Kenali Dirimu, Semakin Takjub Akan Tuhanmu

Kenali Dirimu, Semakin Takjub Akan Tuhanmu

Harga diri seseorang adalah apa yang bisa membuatnya menjadi baik, kehormatan seseorang adalah ilmunya dan cermin akalnya adalah akhlak luhurnya.

Semoga artikel ini termasuk ke dalam upaya kita dalam membuat diri lebih baik. Aamiin..

Imam Al-Ghazali mengatakan dalam Kimyaussa’adah: mengenal diri adalah kunci untuk mengenal Allah. Logikanya sederhana: sebab diri kita adalah yang paling dekat dengan kita.

QS Fushilat ayat 53 mengutarakan: “Kami memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat kami di dunia ini dan di dalam diri mereka sendiri hingga jelas bagi mereka bahwa alquran itu benar.

Maka ketika kita mengenal diri, semestinya semakin jelas bagi kita apa yang alquran utarakan itu benar. Ketika kita membaca QS At-Tiin ayat 4 bahwasanya manusia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk maka tak pantas bagi seorang muslim menghina sesama manusia hanya karena alasan fisik, pun tak elok jika seorang muslim mengejek sesama hanya karena alasan strata sosial ekonomi, dari pekerjaan yang dijalani.

Semakin kita kenal kepada diri kita, semestinya semakin takjub kita pada penciptanya. Sebab ayat-ayat Allah dalam diri kita disandingkan dengan ayat-ayat Allah di dunia. Betapa hebatnya!

Yang diutarakan Imam Al-Ghazali ini lebih dari sekadar pengenalan lahiriah akan tetapi juga mengenal siapa aku, darimana aku (pengenalan lingkungan tempat kita lahir dan tumbuh), tujuan Allah mengirimkan kita ke dunia, kebahagiaan sejati, kekuatan yang Allah berikan sebagai bekal perjalanan, dsb.

Bagi teman-teman yang pernah mengikuti perkuliahan di Institut Ibu Profesional, tentu pernah mendapatkan pertanyaan seperti ini: kira-kira apa maksud anda dilahirkan disini, disandingkan dengan pasangan anda saat ini, diberikan anugerah anak begini, dst.

Disini kita diantarkan untuk memilah mana yang bersifat hakiki dalam diri dan mana yang tidak. Bisa jadi jawabannya sudah hafal tapi belum tentu meresap di seluruh aktivitas kita.

3 Sifat Manusia

Imam Al-Ghazali menyebut bahwa dalam diri manusia ada 3 sifat:

  1. Sifat-sifat binatang

Seperti banyak kita jumpai, binatang adalah makhluk hidup dengan rutinitas kebutuhan biologis yang sama dengan manusia. Makan, tidur, minum, kawin, berkelahi, dsb. Manusia pun memiliki kecenderungan ini, bahkan nyaris tak bisa dipisahkan. Watak tersebut bersifat alamiah dan dalam kondisi tertentu dibutuhkan untuk bertahan hidup.

  1. Sifat-sifat setan

Sifat yang merupakan representasi keburukan seperti mengobarkan kejahatan, tipu daya dan dusta.

  1. Sifat-sifat malaikat

Sifat-sifat yang senantiasa merenungi keindahan Allah, memujiNya dan mentaatiNya secara total.

Maka dari ketiga sifat ini kita belajar bahwa kebahagiaan hewani adalah ketika mampu memuaskan hasrat diri, terpenuhi kebutuhan perut, mampu mengalahkan lawan, dll. Sedangkan kebahagiaan setan tatkala berhasil memproduksi keburukan dan kebahagiaan malaikat saat diri kita dekat dengan Allah dimana semua aktivitas menjadi cerminan kedekatan itu.

Maka karena ketiganya cenderung ada dalam diri, penting bagi seseorang mengenali betul dirinya agar potensi baik terus muncul dan potensi buruk dapat ditekan sedemikian rupa. Sehingga ia menjadi manusia utuh paripurna.

Misi, Peran, Visi Manusia

Allah berkehendak kita menemukan peran hidup (the mission of life) untuk mencapai maksud tujuan penciptaan (The Purpose of Life) dan mempersembahkan kembali kepadaNya dengan sebesar-besar manfaat dan rahmat bagi semesta. Menjalani peran/misi dapat dimulai dengan menggali dan menemukannya pada karunia Allah berupa fitrahNya yang dipandu oleh sistem hidup agar tidak menyimpang selama menjalani kehidupan.

Bagi saya, konsep STIFIn dengan kelima (dan kesembilan) hasilnya adalah bagian dari peta fitrah pada diri manusia. Di dalamnya terdapat kelebihan dan kekurangan yang perlu dipahami, dikenali dan diantisipasi serta digembleng dengan baik agar potensi dapat berubah menjadi kompetensi.

Misi penciptaan manusia sudah terinstall dalam fitrah sebagai manusia, diletakkan pada fitrah alam di belahan bumi mana kita lahir, disiapkan dalam fitrah waktu kehidupan pada masyarakat dan zaman tertentu di rentang kehidupan dan usia kita, dipandu dengan hukum yang termaktub dalam Kitabullah (dilengkapi dengan tuntunan Rasulullah).

Mari perhatikan QS Adz-Dzariyat ayat 56, di dalamnya dikatakan bahwa diantara misi manusia dikirim ke bumi adalah untuk ibadah. Kemudian dalam Quran surat Hud ayat 61 dikatakan manusia dikirim sebagai imarah/pemakmur. Sementara dalam quran surat Albaqarah ayat 30 kita diberi misi sebagai khalifah. Ketiga misi tersebut adalah misi umum yang diberikan kepada setiap manusia. Adapun misi khusus, ada pada setiap potensi diri dan fitrah alam serta fitrah waktu.

Maka penting mengenali diri agar kita tahu persis dimana medan perang kita yang paling tepat. Kita dapat mengambil peran sebagai apa. Memakmurkan bumi dengan cara apa, beribadah di setiap aktivitas dan kiprah kita, dan menjadi khalifah di bagian mana. Ambillah peran spesifik itu.

Jika melihat dengan kacamata konsep STIFIn, maka secara umum gambaran peran spesifik seseorang tertuang dalam kemistri. Orientasi hidup yang secara alamiah ada pada diri seseorang sebagai bagian dari kebahagiaan tertinggi berdasarkan mesin kecerdasannya. Mari kita lirik kemistri tersebut:

  • Sensing
    Sensing memiliki kemistri harta. Dianugerahi kemampuan sensori yang melebihi jenis lainnya, membuat ia lebih mudah bergerak, berkeringat dan harta menjadi hal yang paling konkrit di matanya. Sehingga dengan panduan agama, ia akan menjadi pelaksana terbaik di berbagai bidang.
  • Thinking
    Thinking memiliki kemistri tahta. Pengatur terbaik
  • Intuiting
    Intuiting memiliki kemistri kata. Inovator ide terbaik
  • Feeling
    Feeling memiliki kemistri cinta. Pemberi pengaruh terbaik
  • Insting
    Memiliki kemistri bahagia. Perantara/konektor terbaik

Meskipun tentu saja tidak kemudian tertutup kemungkinan ada perpaduan peran. Akan tetapi peran utamanya diantara salah satu yang kemudian ketika fokus satu hebat itu akan terjadi daya jalar dimana ketika kita fokus menggembleng kelebihan, akan ada daya jalar.

Ketika anda diberi kemampuan melawan musuh dengan belati, maka itulah kekuatan anda.

Lihatlah bagaimana Wahsyi bin Harb, kemampuannya melempar lembing berhasil menjatuhkan Hamzah yang gagah. Akan tetapi dengan kemampuan itu pula ketika ia masuk islam, menjadi senjatanya berjihad fi sabilillah.

Tak perlu silau dengan kemampuan orang lain. Jadilah dirimu sendiri. Dengan kelebihan yang Allah berikan. Optimalkan lalu manfaatkan.

Anda boleh saja melatih diri dengan senjata lain, akan tetapi secukupnya saja. Disinilah pentingnya berjamaah.. Saling melengkapi

Misal, saya sebagai Feeling yang cukup berat untuk menganalisa data, lemah dalam hal strategi pada akhirnya setelah saya melatih diri sebagai pembicara yang baik, influencer yang oke, daya jalar berlaku. Saya mulai “dipaksa” belajar hal yang mendukung konten pembicaraan saya lebih baik, berstrategi agar dapat meng-influence dengan inovasi yang lebih luas, dst. Akan tetapi hal ini dilatih secara insidentil saja dan tidak mesti selalu expert. Jika sisi Feeling-nya semakin tergembleng, maka kekurangan Feeling tak lagi terlalu nampak.

Struktur Pokok Diri Manusia

Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa diri manusia laksana sebuah kerajaan yang terbagi ke dalam 4 struktur pokok:

  1. Jiwa sebagai raja
  2. Akal sebagai perdana menteri
  3. Syahwat sebagai pengumpul pajak
  4. Amarah sebagai polisi

Syahwat memiliki karakter: senang menarik manfaat, keuntungan sebanyak-banyaknya, memenuhi kebutuhan dan keinginan individu. Amarah berfungsi melindungi diri dari ancaman/mudarat, identik dengan sifat berani, cenderung kasar dan keras.

Dengan syahwat manusia tahu akan kebutuhan dirinya, dengan amarah ia paham akan perlunya membela diri. Dengan syarat: didudukkan di bawah kendali akal dan jiwa.

Agar jiwa memiliki kuasa yang semestinya, butuh mujahadah dalam rangka tazkiyatun nafs. Mari kita buka surah Al-Ankabut ayat 69.

Dan orang-orang yang berjihad (bermujahadah) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Maka untuk bermujahadah dan tazkiyatun nafs inilah kita perlu tahu betul mana yang merupakan bawaan dan mana pengaruh lingkungan sehingga siap berjuang di medan kita (our battle) dengan penempaan terbaik untuk diri kita. Ketika kita bersungguh-sungguh, Allah akan tunjukkan jalanNya. Entah dipertemukan dengan orang yang dapat membantu kita menggembleng diri, dengan komunitas yang dapat membantu kita menaikkan kapabilitas dari potensi ke kompetensi.

Jadi.. sudah seberapa kenal anda terhadap diri?

Wallahu a’lam.

Materi ini saya bawakan hari ahad, 17 November 2019 di halaqah kajian akhwat arahan Teh Lulu dan tim.

Rujukan: AlQuran terjemah, Tadzkirotus Sami’, STIFIn Personality, Buku Fitrah Based Education, Situs NU Online

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and STIFIn Trainer
Follow instagram @esapuspita Facebooktwitterpinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: