Mempercayai Suami

Mungkin judulnya terkesan aneh ya. Tapi percayalah, banyak diantara kita tidak mempercayai seorang laki-laki yang disebut suami. Dengan berbagai alasan dan kejadian

image

Kepercayaan, sebagaimana banyak hal dalam hidup kita adalah sesuatu yang cukup penting ada. Bukan sekadar percaya bahwa ia akan setia. Tapi lebih dari itu, percaya dengan semua pertimbangan dan tindakan yang dilakukan oleh seseorang bertitel suami.

Mempercayai suami bukanlah hal aneh, tapi kadang juga menjadi sebuah hal yang tak lumrah diingat. Tak lumrah untuk disyukuri dan dipelajari.

Seorang suami memerlukan kepercayaan yang teguh dari istrinya, sang pendamping dan kekasih hatinya. Jika dulu sebelum menikah ia selalu ingin dipercaya orang tuanya bahwa ia mampu bertanggung jawab -untuk kemudian membuktikan kepercayaan itu-, maka setelah menikah ia perlu kepercayaan istrinya yang mampu menjadi bahan bakar seorang suami dalam beraktivitas.

Kepercayaan istri menjadi semacam penyemangat seorang lelaki dalam melaksanakan kewajibannya. Mencari nafkah, bekerja, beraktifitas dan berkarya.

Sayangnya kadang istri tidak dapat mempercayai sepenuhnya sang suami. Mungkin ada yang berlatar belakang keluarga besar sang istri atau karena sikap suami sebelumnya.

Setelah menikah, kita masih belum bisa membersihkan memori masa lalu. Karena sikap lelaki seringkali sama, hampir standar dengan menggunakan logika, maka sering salah paham juga dengan pertimbangan perempuan yang logis namun dipengaruhi rasa.

Tidak ada yang salah atau benar dalam konteks ini. Suami perlu meminta pertimbangan istri dan istri perlu meminta penjelasan suami agar keputusan yang diambil adalah keputusan berimbang. Ditimbang dalam rasa dan logika.

Dalam rumah tangga, ketika seorang perempuan memutuskan untuk menerima pinangan seorang lelaki maka segera setelah akad nikah diucapkan dan sah menjadi suami istri keduanya terikat dalam sebuah janji kepercayaan. Istri percaya bahwa ia lelaki yang pantas menjadi imam kita, dan suami percaya bahwa ia perempuan yang dapat mendampingi setiap langkahnya setelah ini.

Sayangnya karena urusan hati wanita, secara tidak sadar kita sering meragukan keputusan suami. Ketika ia mengajak kita mandiri misalnya, tidak seatap dengan orang tua atau mertua, kita seketika ragu “uang darimana? Makannya nanti gimana?” Tidak salah, tapi memang kurang tepat jika berpikir demikian karena secara adab, sebaiknya tidak ada 2 kepala rumah tangga dalam 1 atap. Jika saat ini dengan orang tua saja pas-pasan, bagaimana jika mandiri? Seketika kita meragukan 2 hal: bahwa suami adalah imam kita, dan Allah Sang Pemberi Rezeki.

Lelaki kadang akan mengeluarkan tanggung jawab terbaiknya ketika ia memiliki “kuasa penuh” atas kepemimpinannya. Bukan jadi diktator ya, tapi lebih bertanggung jawab dibandingkan ketika ia masih “numpang” di rumah orang tua atau mertua.

Meski memang beberapa lelaki tidak dapat dipercaya dengan cara seperti ini. Entah karena track record-nya atau karena memang sudah sulit sekali dipercaya (sayangnya mereka juga tidak diberi kesempatan untuk membuktikan).

Catatan ini memang tidak bisa dipukul rata ya di semua rumah tangga. Beda kondisi dan keadaan bisa jadi beda pertimbangan. Tapi para lelaki biasanya akan sepakat bahwa ia merasa lebih “hidup” ketika ia dapat membina keluarganya sendiri secara mandiri.

Kemudian saya berpikir, sepertinya kesepakatan pranikah itu penting ya. Tentang keluarga seperti apa yang ingin dibina, bagaimana dan harus seperti apa. Setelah menikah apakah langsung pisah rumah dengan orang tua atau tetap tinggal. Jika pisah rumah bagaimana, jika tinggal satu atap bagaimana. Pertimbangkan manfaat mudharat keduanya.

Pisah rumah bukan berarti kita tak bisa berbakti dan membantu orang tua. Kesepakatan semacam inilah yang perlu dibicarakan sebelum mengambil keputusan menikah. Agar langkah yang diambil adalah kesepakatan bersama.

Para orang tua akan maklum ketika anaknya memilih mandiri. Bukan ingin meninggalkan hanya saja memang sang anak sudah memiliki keluarga sendiri yang harus dibina.

Kepercayaan istri terhadap suami dapat menjadi jembatan juga untuk suami memahamkan keputusan kepada keluarga besar. Kepercayaan istri akan menjadi kekuatan besar untuk suami tetap tegar menghadapi berbagai rintangan.

Saya sendiri masih harus banyak belajar. Belajar mempercayai suami dengan lebih baik lagi. Menemaninya, mendampingi dengan lebih baik..

Aisha Azkiya
-Tulisan mencatatkan kenangan-

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *