Lelaki Butuh Dicintai

Lelaki Butuh Dicintai

Pernikahan ibarat sebuah wadah tempat kita menanam dan menumbuhkan cinta. Pupuknya disebar bersama oleh suami maupun istri. Dari benih cinta inilah kelak tumbuh bunga-bunga cinta dan menyebar buahnya yang beraneka rasa.

Pupuk dari benih cinta itu salah satunya dengan tindakan dan ucapan. Ketika masa-masa awal menikah biasanya pasangan suami istri masih dalam tahap hangat dan saling melempar ekspresi cinta entah dengan senyuman, sentuhan ataupun ucapan cinta (baik secara langsung ataupun melalui SMS, chat, BBM).

Ini bukanlah soal romantis, tapi soal menyatakan perasaan. Karena tindakan kita setelah sekian lama menikah seringkali menjadi sebuah kebiasaan yang kehilangan ruhnya.

Istri merasa sendiri dalam menyemai cinta dalam rumah tangga. Sementara suami merasa sudah turut menyemai dengan caranya sendiri. Istri kemudian menuntus suami agar lebih peka sementara suami menuntut istri agar lebih mengerti.

Perempuan terkadang lupa bagaimana lelaki menyampaikan cintanya, dan berujung bersikap dingin membalas sikapnya yang menurut perempuan lebih dingin. Padahal tak semua lelaki mampu menyampaikan kata. Namun percayalah bahwa semua lelaki butuh cinta. Mereka seperti anak kecil yang butuh dimanja, dibelai dan dipeluk hangat. Hanya saja karena sosoknya adalah lelaki dewasa, istri sering menganggap ia adalah sosok kuat yang sudah cukup besar untuk menjalani hidupnya sendiri. Istri hanya berusaha memenuhi kebutuhan fisiknya dan lupa pada hatinya.

Tidak ada yang salah dengan pemahaman ini. Hanya saja sebagian besar masyarakat abai terhadap kebutuhan lelaki untuk dicintai.

Lelaki butuh dicintai agar ia dapat tetap menjalani hari dengan perasaan yang nyaman. Lelaki butuh dicintai agar semangatnya tetap hangat menemani aktifitas keseharian. Lelaki butuh dibelai agar sisi kakanak-kanakkannya dapat terpenuhi saat ia dituntut untuk dewasa di luar rumah.

loveMaka mari kita sama belajar bagaimana Rasulullah mendapat perlakuan istimewa dari istrinya Khadijah yang menjadi bekal kekuatan di awal dakwah yang berat. Belajar bagaimana Rasulullah memperlakukan istrinya dengan istimewa sehingga istri mampu mendukung dengan tangguh beratnya dakwah.

Bahwa lelaki pun tetap butuh cinta sebagaimana perempuan membutuhkannya.

-Tulisan ini sebelumnya saya publish di Aim Desain

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Facebookinstagram

Tinggalkan komentar