Mempercayai Anak

Bersih atau ngga, yang penting mau mempercayainya

image

Salah satu hal penting dalam tumbuh kembang seorang anak adalah kepercayaan diri. Percaya bahwa dirinya mampu melakukan sesuatu sesuai takaran yang ia tentukan.

Meski demikian, pendampingan dan memahamkan anak tentang batasan bahaya dan aman perlu selalu diberitahukan. Karena kemampuan mengira-ngira sesuatu berbahaya atau tidak dalam pandangan anak masih belum cukup luas (terkadang anak “terlalu berani” tanpa tahu mana yang bahaya).

Membangun kepercayaan diri pada seorang anak bermula dari pola asuh orang tua dan lingkungan. Seorang anak akan mampu mempertahankan kepercayaan dirinya ketika ia dibiarkan mempercayai dirinya dan diberi kesempatan untuk dipercaya oleh orang di sekitarnya terutama orang tua.

Membiarkan anak membereskan mainannya sendiri dengan jangka waktu yang tak sebentar. Membiarkan anak mandi dan berpakaian sendiri dengan cara yang mungkin membuat gemas orang tua. Membiarkan anak mencoba sesuatu sendiri.

Butuh ilmu dan kesabaran yang ekstra untuk mempercayai anak sehingga kepercayaan dirinya terjaga hingga dewasa. Nampak mudah bagi sebagian orang tua, tapi sulit bagi sebagian yang lain. Sulit bukan karena mustahil, tapi karena mengubah cara berpikir yang tadinya “anak itu makhluk yang tak bisa apa-apa” menjadi “anak itu manusia seperti kita juga yang memiliki kemauan dan kemampuan. Hanya saja dalam batasan tertentu.”

Batasan tertentu itu juga tidak serta merta menjadi sebuah kekangan dan tidak juga menjadi sebuah pelepasan tanpa arahan. Karena bagaimanapun cara berpikir anak masih terlalu sederhana. Maka tugas orang tua setelah memberikan kepercayaan adalah memberikan pengetahuan. Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.

Batasan ini harus jelas bagi anak. Hitam dan putih. Tidak boleh ada ranah abu-abu karena anak masih berpikir serba kongkrit. Mereka sulit membedakan jika diberi warna abu-abu. Begitupun dengan peraturan.
Beri pemahaman mendasar apa yang boleh dan apa yang tidak. Beri penjelasan yang baik tentang mengapa aturan ini harus ada.

Kembali ke kepercayaan diri anak. Jika orang tua saja sudah tidak percaya padanya, mungkin anak akan berpikir “bagaimana orang lain bisa percaya pada saya?” Atau ketika orang lain percaya padanya, ia akan sedikit melakukan perlawanan, memastikan orang tersebut salah. Kemungkinan lain adalah ketika ia merasa ada orang lain yang percaya, ia kemudian akan sepenuhnya percaya pada orang itu tanpa saringan yang baik. Dan untuk mengubah sikap yang sudah terlanjur melekat akan menjadi sebuah tindakan yang cukup sulit.

Anak yang tumbuh dengan kepercayaan diri baik akan memiliki sikap baik terhadap diri, orang tua dan lingkungannya. Ia mampu memaksimalkan potensi dan mendengarkan suara hati yang masih bersih.

Biarkan ia merapikan mainannya sendiri, biarkan ia membantu ibu memasak di dapur, biarkan ia membantu ayah ketika sedang merenovasi rumah. Biarkan ia membantu saat mencuci baju, biarkan ia membantu saat mencuci piring. Izinkan ia membantu ibu mempersiapkan kebutuhan adik, izinkan ia membantu ibu mengurus adik. Dan hal sederhana lain yang ia ingin lakukan dengan niat semata untuk membantu (selain juga untuk bermain).
Biarkan dia bereksplorasi dengan bantuannya, dengan semua pekerjaan yang diizinkan untuk dilakukan. Sambil eksplorasi, ajari dia sedikit demi sedikit cara dan tips dalam menyelesaikan pekerjaan itu dengan lebih baik. Kelak, semua bekal yang ia dapat ini akan kembali pada orang tuanya. Saat orang tua sakit, anak dapat diandalkan mengerjakan pekerjaan rumah.

Biarkan ia mengerjakan sesuai kemampuannya. Mungkin tidak semua wadah bersih karena bagi anak kadang yang penting busa sudah memenuhi cucian piring. Mungkin hasil pelnya masih ada kotor yang tersisa, karena yang terpenting semua lantai sudah nampak basah.

Biarkanlah sejenak ego tentang kesempurnaan kita terhadap sesuatu. Jangan sampai ia menjadi penghalang ketika anak meminta kita mempercayainya.

Percayailah anakmu sebagaimana engkau ingin ia percaya padamu. Suatu saat engkau akan mendapati ia telah tumbuh menjadi sosok yang jauh lebih baik.

Selamat menikmati hari bersama keluarga, dengan cara yang berbeda 😉

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *