Kutukan Genetik?

Kutukan Genetik?

Ada pernyataan menarik dari seorang narasumber di kelas parenting yang saya ikuti beberapa waktu lalu. Katanya, “masa kita dikutuk seperti itu selamanya”. Pernyataan ini ditujukan pada tes sidik jari yang ternyata beliau sendiri belum ikut tesnya melainkan tes sidik jari yang lain.

Tapi justru dari pernyataan beliau saya jadi terinspirasi. Tiba-tiba Allah mengilhamkan. Sifat karakter bawaan genetik itu memang benar tak akan berubah. Tapi ada levelisasinya.

Ibarat sifat karakter yang Allah titipkan pada jenis kelamin tertentu, lelaki ataupun perempuan. Adakah ketika kita dilahirkan sebagai perempuan kemudian merasa bahwa kita dikutuk menjadi perempuan? Apakah lantas ketika muncul sifat-sifat perempuan kemudian kita dikatakan dikutuk selamanya memiliki sifat tersebut? Apakah artinya semua orang tidak akan berubah? Tentu saja tidak, bukan

Allah Menciptakan Perbedaan Genetika

Sebagaimana pernah beberapa kali disinggung dalam tulisan saya, bahwa lelaki dan perempuan secara genetis berbeda. Semata karena Allah memang menciptakan lelaki dan perempuan untuk fungsi yang berbeda.

Adapun mengenai keniscayaan perubahan manusia, ini bukan tentang mengubah perempuan menjadi lelaki dan sebaliknya yang umumnya berujung pada “saya ini aslinya lelaki yang terperangkap dalam tubuh perempuan”. Melainkan setiap kita perlu menggembleng diri agar menjadi pribadi yang mampu memenej dengan lebih baik. Jika ada pernyataan “terperangkap” begitu, maka sudah dapat dipastikan fitrah seksualnya tercederai. Padahal sejatinya di usia balita anak sudah harus diperkenalkan, saya lelaki, saya perempuan. Berikut perbedaan dasarnya.

Apa yang dimaksud menjadi pribadi yang mampu memenej dengan lebih baik? Begini misalnya. Menurut penelitian, perempuan memiliki kebutuhan berbicara setidaknya 20.000 kata per hari. Hal ini membuat perempuan seringkali “tidak efektif” saat menerapkan aturan. Misal, jika ayah cukup bilang “tidak” atau “jangan”, ibu umumnya memperpanjang kalimat larangan menjadi, “mainannya jangan diberantakin dong. Mama capek tahu dari tadi bolak balik beresin”. Naluriah dan alamiah. Ngomel jadi “keahliannya”.

Tapi jika seorang perempuan sadar akan potensi itu, maka ketika menggembleng diri ia akan mampu menahan untuk tidak ngomel. Kebutuhan 20.000 kata per harinya terpenuhi melalui bercerita, story telling atau semacamnya. Kegiatan berbicara yang lebih produktif dalam keluarga.

Begitu pula sifat genetik bawaan yang dibahas oleh konsep STIFIn. Saat ini STIFIn memang masih menggunakan alat tes sidik jari, akan tetapi belum tentu semua tes sidik jari adalah STIFIn. Metode sidik jari yang digunakan setiap lembaga sangat mungkin berbeda. STIFIn memiliki metode tersendiri yang mengacu pada Single Intelligence dan Psikologi positif. Sedangkan sebagian besar tes sidik jari lain mengacu pada metode multiple intelligence. Sehingga STIFIn unggul dalam konsep, sifatnya simpel, akurat dan aplikatif.

Dan pernyataan sang narasumber bahwa bisa saja hasilnya adalah random, maka oleh STIFIn ini terjawab dengan adanya uji coba realibilitas yang menunjukkan angka 97% dimana saat dilakukan tes ulang di waktu yang berbeda, hasil tesnya tetap sama. Namanya juga pola. Sebagaimana teori psikologi juga dibuat berdasarkan pola, hipotesa.

Pun oleh tes sidik jari lainnya terbantah juga pernyataan hasil tesnya adalah random. Saya kenal teman pegiat sidik jari lain, mereka membaca pola pada sidik jari dengan menggunakan metode ridge counting. Apa itu metode ridge counting? Silakan googling. Banyak kok 😀

Dan pola pada sidik jari ini menjadi data acuan pihak intelijen untuk mengetahui ciri fisik seseorang. Sehingga jelas bahwa sidik jari semua orang yang unik itu tetap memiliki pola tetap sebagaimana dunia seluruhnya berdasarkan sunnatullah, memiliki pola juga.

Kutukan Genetika, Benarkah?

Kembali ke soal kutukan. Ketika seseorang dilahirkan sebagai Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling atau Insting, maka segala sifat kelebihan dan hal yang perlu diwaspadai dari dirinya akan terus melekat. Ada misi, ada tujuan tertentu yang Allah titipkan dalam kepribadian tersebut.

Seperti halnya ketika dilahirkan sebagai perempuan, maka misi kita diantaranya menjadi ibu dan istri, menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita sebagai generasi penerus. Sedangkan jika dilahirkan sebagai lelaki, maka salah satu misinya adalah menjadi pemimpin yang kelak berjuang aktif membangun peradaban di rumah dan di luar rumah.

Tapi tidak lantas kelebihan dan kekurangan itu serta merta akan demikian selamanya. Ada yang dinamakan level/matra kecerdasan yang di dalamnya membahas bagaimana kita apa adanya, bagaimana menggemblengnya, bagaimana saat berinteraksi dengan lingkungan, bagaimana berbicara tentang peningkatan moral dan spiritual.

Ibarat tangan kanan dan kiri, bagi mereka yang ditakdirkan kidal maka gunakanlah tangan kirinya secara maksimal. Tangan kanan cukup digunakan pada hal-hal yang sifatnya adab. Urusan sunnah dan adab yang berupa anjuran maupun larangan sebaiknya tidak ada toleransi. Misal, orang kidal tetap makan menggunakan tangan kanan sebab makan menggunakan tangan kiri berpotensi mengundang jin turut makan bersamanya. Ini jelas rujukan haditsnya.

Nah, matra kecerdasan ini seperti melatih tangan yang dominan agar semakin aktif dan produktif. Tapi tanpa mengerdilkan tangan yang tidak dominan. Ada daya jalar nantinya. Saat sisi dominan digembleng, maka bagian lain turut serta bertumbuh.

Maka konsep perubahan dan pertumbuhan itu ada disini, di matra kecerdasan. Dalam proses penggemblengan pribadi menjadi Sensing yang cerdas, Thinking yang cerdas, Intuiting yang cerdas, Feeling yang cerdas atau Insting yang cerdas. Seperti halnya seseorang yang cerdas adalah dia yang mampu menakar sisi kelebihan dan kekurangannya.

Adapun matra kecerdasan dalam konsep STIFIn adalah sebagai berikut:

Jika teman-teman baru saja melakukan tes STIFIn, maka penjelasan hasil tes itu berbicara tentang level personality alias diri kita apa adanya. Terima saja.

Menaikkan Level Kepribadian Genetika

Setelah paham bahwa kita memiliki kelebihan dan hal yang perlu diwaspadai, maka kita dapat lebih memaklumi diri maupun orang lain. Setelah itu, kita gembleng diri agar dapat sampai ke bintang terang yang ditargetkan dengan cara yang lebih nyaman dan efektif.

Level kecerdasan tersebut mesti dinaiki satu demi satu. Agar paripurna sifat yang tergemblengnya. Sudah dapat menerima diri apa adanya, bisa menggembleng diri sebaik-baiknya, memikirkan orang lain dan berhubungan sosial semanfaat-manfaatnya dan berakhir pada tujuan akhirat yang setinggi-tingginya.

Dari 500an lebih klien yang kami tes dalam kurun waktu 2 tahun ke belakang, 90% mengaku berterima kasih karena akhirnya “terjawab sudah” missing link kenapa begini kenapa begitu. Ketika mereka memahami dan mempraktekkan konsep STIFIn dalam kehidupannya, alhamdulillah terjadi perubahan positif. Pola komunikasi suami istri membaik, pola parenting menjadi lebih nyaman untuk semua pihak, gaya belajar diri dan anak yang semakin efektif dan hubungan sosial menjadi lebih asyik. Mereka jadi seperti punya peta, tahu bagaimana dan apa yang harus difokuskan untuk bertumbuh.

Kembali berbicara mengenai rumus fenotip,

Fenotip = 20% genetik + 80% lingkungan

Genetik akan senantiasa tetap sifatnya. Hanya berubah levelnya. Akan tetapi lingkungan akan senantiasa berubah dari satu keadaan ke keadaan lain, satu kondisi ke kondisi lain. Jika bagian genetiknya tergembleng dengan maksimal, fitrahnya terjaga dengan baik, insyaAllah akan dipertemukan dengan lingkungan yang dapat menjaga diri seseorang senantiasa dalam kondisi sukses dan mulia. Sukses secara pribadi dan bermanfaat bagi sekitar.

Maka penting bagi kita tahu keseluruhan variabel pembentuk genetika seseorang: tahu jenis kelamin (sadar fitrah seksualitas), tahu mesin kecerdasan (sadar fitrah manusia, fitrah bakat, fitrah belajar), tahu drive kecerdasan (fitrah keimanan), kapasitas hardware (fitrah perkembangan), dan golongan darah.

Agar kita paham secara holistik variabel apa saja yang ada dalam genetika seseorang. Hal ini menjadi bekal kita memahami diri dan orang lain, juga bekal efektif dalam penggemblengan pribadi.

5 unsur pembentuk genetika seseorang

Maka.. apakah kutukan genetik itu ada?

Selamat memahami genetika diri. Selamat bertumbuh dengan lebih efektif. Selamat menghargai perbedaan 🙂

Ditulis dengan penuh cinta dan harap akan kembalinya peradaban SuksesMulia..

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

3 pemikiran pada “Kutukan Genetik?

  1. Koreksi sedikit teh Esa, kalau dituliskan *validitas* hasil tes STIFIn itu setelah diujikan kembali pada waktu berbeda sebesar 97% kurang tepat. Istilah validitas merujuk pada seberapa tepat hasil tes STIFIn menggambarkan konsep kepribadian yg dimaksud oleh STIFIn. Sementara angka 97% menunjukkan tingkat akurasi hasil tes STIFIn yang diujikan pada periode berbeda (test-retest), istilah dalam psikometri nya adalah RELIABILITAS. Dari arti kata reliabel, yg mengandung arti seberapa hasil test dapat dipercaya karena keajegan nya.
    Btw, artikelnya sangat menarik. Saya baca tuntas. Well done!!

    Nuhun,
    Lina Melinda, Psi (Te)

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: