Memahami Komponen Variabel Diri

Memahami Komponen Variabel Diri

Ada banyak variabel dalam diri seseorang. Dalam tes minat bakat yang menggunakan cara paper test atau kuesioner, yang dilihat adalah fenotipe alias “keseluruhan yang nampak” pada seseorang. Hasilnya dapat berubah seiring perubahan lingkungan.

Ingat rumus: fenotip = 20% genetik + 80% lingkungan.

Mengukur Genetik

STIFIn mengutarakan sisi 20% yang bersifat genetik dan tidak dapat berubah. Sifat bawaan yang akan selalu menempel pada diri seseorang. Hanya saja dapat berada pada level yang berbeda bagi setiap orang.

Bakat umumnya 100% genetik alias bawaan. Sedangkan minat 50-50 antara genetik dengan pengaruh lingkungan.

Sehingga seorang Feeling yang terbiasa di dunia Thinking misalnya, akan seolah-olah nampak jago di dunia itu. Akan tetapi jika dirunut lagi, pendekatan yang ia lakukan di dunia Thinking tersebut kemungkinan besar tetap nyaman dan efektif menggunakan gaya Feeling-nya. Misal, diskusi, ketemu orang, ngobrol, mendengarkan, cantolannya manusia, dsb.

Dunia Feeling adalah dunia humanis. Ia fokus pada orang. HRD salah satu bidang yang disarankan.

Feeling dan Thinking memiliki kesamaan di jalur organisasi sehingga kedua tipe ini akan cenderung menyukai dunia organisasi. Satu ngurus sistem, satu ngurus orang.

Feeling punya genetik bawaan Leadership, Thinking punya genetik bawaan managerialship. Sehingga sekilas akan nampak sama-sama “dominan” di dunia organisasi.

Sedangkan Intuiting dan Sensing memiliki kesamaan di jalur produksi sehingga bawaannya akan cenderung lebih fokus pada produktifitas.

Insting dimana? Ia selalu ada di tengah-tengah. Ke organisasi hayu, produksi oke.

Daya Jalar

Dalam konsep STIFIn, ada yang disebut dengan daya jalar. Ketika sisi genetiknya diasah, maka seluruh bagian otak lainnya akan turut berkembang. Hal ini akan menyebabkan Feeling yang tadinya ga enakan, ketika leadership-nya terasah akan mampu memiliki kemampuan managerialship, ide dan eksekusi yang cepat. Tapi tetap, yang utama diasah adalah sisi Feeling-nya.

Strata Genetik

Terkadang saat seseorang sudah tes STIFIn lalu yang nampak tidak seluruhnya sesuai dengan hasil tes, ada kalimat atau komentar yang muncul: mungkin pengaruh golongan darah. Atau semacamnya.

Mengenai pengaruh golongan darah, ada bahasan tersendiri yang dinamakan STRATA GENETIK. Berikut saya infokan dalam bentuk gambar:

Ada setidaknya 5 sisi genetik yang berpengaruh pada respon atau tindakan dan sifat seseorang. Seperti yang nampak pada gambar di atas, yang tertinggi adalah perbedaan jenis kelamin. Saya list aja ya untuk memudahkan. Dimulai dari strata genetik tertinggi:

  1. Jenis kelamin
  2. Mesin kecerdasan
  3. Drive kecerdasan
  4. Kapasitas hardware/otak (IQ)
  5. Golongan darah

Sebagaimana daftar di atas, bahwasanya jenis kelamin memiliki strata tertinggi. Sehingga disadari atau tidak, akan ada pola dimana respons seorang lelaki lebih logis dibanding respon seorang perempuan yang cenderung dominan perasaan.

Akan tetapi hal itu saja tidak cukup. Kita menemukan di lapangan bahwa ada juga perempuan yang hampir mendekati sifat laki-laki. Yang dalam kuesioner gender intelligence disebutkan memiliki sifat lebih dekat ke arah maskulin. Apakah ini kelainan? Belum tentu.

Lalu marak informasi mengenai sifat seseorang berdasarkan golongan darahnya. Hal ini tak dapat kita nafikan sebab memang nyatanya golongan darah membawa sifat tertentu.

Bagaimana dengan IQ seseorang? Bisa dikatakan bahwa IQ ini ibarat RAM. Kecerdasan yang diturunkan dari orang tua pada anak salah satunya adalah kecerdasan berdasar IQ. Ia memiliki andil dalam mudah tidaknya seseorang memahami dan mempelajari sesuatu yang baru.

Sebab disadari atau tidak, mereka yang memiliki IQ di bawah standar cenderung akan sulit mempelajari sesuatu. Lamban istilahnya. Bukan tidak bisa ya. Tapi butuh waktu lebih lama.

Nah, ada 2 variabel genetik lain yang ini merupakan pelengkap dari 3 bagian genetik lainnya yakni mesin kecerdasan dan drive kecerdasan yang menjadi variabel dasar sifat seseorang. Dua hal inilah yang diukur oleh STIFIn.

Mesin kecerdasan berbicara tentang bagian otak dominan pada seseorang. Hal itu akan mempengaruhi cara ia bersikap, sifat, kecenderungan respon, kemistri kebahagiaan dan gaya kesehariannya.

Manusia memiliki 5 belahan otak yang pada manusia normal insyaAllah aktif semuanya. Diantara kelima belahan otak itu ada pemimpinnya. Ia yang akan paling sering muncul pada seseorang.

Jadi perlu dicatat, ini bukan soal bisa atau tidak bisa akan tetapi perkara optimal atau tidak. Sebab semua orang memiliki otak yang sama sehingga jika berbicara bisa, tentu saja bisa asal dilatih. Sedangkan jika berbicara penggemblengan maka kita sudah perlu bicara tentang optimalisasi.

Kemudian mengenai drive kecerdasan merupakan variabel dari lapisan otak yang dominan pada belahan otak dominan seseorang. Maka muncul variabel introvert dan extrovert.

Berbicara tentang istilah introvert extrovert, perlu dipahami bahwa pada dunia psikologi umum, kedua istilah ini lebih pada cara seseorang mengekspresikan emosinya, perasaannya. Orang introvert tertutup sedangkan orang extrovert lebih ekspresif terbuka.

Dalam dunia STIFIn, istilah ini tak lebih dari “sekadar” kendali kecerdasan alias drive dari seseorang. Apakah dari dalam (introvert) atau butuh stimulus dari luar (extrovert)?

Maka kelima variabel genetik ini tentu akan memengaruhi sifat seseorang. Tapi fakta di lapangan membuktikan bahwa kehadiran konsep STIFIn membantu efektivitas sebuah proses pembelajaran (penggemblengan) manusia. Melengkapi pengetahuan mengenai penggemblengan berbasis genetik sebelumnya.

Dengan paham STIFIn, kita belajar bahwa meskipun sama-sama lelaki bergolongan darah O dengan IQ 120, gaya mereka bisa jadi berbeda karena perbedaan mesin kecerdasan maupun drive kecerdasan.

Maka penting untuk mengetahui hasil tes STIFIn seseorang agar kita paham treatment dan pendekatan seperti apa yang akan efektif baginya. Kita juga memahami kecenderungan minat, bakat dan potensi penyakit belajarnya apa saja.

Sehingga penggemblengan akan semakin optimal. Mengantarkan setiap pribadi ke titik terbaik sesuai potensi dasar yang sudah Allah berikan sejak ruh ditiupkan. Menjalankan misi yang dititipkan di bidang terbaik yang Allah ilhamkan.

Wallahu a’lam.

*tulisan ini sekaligus merupakan jawaban “lengkap” atas komentar saya di akun facebook teman mengenai STIFIn dan perbandingan dengan kuesioner.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

2 pemikiran pada “Memahami Komponen Variabel Diri

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: