Membangun Kebiasaan Anak, Dimulai dari Komitmen Orang Tua

“Aa sudah shubuh, ayok bangun. Jamaah di masjid sama abi”

Kalimat itu belakangan hadir di antara cerita keluarga kami. Kebiasaan anak bangun sebelum shubuh terkubur oleh kebiasaan orang tua menyuruhnya tidur lagi. Iya, kami akui kesalahan yang secara tak sengaja dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya anak memiliki kebiasaan baru dengan kehilangan kebiasaan lamanya yang baik.

Sederhana saja alasannya: masih pagi. Nanti takut ngantuk di sekolah. Atau, daripada nanti ga bisa ngerjain kerjaan rumah karena kalau anak sudah bangun pasti minta main ini itu.

Sifat Bawaan Anak itu Mudah Bangun Shubuh

Fitrah anak untuk mudah bangun di sepertiga malam. Jadi, jika ada anak sulit bangun shubuh, bisa dibilang ada sesuatu yang terjadi pada anak tersebut.

Mungkin saja fitrahnya rusak oleh ulah orang tua yang menutupi kebiasaan itu karena alasan SAYANG. Atau malah untuk urusan sepele: GA MAU TERGANGGU.

Ah, teh Esa mah becanda. Masa anak terbiasa bangun di sepertiga terakhir malam?

Ih, masa ga percaya. Coba, bayi suka bangun minta nyusu jam berapa? Selama bayi sampai usia 1 tahunan deh, anak masih suka bangun malem ga?

Pengalaman saya dengan anak-anak, apalagi memperhatikan Hasna (usianya baru menjelang 3 bulan) biasanya mereka pasti bangun antara jam 2-4. Ritme itu pula yang membantu saya memulai kembali kebiasaan qiyamullail meskipun harus meninggalkan Hasna sejenak untuk keperluan ke toilet, wudhu dan shalat. Selebihnya, ia akan tidur lagi menjelang shubuh. Ini yang kemudian perlu diperbaiki juga setelah ia nanti agak besar. Jangan sampai ia tidur lagi setelah shubuh.

Jadi sebetulnya anak mudah bangun shubuh. Syaratnya, jaga fitrah itu.

Sepertinya semua orang tua setuju kalau bayi PASTI akan bangun di jam-jam menjelang shubuh. Bahkan hingga usia balita. Setidaknya sampe usia 2 tahunan lah ya. Saat yang sama dimana anak juga mulai INGIN IKUT SHALAT DI MASJID.

Nah lho. Apalagi anak laki, ayahnya nih yang kudu ekstra turun tangan supaya keinginannya ikut ke masjid kelak menjadi kebiasaan untuk memakmurkan masjid dan shalat di awal waktu berjamaan di masjid. Jangan sampai saat anak semangat ke mesjid, kita larang. Giliran kita ajak trus mereka ga mau, kita marah-marah. Padahal kita yang “mengajarkan”nya pada anak. Na’udzubillah.

Membangun (Kembali) Kebiasaan Anak Dimulai dari Komitmen Orang Tua

Membangun kebiasaan maupun mengembalikan kebiasaan baik pada anak sangat membutuhkan komitmen orang tua. Bagaimana tidak, jika komitmennya kendor tentu pengawasan untuk membiasakan sesuatu menjadi turut melemah. Anak yang masih masa pembentukan itu pun kehilangan pijakan untuk membangun kebiasaan baiknya.

Terkait shalat, diperintahkan di usia 7 tahun. Akan tetapi tak ada larangan untuk mengajak atau mengizinkan ia turut serta shalat. Sambil dibiasakan, kita nasihatkan terus adab tentang shalat, tentang adab di masjid, adab shalat berjamaan dsb.

Membangun kebiasaan baik seperti makan sambil duduk, makan menggunakan tangan kanan, membuang sampah di tempatnya, pipis di jamban, cebok setelah buang air, menyimpan piring kotor di tempat cuci piring, menyimpan baju kotor di wadahnya, memilih jajanan, dsb. Semua itu butuh kesungguhan dari orang tua. Sebab kita yang akan membantu dia mengontrol dan mencontohkan hal tersebut.

Terkadang jadi capek sendiri ya rasanya. Apalagi jika lingkungan kita termasuk yang kurang mendukung kebiasaan baik yang kita coba tanamkan pada anak. Tapi perjuangan dalam proses membangun kebiasaan anak itu akan kita rasakan manis buahnya, cepat atau lambat tergantung kebiasaan apa yang kita ajarkan.

Sebagai contoh, kebiasaan menyimpan piring kotor di tempat cuci piring meringankan beban ibu untuk membereskan wadah bekas makan anak-anak. Kita tinggal cuci saja piringnya karena wadah kotor itu sudah berada di tempatnya. Tak perlu lagi beberes mengumpulkan piring kotor yang berserak. Mengurangi 1 kerjaan. Apalagi jika ibu tidak menggunakan jasa asisten rumah tangga. Kalaupun menggunakan jasa ART, tetap saja hal ini baik sebab kita telah membantu meringankan tugas ART sehingga ia dapat mengerjakan hal lain.

Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya pun menjadi sebuah nilai yang akan sangat berguna bagi lingkungan. Kalaupun kita tidak turut serta aktif dalam pengelolaan limbah sampah, setidaknya kita tidak membiarkan anak-anak menjadi pelaku aktif dalam mengotori lingkungan dengan sampah berserakan.

Bagaimana Menguatkan Komitmen Orang Tua?

Kesepakatan paham antara pasangan suami dan istri sangat diperlukan. Hal ini menjadi pondasi utama dalam menjalankan komitmen membangun kebiasaan anak.

Selain menjadi contoh nyata dalam kebiasaan baik itu, komitmen ayah dan ibu juga menguatkan serta memudahkan proses pembentukan kebiasaan baik dalam keluarga. Jika ayah dan ibu sepaham, maka tak ada istilah “gontok-gontokan” karena yang satu berpendapat “piring kotor taruh di tempatnya” yang lain berpendapat “itu kan tugas ibu/ayah”. Akhirnya anak memilih yang paling enak dong: biarkan saja piring kotor berserakan dimana pun.

Kesepahaman antara suami-istri juga akan menjadi banteng menghadapi perbedaan pendapat dari pihak luar. Pihak luar disini maksudnya pihak-pihak di luar ayah-ibu-anak. Penting untuk suami-istri sepaham agar dapat memahamkan sekitar terutama keluarga besar tentang kebiasaan yang sedang coba dibangun berikut cara yang ditempuh.

Guna menguatkan komitmen ini, masing-masing suami istri mesti menguatkan diri terhadap apa yang disepakati. Siap lahir batin menjalankan semua prosesnya meskipun “berdarah-darah”. Siap mengubah diri menjadi lebih baik agar dapat menjadi contoh terbaik sebagai pengejawantahan komitmen keluarga.

Iringi Tawakal Sejak Awal

Jauh sebelum mengusahakan atau berikhtiar membentuk kebiasaan baik pada anak, kita sudah harus mengiringinya dengan tawakal. Upaya kita membiasakan kebaikan bukan untuk pamer atau dipuji orang, melainkan upaya kita memenuhi amanah untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita. Maka niat yang lurus itu dibarengi tawakal bahwa ikhtiar yang kita lakukan adalah ikhtiar terbaik yang bisa kita berikan. Dan hasilnya kita serahkan pada Allah saja.

Wallahu a’lam.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *