Ketika Anak Menarik Kesimpulan dari Sebuah Film

Hari ini, setelah pekan lalu agak sering menginap di rumah nenek, Danisy sempat lagi bercerita pada saya. Kami menghabiskan waktu bertiga dengan bincang sederhana ala anak kecil. Salah satunya mengenai kesimpulan tokoh sebuah film kartun yang ditayangkan di sebuah stasiun televisi.

Cloud Bread judul filmnya. Bercerita tentang kisah 2 anak yang sering dibuatkan roti awan oleh sang ibu. Bahannya awan? Yep, setidaknya itu kesimpulan saya. Itupun hasil nanya-nanya ke Danisy, si sulung.

Saat sedang bercengkrama, tiba-tiba Danisy bilang “mi, menurut Aa Hongbi itu perempuan karena setiap kali beli mainan, belinya mainan perempuan. Kalau Hongsi laki-laki karena beli mainannya laki-laki. Aa kan laki-laki, ga suka beli mainan perempuan. Sukanya beli mainan laki-laki” begitu ujarnya.

Memang, kami pernah sekilas berselisih pendapat mengenai Hongsi, nama salah satu tokohnya. Dia membeli mobil-mobilan tapi kostum yang dikenakan bagi saya lebih mirip motif baju anak perempuan. Suaranya pun mirip suara anak perempuan.

Kiri: Hongbi, Kanan: Hongsi

Di satu sisi, agak waspada juga sih jika memang benar ternyata “salah kostum”. Di sisi lain, takjub dengan cara Danisy mengambil kesimpulan.

Sempat terpikir, oh berarti sejak berbeda pendapat dengan ummi, ada saat dimana dia betul-betul memperhatikan apa jenis kelamin kedua tokoh utama film tersebut. Dan hasilnya, menurut teman-teman yang betul-betul menemani putra-putrinya nonton Cloud Bread, memang Hongbi kakaknya adalah perempuan, sementara Hongsi adiknya adalah laki-laki.

Oke fix, aye tandai film ini sebagai warning. Harus ekstra hati-hati nih dengan film yang ditonton anak-anak.

Ah, Esa kamu mah berlebihan. Mm.. iya sih. Cuma berhati-hati boleh kan. Mengingat lagi marak juga bahasan LGBT nih. Mindset bisa terpengaruh kalo sering nonton yang seolah mendukung ke arah sana.

Btw, film Cloud Bread sendiri dalam pandangan saya mah cukup bagus mengingat dialognya khas anak-anak, imajinatif dan ada nilai moral yang cukup baik di dalamnya. Hanya mungkin ada juga yang terganggu dengan dialek yang digunakan 😛

Dan mengenai perbedaan pendapat kami terkait suara tokohnya, ternyata memang di Wikipedia sendiri disebutkan bahwa film ini “hanya dimainkan” oleh 4 orang saja. Itu artinya, 1 orang mengisi lebih dari 1 tokoh. Lebih lengkapnya bias klik link Wikipedia yang saya sertakan ya (klik disini). Tapi ga tau apakah dubbing di Indonesia berlaku juga seperti itu? Di list tersebut memang pengisi suara Hongshi dan ibu, sama. Jadi kesimpulannya, saya yang bener dong ya? Hihi..

Intinya sih, pe-er buat bener-bener nemenin anak saat nonton supaya nilai-nilai yang baiknya bisa disampaikan, sementara nilai kurang baiknya diberitahukan. Meskipun idealnya ga nonton, tapi ada kalanya kita tidak tahu kapan anak nonton di luar rumah. Saat di rumah teman, misal. Kudu bekelin mereka lebih kece lagi.

Yang pasti, karena membuat tulisan ini pula lah saya baru tahu kalau ternyata Cloud Bread itu ada resepnya, sodara-sodara. Dan tentu ga pake awan seperti yang di film kartun 😀

Cloud Bread ini mirip seperti kue sus, roti Maryam versi menggembung atau roti untuk burger tapi lebih berongga dan tipis. Hmm. Jadi pengen coba resepnya. Ada yang sudah coba?

Jangan lupa, selalu temani ananda. Jika tidak memungkinkan, minta orang dewasa terdekat untuk menemani aktifitasnya. Agar lebih terarah dan tidak salah ambil kesimpulan.

Selamat malam, semuanya..

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram
One Comment

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *