Mempelajari Adab Menuntut Ilmu

Mempelajari Adab Menuntut Ilmu

Memasuki tahun 2018, Allah menggerakkan saya untuk bergabung dengan sebuah komunitas belajar mengenai dunia ibu, anak dan keluarga. Di dalamnya, sejak pra-kelas mindset saya terus diperbaiki. Dan qadarullah selaras sekali dengan target tahun ini yang fokus pada keluarga. Bagaimana menjadi istri shalihah yang mendukung sepak terjang suami, juga menjadi ibu shalihah yang menjadi tonggak pendidikan anak-anak agar tumbuh sebagai pribadi-pribadi madani.

Institut Ibu Profesional namanya. Profesionalisme sebagai ibu (dan istri) betul-betul diajarkan disini. Di kelas matrikulasi (dan kelas foundation, pra-kelas matrikulasi).

Kenapa IIP?

Kenapa saya tertarik untuk bergabung? Sejak dulu, sudah sangat tertarik. Tapi, saya mengukur diri apakah benar-benar bisa belajar dan mempraktekkan segera. Sanggupkah saya memenuhi amanah tugas yang diberikan atau tidak. Karena pernah terjadi, dulu terlalu semangat sehingga ikut grup sana-sini tapi ga dibaca sama sekali atau ga terlalu bisa mengikuti atau malah waktu habis buat grup dan anak terbengkalai.

Khawatirnya saya hanya menjadi pengumpul ilmu, peserta kumpul komunitas belaka tanpa ada perbaikan pribadi apalagi keluarga. Sehingga saat pertama kali mengetahui informasi mengenai matrikulasi IIP, saya sengaja tidak mendaftar. Khawatir menjadi ilmu yang tak bermanfaat.

Setelah fokus mengenai belajar manajemen emosi mulai terasa efeknya, barulah akhirnya Allah menggerakkan saya untuk mantap mendaftar di kelas ini. Daaannn Senin kemarin masuk ke materi pertama dengan tugas NHW (nice home work) pertama: adab ilmu. Materi yang sedang menjadi fokus saya dan teman-teman sebelum masuk IIP dan makin terasa ruhnya saat belajar materi ini di kelas matrikulasi kemarin.

Apa itu Adab Menuntut Ilmu?

Menuntut ilmu sendiri merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang guna mengubah perilaku dan tingkah laku ke arah yang lebih baik. Karena pada dasarnya ilmu menunjukkan kepada kebenaran dan meninggalkan segala kemaksiatan.

Ini yang bagi saya menjadi sebuah pembeda: mana ilmu dan mana pengetahuan. Ilmu menghasilkan perubahan perilaku, sementara pengetahuan sebatas mengetahui. Sebatas tahu tanpa praktik.

Bahkan ada pernyatan ekstrim: “Seringkali kita memohon, berlindung pada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat. Maka bersyukurlah jika Allah menunjukkanmu pada ilmu-ilmu yang bisa dipraktekkan segera. Bukan sekadar dikumpulkan. Karena ilmu yang bermanfaat itu dipraktekkan, mengubah dan dibagikan, lalu mengubah pula”.

Banyak diantara kita terlalu buru-buru fokus pada suatu ilmu tapi belum paham mengenai adab-adab dalam menuntut ilmu. Sehingga tak heran jika kita dapati murid-murid saat ini sedikit sekali (atau malah tidak ada sama sekali) yang mendapatkan keberkahan dari ilmunya. Bahkan diri kita pribadi akhirnya hanya “menumpuk daging” hingga “busuk” tanpa sempat diolah. Sayang sekali bukan?

Ilmu dulu atau Adab dulu?

Karena ILMU adalah prasyarat untuk sebuah AMAL, maka ADAB adalah hal yang paling didahulukan sebelum ILMU. Hal ini pula yang membuat kami memutuskan memasukkan Danisy ke Kuttab dan memperbaiki terus adab dalam pendidikan di rumah. Sebagai sebuah upaya memahamkan terlebih dahulu tentang adab sebelum bergegas pada menguasai sebuah ilmu.

ADAB adalah pembuka pintu ilmu bagi yang ingin mencarinya.

Adab menuntut ilmu sendiri merupakan tata krama (etika) yang dipegang oleh para penuntut ilmu. Dengan demikian akan terbentuk pola harmonis baik secara vertikalantara dirinya sendiri dengan Sang Maha Pemilik Ilmu-, maupun secara horisontalantara dirinya sendiri dengan para guru yang menyampaikan ilmu, maupun dengan ilmu dan sumber ilmu itu sendiri-.

Karena ADAB tidak bisa diajarkan, ADAB hanya bisa ditularkan

Para ibu perlu mengamalkan ADAB menuntut ilmu ini dengan baik, sehingga anak-anak yang menjadi amanah para ibu bisa mencontoh ADAB baik dari Ibunya.

Hal yang Perlu Diperhatikan Terkait Adab Menuntut Ilmu

Adab pada Diri Sendiri

  1. Ikhlas dan mau membersihkan jiwa dari hal-hal yang buruk
    Selama batin tidak bersih dari hal-hal buruk, maka ilmu akan terhalang masuk ke dalam hati. Sebab ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati.
  2. Selalu bergegas, mengutamakan waktu-waktu dalam menuntut ilmu
    Hadir paling awal dan duduk paling depan di setiap majelis ilmu baik online maupun offline.
  3. Menghindari sikap yang “merasa’ sudah lebih tahu dan lebih paham, ketika suatu ilmu sedang disampaikan
    Merendahkan hati dan pikiran di hadapan sumber ilmu maupun guru adalah sebuah hal yang perlu selalu diingat dan dilaksanakan.
  4. Menuntaskan sebuah ilmu
    Menuntaskan ilmu yang sedang dipelajari entah dengan cara mengulang-ulang, membuat catatan penting, menuliskannya kembali dan bersabar sampai semua runtutan ilmu tersebut selesai disampaikan sesuai tahapan yang disepakati bersama.
  5. Bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas yang diberikan setelah ilmu disampaikan
    Karena sejatinya tugas itu adalah untuk mengikat sebuah ilmu agar mudah untuk diamalkan.

Adab Terhadap Guru (Penyampai Ilmu)

  1. Penuntut ilmu harus berusaha mencari ridha gurunya dan dengan sepenuh hati
    Menaruh rasa hormat kepadanya, disertai mendekatkan diri kepada DIA yang Maha Memiliki Ilmu dalam berkhidmat kepada guru.
  2. Hendaknya penuntut ilmu tidak mendahului guru
    Seorang penuntut ilmu yang beradab hendaknya izin untuk menjelaskan sesuatu atau menjawab pertanyaan, tidak mendahuluinya dan jangan pula membarengi guru dalam berkata, jangan memotong pembicaraan guru dan jangan berbicara dengan orang lain pada saat guru berbicara.
    Hendaknya penuntut ilmu penuh perhatian terhadap penjelasan guru mengenai suatu hal atau perintah yang diberikan guru. Sehingga guru tidak perlu mengulangi penjelasan akibat kelalaian kita dalam memperhatikan.
  3. Penuntut ilmu meminta keridhaan guru
    Ketika ingin menyebarkan ilmu yang disampaikan baik secara tertulis maupun lisan ke orang lain, ada baiknya meminta izin terlebih dahulu. Apabila dari awal guru sudah menyampaikan bahwa ilmu tersebut boleh disebarluaskan, maka cantumkan/sebut nama guru sebagai bentuk penghormatan kita.

Adab terhadap Sumber Ilmu

  1. Tidak meletakkan sembarangan
    Atau memperlakukan sumber ilmu dalam bentuk buku ketika sedang kita pelajari.
  2. Tidak melakukan penggandaan
    Juga tidak membeli dan mendistribusikan untuk kepentingan komersil sebuah sumber ilmu tanpa ijin dari penulisnya.
  3. Tidak mendukung perbuatan para plagiator
    Juga tidak mendukung produsen barang bajakan dengan cara tidak membeli barang mereka untuk keperluan menuntut ilmu diri kita dan keluarga.
  4. Dalam dunia online, tidak menyebarkan sumber ilmu yang diawali kalimat “copas dari grup sebelah” tanpa mencantumkan sumber ilmunya dari mana.
  5. Dalam dunia online, harus menerapkan “sceptical thinking” dalam menerima sebuah informasi. Jangan mudah percaya sebelum kita paham sumber ilmunya, meski berita itu baik. Menjaga bahwa informasi tersebut valid dan bisa dipertanggungjawabkan isinya.

Adab menuntut ilmu akan erat berkaitan dengan keberkahan sebuah ilmu, sehingga ia mendatangkan manfaat bagi hidup kita dan umat. Maka, mari perbaiki adab kita. Agar keberkahan menaungi diri dan keluarga.

Ditulis ulang dari materi sesi 1: adab menuntut ilmu yang disusun oleh tim matrikulasi IIP.

Referensi :

  • Turnomo Raharjo, Literasi Media & Kearifan Lokal: Konsep dan Aplikasi, Jakarta, 2012.
  • Bukhari Umar, Hadis Tarbawi (pendidikan dalam perspekitf hadis), Jakarta: Amzah, 2014, hlm. 5
  • Muhammad bin sholeh, Panduan lengkap Menuntut Ilmu, Jakarta, 2015
Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: