Membantu yang Ingin Dibantu

Membantu yang Ingin Dibantu

19 Juni
Percakapan sore ini dengan Mama cukup mengganggu hati dan pikiran. Sebelumnya hal yang diucapkan Mama sudah terpikir dan saya utarakan pada suami. Jawaban beliau bisa dibilang menenangkan dan menjadi bahan evaluasi yang saya tulis disini.

Terkait ‘kasus’ yang ada di keluarga besar, Mama berkomentar “Teh, jangan ngebantu orang aja. Keluarga sendiri ga dibantu

Sekilas kalimat itu seperti menghakimi dan benar. Sempat menghancurkan semangat juga.
Tapi mengingat ucapan suami dan lintasan yang muncul untuk menjawab Mama, hal itu jadi perenungan tersendiri.
Teteh ga pernah memaksa untuk bantu seseorang. Mereka yang datang sendiri, mereka yang minta dibantu.”

Siang harinya sempat ada obrolan dengan suami, bermula dari ucapan saya: “A, ade ngisi training disana sini tapi keluarga sendiri belum semuanya move on
Ditampik suami. “Jangan bilang gitu. Jangan kepikiran gitu. Toh kita juga tidak mengabaikan keluarga. Tapi perubahan mereka bukan tugas kita

Ketika ada keluarga yang nampak galau, saya tegur dan tanya. Ketika mereka ga mau cerita, masa dipaksa.

Yap, tidak semua orang mau terbuka urusan permasalahan internalnya. Mungkin jika dirasa sudah sangat urgen, baru minta bantuan.

Berulang kali (seingat saya) coba mengulurkan tangan. Tapi jika uluran tangan tak bersambut, apa yang bisa saya lakukan?

Lalu teringat sekian banyak yang kami keluarkan untuk mengikutsertakan keluarga ke kelas-kelas yang kami ikuti dan terasakan manfaatnya serta dirasa dapat membantu permasalahan mereka, jika “hidayah” belum turun, tetap saja tak ada perubahan. Mirip seperti tulisan saya tentang mengubah seseorang.

Uluran tangan butuh kemauan tidak hanya dari yang mau membantu tapi juga dari yang akan dibantu.

Saya sampai pada kesimpulan bahwa kita memang hanya bisa membantu mereka yang ingin dibantu. Membantu mereka yang bersedia dibantu. Membantu sesuai kapasitas kita. Sesuai keilmuan kita. Dengan segala keterbatasan ilmu yang dimiliki.

Ulurkan tangan secara cermat. Tak ada guna menghabiskan tenaga untuk orang yang tak bersedia dibantu, lalu karena alasan “masa begitu” kita mengabaikan mereka yang sudah percaya untuk didampingi.

Tentu tidak kemudian sepenuhnya lepas tangan akan apa yang terjadi dalam keluarga. Jika upaya, teguran, masukan sudah diberikan, maka selebihnya kita berserah pada Yang Maha Menggenggam Hati tentang keputusan yang dibuat oleh ybs bukan? 😇

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: