Lampu Rusak

Lampu Rusak

Lampu ruang tengahnya mati. Yak, akhirnya setelah beberapa waktu berjuang (baca: kedap-kedip) si lampu wafat juga πŸ˜€

Apa yang ada di pikiran teman-teman ketika salah satu lampu di rumah mati? Lalu apa yang akan dilakukan setelah lampunya mati?

Apalah, Esa. Kalau mati ya berarti lampunya rusak. Satu-satunya cara ya ganti dong, beli lampu baru. Ngapain juga ngarepin lampu rusak buat nyala lagi. Ga mungkin atuh sa.

Hihi, iya ya.. itu juga yang saya dan suami pikirkan ketika lampu di ruang tengah akhirnya tak bertahan. Sepulang kursus, saya diminta belikan lampu baru sama suami. Begitu sampai rumah, bekerja sama memasang lampu sebab agak susah menjangkau lokasi lampu yang tinggi.

Setelah lampu terpasang, coba nyalakan saklar dan taraaaa.. GA NYALA! Yap, ruang tengah tetap gelap.

lampu kehidupan

Terganggu tentu saja sebab disana tempat kami bekerja. Apalagi rumah kami memang kurang dimasuki cahaya matahari sehingga ketika redup sedikit saja, sore misalnya, lampu harus menyala agar tetap nyaman bekerja.

Nah, dari sini sudah tahu ya tebakan berikutnya yang rusak dimana? Kemungkinan besar di rangkaian alur listriknya entah tempat lampu, kabel atau saklarnya yang rusak. Tebakan ke arah sana sebab dulu di rumah sebelumnya colokan kami sempat bermasalah dan akhirnya tidak berfungsi dikarenakan ada banyak pasir, sepertinya sih sarang semut atau memang dari tembok bangunan yang merapuh. Bukan hati ya yang rapuh πŸ˜€

Tambah lagi di kasus rumah kami sekarang, saklar panas jadi seperti ada semacam pertanda sesuatu yang ga beres. Ya, mirip tubuh kita lah, ketika ada yang ga beres pasti demam. Demam kan pertanda ada sesuatu di dalam tubuh yang ga biasa kan.

Keyakinan bahwa jalur listriknya yang bermasalah ketika lampu bekas di ruang tengah yang kami duga rusak itu, saya minta suami coba pasang di dapur. Tahu apa yang terjadi? Lampunya nyala dengan baik. Ga kedip-kedip dan ga redup. Terang benderang. Alhamdulillah, hikmahnya dapur jadi terang kembali setelah beberapa waktu lalu gelap karena si lampu dipindah ke ruang tengah yang lampunya rusak.

Nah, kemudian tiba-tiba kepikiran. Rezeki dan kehidupan kita secara umum juga begitu kali ya. Kadang kita mengalami kesulitan, serasa hidup ini merana gituh. Coba ganti pekerjaan, coba ganti usaha, rasanya kok ya tetep susah.

Jika belajar dari matinya lampu itu, β€œmatinya” kehidupan kita saat ini bisa jadi bukan karena usaha tau pekerjaannya yang salah (kecuali yang jelas-jelas haram mah kudu dijauhin yak) melainkan pipanya, jalurnya. Lalu jalur yang seperti apa?

Dalam pandangan saya setidaknya ada 2 jalur:

  1. Diri kita pribadi sebagai tentu saja perantara rejeki sampai ke diri kita. Ibaratnya dalam rangkaian listrik, diri kita adalah saklar. Kita menentukan apakah on sehingga aliran listrik masuk ke dalam kabel kemudian sampai ke lampu dan nyala menerangi ruangan. Ataukah kita memutuskan untuk off sehingga lampunya padam. Dan on-off nya kita ini yang menjadi penentu aliran rejeki baik on-off nya disengaja ataupun tidak.
    Mengenai diri ini, meliputi segala hal tentang diri entah itu mindset, mental, tindakan, respon, dan sebagainya. Ada banyak hal yang membuat saklar tidak bisa on. Entah pasir yang menghalangi, entah tombolnya yang macet, atau hal lain yang perlu diperbaiki. Pun dengan diri kita. Yang menyebabkan kita tidak on bisa banyak hal seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya.
  2. Ikhtiar kita dalam menjemput rejeki yang telah ditetapkan, saya permisalkan sebagai kabel. Yap, ikhtiar ini hanya penyalur saja. Ujung-ujungnya ya tergantung pada saklar juga πŸ˜€
    Tapi jika saklar on, kemudian kabelnya bocor alias ga bagus, bisa saja aliran listrik juga malah merusak. Rejeki yang seharusnya menjadi sebuah nikmat malah berbalik jadi musibah. Itulah jika dalam ikhtiar ada hal yang tidak benar, cara yang tidak halal atau usaha yang tidak baik. Istilahnya, nanti rejeki yang kita dapat, uang yang kita miliki, rumah dan kendaraan yang kita peroleh, tidak memiliki nilai berkah di dalamnya. Berkurang atau bahkan hilang nilai kebaikannya.

Maka saya pun kemudian merenung, banyak hal yang harus saya perbaiki. Dan saya harus fokus untuk perbaikan itu. Jika tidak, ruang tengah akan gelap tidak se-terang jika ada lampu. Dan kehidupan saya harus diperbaiki agar dapat berbagi terang dengan yang lain.

Ayo sa semangat!

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: