Mari Bantu Para Ayah

Mari Bantu Para Ayah

Hari ini saya menangis. Beneran nangis. Terharu dengan ucapan suami.

Belakangan memang Allah sedang memberikan banyak kejutan luar biasa. MasyaAllah. Semoga ini adalah nikmat dan keutamaan dari Allah.

Suami membuka pembicaraan dengan bercerita mengenai obrolan dari wali murid terkait anaknya. Wali murid tersebut ingin berkonsultasi dengan suami.

Mendengar kisah tersebut, suami berefleksi pada dirinya yang juga pernah mengalami hal yang sama. Kondisi anak kami yang susah diajak ataupun dilatih.

Di kajian tadi, suami sempat mengajak hadirin untuk mempraktekkan loving kindness yang mungkin bagi para bapak lucu menggelikan apalah apalah. Hihi..

Dasar Refleksi

Dari kejadian ini, suami memberikan refleksi dari ayat ke 78 surah an-Nahl: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani agar kamu bersyukur.

Maka kondisi anak memang terlahir tidak mengetahui apa-apa. Tapi Allah memberikan bekal berupa pendengaran, penglihatan dan hati.

Bahwasanya anak tidak hanya butuh ucapan “ayah sayang kamu” atau “bunda sayang kamu”. Ketika ucapan itu tidak diejawantahkan ke dalam praktek yang mereka lihat maka ada yang tidak sinkron antara pendengaran dan penglihatan. Anak bingung. Seperti apa sayang itu?

Tidak perlu banyak perintah dan mengutarakan berbagai teori pada anak saat berbicara. Sebab mereka akan mendengar dan melihat. Hati mereka masih begitu bersih sehingga menjadi cermin bagi sekitarnya.

Anak yang berulah, disadari atau tidak, diakui atau tidak, ada “ulah” kedua orang tuanya. Utamanya ayah.

Mereka kehilangan sosok ayah yang hadir secara utuh. Tidak hanya jasadnya tapi juga hati dan pikirannya.

Mengapa Ayah?

Mengapa ayah jadi sorotan? Sebab pada dasarnya ibu memiliki kepekaan lebih dan kemampuan untuk hadir lebih baik dari ayah. Meskipun kita tidak menutup kemungkinan akan ketidakhadiran ibu.

Para ayah, mereka adalah lelaki yang mengajarkan pertahanan pada anak-anaknya. Ketegasan berbalut cinta yang menguatkan.

Sedang ibu, mereka adalah sosok yang mengajarkan tentang kasih sayang. Jika ayah berbicara tentang gas, maka ibu berbicara tentang rem. Sehingga anak diajak untuk menjadi kuat dan melaju kencang tapi memiliki kendali kasih yang hebat.

Terutama pada anak di bawah usia 7 tahun saat prefrontal cortex-nya belum terbentuk sempurna, logikanya belum berjalan dengan baik. Belum dapat menggunakan logika secara sempurna. Sehingga ia “hanya” punya pendengaran, penglihatan dan hati.

Maka pintu masuk untuk mengenalkan rasa sayang kita dan berbagai pembelajaran ya kenalkan cintanya dulu. Agar ia terasa di hati.

Dan ini akan sangat berdampak jika dilakukan oleh ayah dan ibu secara proporsional. Dengan kita belai sepenuh cinta, mengalirkan rasa cinta kita melalui dekapan itu akan menancap di hati anak.

Kata-kata itu pengaruhnya menjadi sedikit sebab anak akan hafal apa saja yang dikatakan orang tuanya karena sering mendengar (lewat pendengaran), “Ah, ayah mah janji janji paling juga nanti lupa. Pas diingetin marah”. Anak sudah akan hafal kalimat orang tuanya bahkan dapat mengucapkan dengan sama persis.

Seringkali terjadi ketidaksinkronan antara pendengaran dan penglihatan. Orang tua nyuruh sesuatu, faktanya orang tuanya melakukan hal sebaliknya. Meminta anak jujur tapi orang tua tidak jujur. Atau ketika anak jujur, orang tua memarahi anak ketika ternyata kejujurannya dalam hal pahit seperti memecahkan gelas.

Orang tua bisa saja bilang cinta cinta cinta, tapi mata anak menangkap hal lain. Ia diabaikan, sibuk sama gadget tanpa batasan waktu. Perbedaan yang terjadi pada apa yang didengar dan dilihatnya membuat dia blank.

Anak akan melihat perilaku ayahnya ke dirinya, ke ibunya, ke saudara-saudaranya. Ketika anak lagi main seneng-senengnya tiba-tiba dilarang lalu diperintah ini itu kan ga ngenakin banget. Tanpa bridging, tanpa prolog tahu-tahu ga boleh, tahu-tahu dimarahi. Itu yang kerasanya.

Ada kondisi dimana dia nyaman, enak, tiba-tiba diminta melakukan hal lain yang bagi anak bisa jadi berat. Maka perlu bagi orang tua mengetahui cara komunikasi yang baik.

Bagaimana Membantu Ayah?

Biasanya hal ini dikeluhkan para ibu. Bagaimana ya Teh membuat suami mau turut terlibat dalam pendidikan anak? Harapan keterlibatan itu saya tahu bukan berarti tugas pengasuhan dibagi rata, tapi sesuai porsi sebagai ayah dan ibu.

Umumnya, pengasuhan menjadi tugas ibu sementara ayah fokus di urusan nafkah. Hal ini tidak salah. Hanya saja ada baiknya jika ayah pun terlibat dalam pembentukan karakter baik anak.

Lalu bagaimana membantu para ayah agar hatinya menjadi semakin peka dan peduli secara konkrit pada pertumbuhan anak? Jawabannya: ibu yang membantu ayah untuk berubah.

  1. Doakan selalu untuk kebaikan suami
  2. Bersabar pada prosesnya
  3. Terima suami secara ikhlas, pasrahkan perubahan beliau pada Allah
  4. Lakukan loving kindness pada suami. Bisa jadi sikapnya demikian karena dulu ia diasuh dengan gaya yang serupa.
  5. Lakukan secara kontinyu seraya memberi contoh loving kindness pada anak.

Hidayah itu milik Allah, jangan cerewetin suami terus menerus memaksa dia berubah. Tapi dengan loving kindness ini dibelai dipeluk, lebih kerasa di hati. Ketika hati sudah terpaut, akan lebih terasa mudah dijalani.

Perbaikan hubungan ayah dan ibu akan membantu perbaikan sikap anak dan perbaikan pengasuhan insyaAllah..

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: