun, anak sebagai apprentice, orang tua sebagai coah dan mentor
    • Golden age bagi fitrah Bakat
    • Di usia ini anak berada pada masa latih pra-aqilbaligh atau masa penggemblengan bakat dan akhlak agar mandiri dan berkarya dengan akhlak mulia tepat ketika berusia 14 atau 15 tahun.
  • 15 tahun ke atas, orang tua sebagai partner mukalaf
    • Golden age bagi fitrah Kelelakian dan fitrah Keperempuan
    • Karena secara fitrah perkembangan, ini adalah usia dewasa penuh. Sebaiknya mereka sudah dipersiapkan untuk menikah atau tinggal di luar rumah (merantau).

Miliki Tujuan

Jauh sebelum berbicara tentang motor dan sepeda, soal kecepatan dan kondisi saat ini.. yang perlu ditetapkan di awal adalah tujuan akhir dan jalur jalan yang akan ditempuh. Sehingga ketika anak tak kunjung nampak di titik yang ditetapkan, kita tahu kemana akan mencari, kita tahu kemana mesti memastikan dan apa yang harus dilakukan.

Seperti sore saat pulang, tujuannya jelas ke rumah. Nah, ada clash saat berbicara jalur.

Mi, jalannya kemana?” tanya Danisy. “Ke kanan aja, biar lebih enak” jawab saya. Baru jalan sedikit, ternyata Danisy belok ke kanan sementara saya mengambil jalur lain. Rupanya kanan yang dia maksud dengan yang saya maksud berbeda. Maksud saya kanannya itu dari gerbang keluar komplek, Danisy menangkap kanan dari jalur sekolah tepat kanan pertama di bunderan.

Penting bagi orang tua memahami tipe anak, entah itu mengetahui perbedaan cara berpikir lelaki dan perempuan, perbedaan cara komunikasi mesin kecerdasan Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling dan Insting, pun memahami respon golongan darah, IQ dan drive mesin kecerdasan. Dengan memahami kesemua hal ini, setidaknya lebih mudah untuk mengetahui kesalahan komunikasi kita dimana.

Samakan Misi dan Visi dengan Keluarga

Berbicara tentang pengasuhan, maka tak akan lepas dari setidaknya 3 sosok: ayah, ibu dan anak. Dalam banyak kasus, suami-istri tidak memiliki misi yang sama sehingga berimbas pada keluarga yang tak memiliki misi sama sekali.

Idealnya, misi ditemukan oleh ayah kemudian di-breakdown bersama dengan ibu dan sebagian besar eksekusi berada di tangan ibu. Dengan adanya kejelasan misi, kejelasan tujuan, ibu pun mendapat kejelasan mesti mengambil langkah apa saja.

Jika perjalanan dilakukan tanpa jelas arah tujuan akhirnya apa, jangan heran ketika perbedaan-perbedaan kecil bisa muncul menjadi sumber api yang besar. Hal ini tak lain karena belum sama persepsi antara semua pihak yang terlibat.

Renungan Bersama

Akan ada masanya anak memiliki kecepatan yang sama bahkan lebih cepat dari kita orang tuanya. Tapi itu nanti. Bukan sekarang.

Ada masanya ia mulai.. Mandiri

Ada masanya.. Orang tua menahan diri

Ada masanya.. Orang tua mengalah

Ada masanya.. Memberikan kepercayaan pada anak

Ada masanya.. Anak melesat.. Dan orang tua pun sampai pada masanya untuk melesat.

Raise yourself, raise your children.

It takes a village to raise a child.

Jika sesuai dengan tahapan, jelas tujuan dan selaras langkah.. InSyaAllah akan lebih mudah jalannya.

Meski kita tahu bahwa jalan surga penuh dengan hal yang berlawanan dengan nafsu, tapi jalan itu yang kita sepakati untuk ditempuh. Aral rintang dihadapi bersama. Sebab sudah jelas kita berupaya berada di jalan yang sama..

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspita Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: