Mendampingi Menemukan Solusi Dengan Belajar Hadir

Orang #FeelingExtrovert cenderung lebih suka menjadi seorang pendengar. Itu kenapa terkadang untuk berbicara, ia butuh “distimulus”. Berbeda dengan orang #FeelingIntrovert yang cenderung selalu punya sesuatu untuk dibicarakan.

.

Beberapa hari ini Allah menggiring saya pada pembahasan yang selaras di berbagai tempat belajar.

Pertama, tiba-tiba terpikir belajar tentang #coaching karena kejadian yang membuat saya teringat perkataaan seorang teman, “saat ada yang curhat, coba deh pake gaya coach. Tanya balik supaya dia berpikir dan akhirnya kita membersamai mereka menemukan mutiara dalam dirinya”

Dan alhamdulillah bermanfaat saat mendapat curhatan dari seorang ibu terkait putrinya. Alih-alih langsung memberikan saran (seperti yang biasa saya lakukan), bertanya balik justru membuat saya paham lebih paripurna.

Bertanya membantu menggali informasi dengan lebih lengkap sehingga kepingan yang tercerai dapat terkumpul.

Pun saat cek instagram, muncul postingan akun @psikologpeduli di timeline sehingga saya mampir ke akunnya dan melihat postingan tentang Listen dan Hope, rasanya kok klik ya dengan yang sedang saya alami. Salah satu pengelola Psikolog Peduli ini adalah teman SMA yang saat ini berprofesi psikolog. Eh iya, besok Psikolog Peduli ada di CFD Dago Bandung:

Lalu, pembahasan malam tadi di grup #Biblioterapi bertema #BiblioterapiKlasikal dan “secara tidak sengaja” mengarah pada hal yang sama. Juga dari cerita seorang teman saat membantu konseling santri di sebuah pesantren.

Ibarat teori attention creates intention ketika pikiran kita sedang akan fokus pada satu hal, Allah arahkan ke berbagai hal yang mendukung untuk kita belajar. Dan kadang Allah mempertemukan dengan kondisi yang memaksa kita belajar. Praktek langsung. Kalau kata teori umum mah, mestakung: semesta mendukung. 

Semua itu bertemu di beberapa titik. Salah satunya selaras di bagian yang sama. 

Apa itu teh Esa? Healing dapat memperlihatkan hasil baik dengan kehadiran keluarga atau orang yang mengharapkan kesembuhan. Salah satunya dengan cara mendengarkan. Apalagi pada kasus penyakit psikis seperti depresi.

Saat belajar tentang coaching, bahasan yang pertama kali ditekankan adalah MENDENGARKAN. Dan bukan sembarang mendengar tapi betul-betul hadir. Menangkap setiap detil penting yang diceritakan.

Mendengar apa adanya, bukan ada apanya. Mendengar karena peduli, bukan fokus pada harus mencari solusi. Kalau istilah PPA mah, meluruskan niat.

Menggali dari diri untuk bersama melihat solusi yang bisa saja sudah ada, hanya tak terlihat. Mirip teori tongkat nabi Musa (yang pernah ikut PPA ngerti nih sepertinya ya).

Belajar mendengar ga perlu jauh-jauh, lihat di sekeliling isi rumah. Ada manusia lain kah selain diri kita? Nah, praktekkan saja pada mereka. Atau ingat-ingat, saat kita berbicara, bisakah membedakan mana yang mendengarkan dengan saksama dan mana yang hanya sekilas.

Mana yang lebih enak, didengarkan dan disambi mengerjakan yang lain atau didengar dengan orangnya melakukan tatap muka, bertemu pandang dan berhadapan dengan kita? Mana yang terasa “lebih diperhatikan”?

Seperti itulah seharusnya kita mendengarkan seseorang. Termasuk sosok kecil yang ada di rumah: anak-anak. Mereka jauh lebih butuh didengarkan dengan baik. Untuk apa? Agar mereka merasa dihargai, dipedulikan dan tentu saja mereka akan belajar menirukan perlakuan yang sama. Anak akan belajar dari perilaku sekitarnya dibanding teori yang dijejalkan.

Saat kita mendengarkan curahan hati seseorang atau saat kita mencurahkan isi hati pada seseorang, sebenarnya itu bagian dari healing alias penyembuhan diri (entah fisik maupun psikis). Sebab didengarkan adalah salah satu bagian sederhana dari “merasa diperhatikan” (meski kadang sulit terlaksana).

Pun ketika anak melakukan kesalahan, maka yang perlu dilakukan pertama kali: dengarkan penjelasannya. Kemampuan orang tua bertanya, membantu anak bercerita isi hati dan pikirannya. Dari sana didapat kisah lengkap sehingga keputusan akan lebih bijak.

 Kunci Mendengarkan:

  • Hadir seutuhnya hati dan pikiran 
  • Fokus pada mendengar cerita ybs, bukan bercerita sendiri di dalam kepala (sehingga tidak fokus) dan langsung mencari kesimpulan padahal ceritanya belum lengkap.
  • Tangkap detil penting 
  • Sabar mendengar hingga akhir 
  • Tanyakan kembali pada ybs kesimpulan dan hal-hal yang kita tangkap. Konfirmasikan “apakah benar begini dan begitu? Seperti ini dan seperti itu?”
  • Tidak judging karena kita bukan hakim
  • Tidak menebak karena bukan paranormal 😁

Dan seperti teori Aa Gym, mulailah dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai dari saat ini. Jangan menuntut orang lain melakukan hal tersebut untuk kita, jangan menunggu orang lain mendengarkan cerita kita dan hadir sepenuhnya, tapi jadilah pelaku. Mulai dari diri untuk mengubah kebiasaan mendengar seadanya menjadi “mendengarkan dan hadir seutuhnya” guna menghargai orang lain. 

Mulai dari kejadian-kejadian kecil sekitar kita. Dan mulailah menjadi pendengar utuh saat ini juga.

Hayu kita belajar bareng. Dan bagaimana perubahan hidup kita bergulir dengan insyaallah lebih baik 😘

Salam hangat dari Cimahi. Di weekend pagi 😍

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *