Memuji Anak, Perlukah?

Bahasan random lainnya dari diskusi di grup emak-emak ini tentang pujian. Sebelumnya sudah ada 3 tulisan yang saya catatkan dari diskusi emak-emak cantik ini, tulisan pertama di sini, yang kedua di sini dan terakhir di sini.

Pujilah anak sekadarnya. Pujian itu penting, tapi harus tepat. Jika anak berbuat salah, ya katakanlah salah. Jika anak berbuat benar, maka pujilah dia.

pujian

Pujilah anak untuk hal yang tak biasa atau pencapaian pertama. Tapi untuk hal yang sifatnya rutinitas dan anak sudah terbiasa bisa, maka pujian tidak lagi menjadi urgensi, hal ini penting agar anak tidak pamrih. Berterima kasih saja mungkin sudah cukup ya.

Ketika anak mencapai sebuah prestasi, kita juga bisa tidak langsung memberikan pujian tapi menantang anak untuk lebih lagi. Misal ketika anak mampu membangun sebuah rumah dari brick mainannya, tantang untuk dia membuat menara. Anak puas ketika mampu mencapai, pujian pun menjadi trigger penyemangat agar anak selalu berusaha menjadi lebih baik.

Tapi bukan berarti tidak boleh memuji sama sekali ya. Anak yang tumbuh tanpa pujian akan menjadi seorang pengkritik menyebalkan.

Anak dengan pujian yang tepat akan tumbuh sebagai pribadi penyayang dan tahu cara menghargai orang lain. Sementara anak yang tuna pujian akan menjadi pengkritik tak berhati. Mengkritik atau bahkan memarahi orang lain di hadapan umum.

Berbicara tentang menghadapi kritikan, tugas orang tua adalah mendidik pribadi yang lebih baik. Tidak terpuruk oleh kritikan melainkan ia bangkit karena kritikan itu bukannya menjadi orang negatif setelah kritikan. Dan ini akan jadi pribadi anak jika ia sudah memiliki kematangan emosi seperti di tulisan sebelumnya.

Ketidaknyamanan ditindas biasanya akan membuat rantai setan karena yang ditindas kelak ketika memiliki kuasa akan memilih jadi penindas juga. Dan begitu terus regenerasi tak jelas.

Masing-masing kita terlahir dengan berbagai kecenderungan bawaan yang akan membentuk masa depannya. Namun, setiap kecenderungan memiliki banyak cabang, bisa baik atau buruk. Maka tugas setiap orang tua dan pendidik bukan ikut campur memaksa mengarahkannya melainkan memberi contoh kebiasaan yang nantinya terbawa hingga anak dewasa. Dengan demikian kita akan mampu melepaskan anak lebih bebas tanpa khawatir anak akan berbuat hal yang negatif karena pembiasaan positif yang dipupuk sedari awal akan bertunas dan tumbuh dalam pribadi anak. Hal inilah yang kelak menjadi bekal ketika anak dihadapkan pada sebuah pilihan, dia akan secara otomatis memilih yang positif baginya.

Pernah satu ketika ada kasus anak yang senang membunuh bahkan hingga menguliti binatang. Lalu oleh profesor Conny Semiawan yang menghadapi anak itu menyarankan agar si anak diarahkan ke hal positif. Kedua orang tua anak itu kemudian menyekolahkan anaknya ke Jerman khusus bagian tukang jagal Kwan potong untuk dimakan. Sepulangnya dari Jerman, si anak membuka toko daging sapi di Jakarta dan ia begitu paham daging mana yang enak tanpa pernah meleset.

Masih bahasan tentang EQ, anak yang cerdas secara IQ tapi belum matang secara EQ sebaiknya tetap diikutsertakan dalam sebuah sekolah yang sesuai dengan EQnya. Karena EQ ini berbicara soal pembiasaan dan kematangan, maka orang tua jangan tergesa mengikutkan anaknya ke kelas akselerasi agar anak dapat tumbuh seimbang secara optimal.

pujian2

Pujian dan kritikan adalah salah satu bagian penting dalam meningkatkan kemampuan emosi anak. Dengan pujian anak merasa dihargai, dengan kritikan anak belajar menerima bahwa dia juga hanya manusia dan harus terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru.Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *