Mencatat Jejak Kenangan

Kenangan yang dicatatkan mampu menguak misteri sebuah foto. Catatan kenangan dapat membangkitkan kembali gairah mimpi yang pernah diangankan.

Menulis menjadi sebuah kegiatan menyenangkan kala hati ingin mengungkap kegembiraan. Dan kegembiraan menjadi sebuah penyemangat kala kita kembali ke masa lalu yang dicatatkan.

Sebuah tulisan bisa berisi apa saja. Kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, dan semua rasa yang pernah hinggap di kehidupan. Tapi, lebih dari sekadar meluapkan rasa, tulisan adalah sebuah pengingat di masa depan.

Ketika lelah menyergap, catatan mimpi menggenjot kembali semangat untuk bangkit. Ketika sedih melanda, catatan rasa menguatkan bahwa dulu kita pernah melewati sebuah situasi tak biasa dan menjadi diri kita di masa kini. Ketika bahagia berubah menjadi bunga yang indah, maka catatan kebahagiaan tersebar ke seluruh penjuru dunia melalui tulisan, dan kelak kau berhak mencium kembali wanginya kala tengah ada dalam gundah sehingga ketenangan hadir menggantikan resah.

Menulis adalah untuk membuat jejak kenangan kita jika satu saat kita butuh penyemangat. Menulis adalah sebuah upaya meninggalkan jejak pelajaran bagi masa kini dan masa mendatang, bahwa kita pernah berada di sebuah kondisi yang mungkin tak pernah dibayangkan sebelumnya.

Setiap catatan jejak itu dapat kita lihat dari masa kini menjadi sebuah gambaran yang mungkin penuh perjuangan tapi indah. Gambaran yang tak sengaja kita ciptakan karena kita memutuskan memberi tanda pada setiap jejak tersebut dalam sebuah tulisan.

Tulisan bisa jadi penyambung rasa, pemanjang asa, peninggi mimpi dan penguat jiwa. Manakala ada catatan buruk yang tergambar, biarlah ia menjadi kenangan untuk kemudian kita lukis menjadi sesuatu yang indah di masa mendatang sehingga meski sempat nampak seperti gambar yang gagal, ia dapat menjadi gambar yang menakjubkan kelak.

Sesekali kita mencatatkan ilmu yang kita peroleh dalam perjalanan dunia. Kelak ia dapat menjadi amal jariah yang pahalanya tak putus meski ruh sudah meninggalkan jasad. Meski ilmu yang dituliskan tidaklah seberapa, tapi jika ia dapat menjadi penyebab turunnya hidayah Allah sehingga seseorang berubah menjadi sosok yang lebih baik, bukankah hal itu semakna dengan dakwah yang indah?

Ketika catatan pengalaman yang kita tuliskan membuat orang lain mengambil pelajaran darinya, bukankah ia kemudian menjadi ilmu bagi mereka? Sehingga bolehlah kita mengharap aliran kebaikan dihadiahkan Allah untuk kita.

Sesekali catatan rasa mengingatkan orang lain untuk turut merenung tentang rasa itu sendiri, kemudian larut dalam hikmah yang indah maka boleh kan kita berharap tulisan kita menjadi jejak catatan kebaikan di sisi Allah?

Menulis mengungkapkan berbagai hal. Ia mampu menggambarkan hadir kita di hadapan dunia hingga kelak dunia selalu mengharapkan hadir kita secara nyata.

Agar kelak setiap catatan dapat diambil faedahnya. Manakala tak semua mampu kita ucapkan pada mereka yang kita sayangi, maka jika satu saat mereka membaca catatan cinta kita semoga tulisan itu dapat berubah wujud menjadi kado cantik nan membahagiakan.

Manakala tak semua rasa mampu kita utarakan, maka jika satu saat catatan itu dibaca oleh yang terkasih, semoga ada rasa bangga menyeruak bahwa ia adalah orang istimewa yang hatinya ingin kita bahagiakan meski kadang tak terdengar secara langsung.

Jika engkau bertanya mengapa aku menulis? Maka hanya 3 kata yang coba menggambarkan semua rasaku pada tulisan: menuliskan jejak kenangan.

Tentang diri, tentang kehidupan yang dilalui, tentang mereka yang ku kasihi, tentang ilmu yang kucari dan ku dapati, tentang catatan pengalaman yang kuambil pelajaran dan tentang mencatat semua jejak hingga kelak ia dapat menjadi gambaran nyata yang semoga meski tak sempurna tapi ia tetap indah bermakna.

Tulisanku kini banyak bercerita tentang dua lelaki yang Allah anugerahkan. Tentang semua keceriaan yang mereka hadirkan dalam hidupku, tentang semua rasa bahagia yang Ia berikan melalui keduanya dan semua hal tentang kehidupan mereka dari awal hingga saat ini. Mereka adalah dua anak lelaki yang tumbuh dalam pengasuhanku, amanah yang membuatku terus belajar untuk mencari tahu dan berbagi tahu.

Mereka mengajarkan banyak hal padaku hingga aku begitu ingin membaginya pada orang di luar sana. Bahwa anak-anak sedari mereka hadir di dalam rahim seorang ibu, hingga saat mereka mulai belajar mandiri, mengajarkan banyak hal tentang kehidupan.

Tentang mereka yang selalu menjadi pembelajar. Tentang mereka yang selalu berbaik sangka pada kedua orang tua mereka, orang sekitar dan terutama pada Tuhannya. Tentang mereka yang mengajarkan arti membahagiakan tanpa menuntut dibahagiakan. Tentang mereka yang tulus berbagi kasih tanpa pamrih. Tentang mereka yang mengajarkan kesabaran dan rasa syukur tanpa banyak alasan. Tentang sikap tawakal dan pantang menyerah. Tentang arti yakin kepada Sang Pemberi Fitrah.

Menulis belajar mengutarakan rasa, asa, cinta dan kebaikan. Melalui tulisan pula kita belajar untuk berkomunikasi dengan lebih baik. Melalui tulisan pula kita belajar mengutarakan ilmu dan pendapat yang tentu saja sangat mungkin salah tangkap jika kita tak pandai merangkai kata yang menggambarkan mimik muka kepada kawan pembaca.

Menulis memenuhi kebutuhan kita untuk mencatat ilmu yang dirasa penting dan dapat mengaksesnya dengan lebih mudah kelak ketika satu saat kita membutuhkannya kembali. Meski sekadar resep makanan.

ikrar peristiwa

Menulis tidak berbicara tentang bakat. Tapi ia berbicara tentang semangat. Semangat untuk berbagi dan semangat untuk menjalin pertemanan melalui apa yang kita tuliskan.

Jadi, jika anda belum menulis, maka tulislah. Jika tak ada ide untuk menulis, cukup tuliskan “sedang tidak ada ide untuk menulis karena pikiran tengah fokus pada hal lain. Sayangnya hal tersebut menyita waktu yang lumayan sehingga tugas menulis mengenai ‘kenapa harus menulis’ ini baru bisa diselesaikan. Ketika ada waktu luang, digunakan untuk istirahat sejenak dari pekerjaan yang sedang berada di titik garis mati alis deadline. Berbicara tentang deadline, kenapa ia diberi nama deadline ya? Terjemahan bahasa Indonesia tentang deadline itu apa sih? Garis mati kan? Hehe. Apa mungkin kita bisa mati ketika melewati garis itu? Atau justru garis kematian itu sekadar menggambarkan ketakutan yang luar biasa untuk memenuhi jatah waktu yang dipunya guna menyelesaikan pekerjaan tersebut? Padahal tak jarang juga di antara kita yang mengerjakan pekerjaan ya jika sudah mepet deadline kan? Begitulah deadline membuat saya mati kutu menyelesaikan tugas.”

Lihat? Sudah jadi satu tulisan kan? Hehe. Selamat menulis dan mari bersama belajar melalui tulisan (dan membaca, tentu saja) ^_^

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

One thought on “Mencatat Jejak Kenangan

  1. Wuih, keren euy. Hebat sudah bisa langsung ditenggat waktu tanggalnya segala. Semoga lancar dan sukses ya, Esa.
    Haha. Setuju banget tuh kalau menulis itu tentang semangat. Maka semangatlah! 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *