Memahami Parenting

Memahami Parenting

Parenting is about being parent

-Esa Puspita, 2018

Parenting identik dengan cara mendidik anak. Istilah yang sangat dikenal oleh orang tua milenial. Bahkan muncul berbagai istilah islami terkait parenting ini. Pertengahan bulan Januari lalu saya berkesempatan sharing tentang sesuatu yang sempat menjadi “pikiran”. Tentang istilah parenting.

Saat melakukan perenungan, apa ya sebetulnya definisi parenting ini? Secara yaa di kamus bahasa Inggris mah ga ada. Kenapa sih kok dikasih nama: parenting bukan childrening? #ngarang 😁

Tapi memang bentuk dasarnya dari bahasa Inggris yang saya pahami secara ngasal: parent + ing = sedang dilalui alias present tense dari tindakan/kegiatan menjadi parent 😅

Maka saat terlintas pikiran tentang parenting ini, saya kemudian menduga bahwa parenting itu sebetulnya fokus utama bukan pada anak, tapi pada orang tua. Itu kenapa (menurut saya) namanya parenting bukan childrening atau semacamnya. (hihi ngasal banget ini kasih istilahnya).

Sebab dalam konsep Islam sendiri, yang ada itu adalah pendidikan anak (tarbiyatul aulad). Itupun bahasan awalnya lumayan panjang juga tentang diri orang tua, yang menjadi jawaban kenapa istilah di Barat disebut dengan parenting.

Mungkin bisa jadi perenungan bersama.

Ngeh Sama Parenting

Setelah merenungi lebih panjang dan mengingat kembali bahasan di buku Pendidikan Anak dalam Islam dan berbagai sumber rujukan pendidikan anak dalam islam plus buku-buku parenting, nyatanya yang perlu pertama kali sadar akan peran itu justru adalah orang tua. Sehingga ini menguatkan saya bahwa parenting is about being parent. Bagaimana kita belajar menjadi orang tua. Bagaimana kita belajar tentang diri kita dalam memerankan tanggung jawab sebagai orang tua.

Draft tulisan ini ada sejak November 2018. Pikir-pikir lama juga ya ngendap di draft dan ga publish. Bersyukurnya teh karena sempat menjadikan bahasan ini “nyata” berupa kulwap di grup Gen Tara (SLC Sygma Daya Insani di bawah naungan teh Elin). Dan sempat disinggung di kulwap bersama para orang tua murid SIAS (Sekolah Interaktif Abdul Salam, semoga ga salah ya nama akhirnya).

Saya kemudian sering membawakan istilah Parent Self Awareness, yakni bagaimana orang tua aware alias ngeh, alias sadar betul tentang dirinya untuk kemudian belajar mengenali pasangan dan anak.

Saat memikirkan “kenapa kok namanya Parenting?” Kenapa pake kata parent. Terlintas sebuah jawaban, because Parenting is about being parent. Parenting itu sebetulnya seni menjadi orang tua.

Bagaimana kita yang setelah menikah lalu dikaruniai anak, kemudian memiliki peran baru yang sudah sunnatullah tapi “hampir” tak pernah dipersiapkan secara “resmi” dan serius untuk menjalaninya.

Konon, “ah itu mah alamiah. Ntar juga bisa”. Betul. Untuk beberapa praktek, sangat alamiah termasuk naluri orang tua. Akan tetapi sebagaimana amal secara umum, dalam Islam praktek mesti dibarengi dengan pemahaman alias ada ilmunya. Maka dalam kontemplasi yang entah memakan waktu berapa lama (karena emang saya ga ngitung­) saya menemukan jawaban lanjutan.

Ketika menjadi orang tua, sesungguhnya yang perlu menjadi fokus utamanya justru adalah kita sebagai orang tua

Parent Self Awareness

Fokus pertama dan utama diri kita kala mempelajari parenting ada baiknya diarahkan pada semua hal tentang persiapan menjadi orang tua. Apa saja persiapan itu?

  • Kenali diri
  • Kenali pasangan
  • Lalu kenali pula apa saja kewajiban orang tua terhadap anak dan apa saja kewajiban pribadi terhadap pasangan.

Sebab orang tua menjadi tolok ukur pendidikan anak ke depannya. Sejauh mana kita mengenal diri? Sejauh apa kita mencintai diri sendiri? Sudah sebaik apa kita menerima diri kita? Dari situ kita akan mulai menjajaki, sejauh mana kita mengenal Tuhan kita, agama kita, aturan agama dan masyarakat,dst.

Saat saya menghadapi kenyataan di dunia menjadi orang tua, serta mendampingi beberapa pasang suami istri, kekacauan pendidikan anak hadir dari orang tua yang belum selesai dengan dirinya. (Dan tentu saja kurang memiliki ilmu).

Akibatnya, sang orang tua menjadi uring-uringan. Yang kena, pasangan dan anak. Yang muncul dari masing-masing adalah menuntut untuk dibahagiakan karena salah satu tujuan menikah ya untuk mencari kebahagiaan. Bukan berbagi kebahagiaan dan menyatukan 2 kebahagiaan menuju kebahagiaan yang lebih luas.

Orang tua yang sudah selesai dengan dirinya, terbiasa ridho dengan takdir tuhannya, mudah bagi dia ridho pada takdir-takdir selanjutnya yang akan ia hadapi di masa depan. Saat mencari calon, yang ia cari adalah sosok yang ingin ia jadikan tempat berbagi bahagia.

Lalu apakah menikah untuk mencari kebahagiaan itu salah? Tidak sepenuhnya salah. Hanya saja akan berbeda “rasa” dan tindakannya.

Saat mencari, kita akan fokus pada goals kita, tujuan kita. Coba deh, kalo di kereta, dalam perjalanan ke tempat yang baru, yang kita perhatikan apakah stasiun tempat orang lain berhenti atau stasiun tempat kita berhenti? Padahal yang di kereta itu pasti jalur yang ditempuh sama kan?

Maka, yuk teman-teman. Bagi yang single, cek apakah kita sudah betul-betul siap berbagi kebahagiaan?

Bagi yang sudah menikah dan belum punya anak, yuk bagikan kebahagiaan lain pada pasangan.

Bagi yang sudah menikah dan sudah memiliki anak, lalu ingin pasangan terlibat aktif dalam pengasuhan, yuk kita mulai mengubah “aku bukan ingin kamu bantu jaga bayi karena aku tau itu tandanya aku ingin berbagi beban. Tapi aku ingin berbagi kebahagiaan. Ini buah cinta kita. Aku bahagia membersamainya. Dan ingin kamu merasakan kebahagiaan yang sama“. Maka siapapun pasti ingin merasakan pula kebahagiaan itu.

Mulai dari selesai dengan diri, maka kita bisa lebih baik menghadapi orang lain. Mulai dari selalu belajar berbahagia, maka kita bisa menebarkan kebahagiaan pada lingkungan sekitar.

Bagaimana jika saya sedang tidak bahagia? Mari kita diskusi.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: