Ketika Bayi Sungsang

Pagi ini sebuah pesan whatsapp masuk. Seorang teman menanyakan mengenai pengalaman yang saya alami di kehamilan ketiga kemarin terkait posisi bayi yang sungsang. Alhamdulillah, jadi diingatkan lagi tentang pengalaman kemarin yang rencananya ingin ditulis tapi belum jadi aja. Nah, terkait proses kehamilan dan persalinan sepertinya akan saya tulis dalam artikel berbeda. Kali ini kita fokus membahas mengenai posisi bayi sungsang. Bayi ketiga kami posisinya sungsang hingga usia kandungan 38-39 minggu 😀

Kami bertemu dengan bidan -yang kemudian menangani saya hingga proses persalinan- di usia kandungan 35-36 minggu. Sebelumnya selalu periksa di RS yang ga memungkinkan konsultasi banyak sepuasnya. Di pertemuan pertama itu posisi bayi sungsang dengan kepala masih di daerah bawah dada alias tegak kali ya. Pekan berikutnya periksa sudah bergeser ga di atas banget tapi ke arah kiri apa kanan ya lupa. Nah, dari situ ibu bidan menyarankan “berarti ajak anak muter sesuai pergerakannya ini“. Alhamdulillah usia 38-39 dicek sudah posisi di bawah kepalanya tapi belum masuk jalan lahir. Usia 39-40week dicek sudah masuk panggul tapi baru dikit, belum “mantep”. Sampai lahiran masih agak jauh. Alhamdulillah ketika pembukaan lengkap, perlahan kepala bayi turun dan lahir dengan lancar.

Apa Saja yang Disarankan Untuk Mengajak Bayi Posisi Sungsang Memutar?

Pertama yang diminta bu bidan justru “ikhlaskan hati” siapa tahu ini karena masih ada emosi terpendam baik ke pasangan, orang tua atau semacamnya. Duh ngaruh ya? hihi.

Kedua ajak komunikasi sang bayi. Pada beberapa kasus sungsang, bayi memutar saat diajak komunikasi oleh ayahnya. Jadi jika posisi bayi tak kunjung berubah setelah kita (ibu) yang ngajak ngobrol, coba minta ayahnya yang ngajak ngobrol bayi supaya muter. Di saya, alhamdulillah berhasil dengan cara kedua meskipun suami baru beberapa kali ngajak “dede ayok muter”.

Ketiga bisa jadi karena memang bayi susah memutar karena air ketuban kurang. Saat itu memang air ketuban saya menurut hasil USG kurang mencukupi. Maka bu bidan menyarankan untuk memperbanyak asupan cairan diutamakan air putih minimal 3 liter per hari. Ga susah sih sebetulnya tapi seringnya tak terpenuhi karena lupa. heuheu. Padahal dulu termasuk yang suka banget minum air bening.

Keempat disarankan untuk posisi sujud dengan kepala jauh lebih rendah. Jadi bukan sujud yang biasa di waktu shalat meskipun itu juga tetap membantu. Sujud yang dilakukan, lututnya ditahan bantal atau di kasur (yang ga terlalu tinggi tentunya) sehingga posisi perut dan panggul lebih tinggi. Hal ini membantu bayi memutar.

Kelima adalah saran dari pelatih yoga (iya, saya ikut yoga prenatal buat bantu melatih pernafasan dan fisik tentunya. Ikhtiar demi bisa lahiran dengan lebih baik dari sebelumnya). Ada beberapa gerakan yang dapat membantu bayi memutar posisi (saya hafal gerakannya tapi ga hafal namanya. Nanti insyaallah di-update kalau saya sudah menanyakannya ke beliau ya)

Keenam diberikan rangsangan suara (misal diputar musik, murattal atau semacamnya), cahaya atau perbedaan suhu (diberikan suhu hangat) di bagian bawah perut untuk membantu bayi memutar. Pastikan kondisi sekitarnya berkebalikan, maksudnya saat diberi rangsangan suara, sekitarnya senyap. Saat diberi rangsangan cahaya, sekitarnya gelap atau redup. Saat diberikan rangsangan suhu (diolesi kayu putih di perut bawah) perut atas dan sekitarnya tidak dalam kondisi sama panas/hangat. Makanya diminta bu bidan mengurangi pedas juga supaya ga ketuker mulesnya nanti dan ga bikin perut atas hangat.

Ketujuh belajar mempercayai fitrah anak dan naluri ibu. Yang tak kalah penting adalah meyakini bahwa ibu dan bayi sudah dibekali Allah naluri dan bayi akan mengikuti fitrahnya. Doa dibanyakin pasti, perbaiki hubungan dengan Allah, perbaiki komunikasi dengan suami, dan perbaikan hablumminannas lainnya.

Alhamdulillah bidannya termasuk yang enak diajak ngobrol dan biasanya sering minta konsul bareng suami karena beliau akan memberikan penjelasan yang perlu dilaksnakan kedua belah pihak juga pihak-pihak terkait yang nantinya akan terlibat selama proses kehamilan, persalinan hingga pasca bayi lahir. Jadi memang kehamilan kali ini kami berdua belajar langsung bareng-bareng 😀

Pelajaran dari Pengalaman Bayi Sungsang

Kehamilan ketiga menjadi sebuah pelajaran berharga bagi saya dan suami. Meskipun telah mengalami 2 kali hamil dan melahirkan, nyatanya pengalaman setiap anak berbeda. Tidak sama antara satu dan lainnya. Maka pelajaran pertama yang kami ambil adalah “setiap anak hadir dengan cara uniknya meskipun orang tuanya sama, akan tetapi pengalamannya berbeda antara satu anak dan lainnya. Maka, tak perlu membandingkan diri dan orang lain karena beda anak satu orang tua saja sudah berbeda, apalagi beda anak beda orang tua, sudah pasti tidak akan sama persis.”

Yup, pengalaman hamil anak pertama sampai anak ketiga saja berbeda, apalagi dengan kehamilan orang lain. Akan tetapi tentu bukan berarti kita tidak peduli dengan kehamilan yang lain melainkan ambillah pelajaran yang baik dan hal yang membuatmu jadi khawatir setelah membaca atau mendengar pengalaman orang lain maka berpikirlah positif dan berlindunglah pada Allah dari pengalaman yang tidak mengenakkan. Adapun jika ternyata serupa atau mengalami hal yang sama, maka itu sudah takdir.

Pengalaman sungsang kehamilan ketiga ini sempat membuat khawatir karena salah satu kerabat melahirkan putranya dalam kondisi sungsang dan sempat dirujuk ke 2 rumah sakit. Alhamdulillah sang anak lahir melalui proses normal meskipun menurut sang ibu, rasanya lebih sakit. Saya agak takut dengan rasa sakit karena sepertinya ambang sakit saya tipis. Heuheu. Padahal 2 anak lahir dengan cara induksi yang menurut orang sakitnya lebih dari yang normal alami. Tapi tetep aja denger pengalaman orang lain, ada rasa khawatir tersendiri.

Meski anak kedua pernah berada di posisi sungsang saat usia kehamilan seharusnya bayi sudah berada di bawah, rasa khawatir tak lantas hilang. Alhamdulillah bidan yang menangani selalu mengajak untuk berpikir positif dan menguatkan kembali tentang pemahaman mengenai takdir.

Ya, ikhtiar agar lahir normal lancar dan posisi baik tetap dilakukan secara maksimal. Jika kemudian pada akhirnya lahir sungsang atau bahkan dirujuk untuk dilakukan tindakan operasi sesar, maka itu sudah menjadi takdir yang harus kita terima dengan ikhlas dan lapang dada. Memang ga mudah menyiapkannya tapi dengan terus dikuatkan, alhamdulillah akhirnya lebih bisa berpikir positif.

Maka pelajaran kedua yang kami ambil adalah, sebisa mungkin carilah lingkungan dan bidan/nakes yang mampu membantu kita berpikir positif tapi tetap rasional. Maksudnya seperti apa? Maksudnya, mereka mengajak kita untuk ikhtiar maksimal akan tetapi tetap memberitahukan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi namun tak lantas menakut-nakuti melainkan menguatkan kembali untuk “yuk, kita maksimalkan doa, keyakinan dan ikhtiar”. Sehingga kita lebih siap dengan semua kemungkinan tapi tidak terlampau khawatir dengan opsi terburuk.

“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At Taubah:51)

Saya “menemukan” ayat ini saat mempelajari kembali tentang bagaimana seharusnya menyikapi takdir. Pengalaman “dadakan” saat menjelang HPL yang menimpa keluarga besar, semakin membuat saya kala itu merasa “kok begini?” hingga diingatkan lagi oleh bidannya, “bismillah. Bukan kebetulan. Teteh pasti bisa melewatinya” dan alhamdulillah terlewati.

Dan pelajaran ketiga yang kami ambil adalah setiap anak akan lahir pada waktu yang telah ditetapkan terlepas dari bagaimana, siapa yang mendampingi, dimana dan dibantu oleh siapa. Maka yang perlu diyakini adalah setiap anak pasti lahir jika memang Allah menghendakinya. Setiap kali rasa khawatir muncul, ajak bayi ngobrol lalu pasrahkan bagaimana cara yang ditempuh untuk ia kelak akan terlahir.

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.” (QS. Al Hajj:5)

Pelajaran keempat yang kami ambil adalah, selalu komunikasikan kekhawatiran pada pasangan. Alhamdulillah bidan tempat kami periksa kandungan termasuk yang komunikatif juga jadi terkadang justru suami yang mengkomunikasikan kekhawatiran saya ke bu bidan (seringnya saya malah lupa apa yang mau dibicarakan kalau pas konsul atau memang ga bisa cerita karena beberapa hal termasuk menjaga kehormatan keluarga #eaaa) 😀 Ujungnya ya bu bidan menguatkan lagi, sekaligus mengajak suami untuk bekerja sama menjaga saya dan janin untuk tidak stres. hihi.

Maksimalkan Ikhtiar Agar Tidak Lagi Sungsang, Lalu Tawakkal

So, teman. Jika masih ada waktu untuk mengikhtiarkan lahir sesuai “harapan kita”, ikhtiarkanlah secara maksimal. Tapi beri ruang pada hati untuk ridha pada ketetapan jika ternyata nanti berbeda dari keinginan kita.

Selamat menikmati kehamilan bagi teman-teman yang sedang melalui fase ini. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan keselamatan untuk ibu, bayi, ayah dan keluarga. Barakallahu fik..

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *