Menerima Diri

Menerima Diri

Dalam perjalanan hidup menjelang 30 tahun bulan depan, saya mendapati bahwa mengenal dan menerima diri adalah sebuah langkah penting bagi seseorang dalam mengarungi kehidupan. Langkah yang membuat seseorang dapat lebih mampu menerima hidayah dan menyadari keberadaan tuhannya.

Sebuah perkataan ulama Yahya bin Mu’adz ar-Razi yang terkenal berbunyi:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه

Artinya, “Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”

Terkandung makna yang menarik sebagaimana dikutip dari situs NU: “Imam As-Suyuthi menjelaskan bahwa ketika seseorang mengetahui bahwa sifat-sifat yang melekat di dalam dirinya merupakan kebalikan dari sifat-sifat Allah SWT. Ketika ia mengetahui bahwa dirinya akan hancur, niscaya ia akan sadar bahwa Allah mempunyai sifat baqa’ (abadi). Begitu juga ketika ia mengetahui dirinya diliputi oleh dosa dan kesalahan, maka ia akan menyadari bahwa Allah bersifat Maha Sempurna dan Maha Benar. Selanjutnya orang yang mengetahui kondisi dirinya sebagaimana adanya, maka ia akan mengenal Tuhannya sebagaimana ada-Nya.

Proses Menerima Diri

Proses menerima diri bagi ia yang tak pernah diajak atau diajari untuk menyelaminya, menjadi sebuah tantangan ikhtiar panjang yang terkadang tidak mudah. Segera sejak mulai mencoba mengenal sisi terdalamnya (baik dan buruk sifat yang ada pada dirinya) kemudian dealing with those things menjadi langkah-langkah utama penerimaan diri.

Hingga beberapa waktu lalu, saya masih ga pe-de dengan nama akhir. Heuheu. Padahal nama akhiran itu pernah direkomendasikan oleh guru Grafologi saya untuk digunakan sebagai tanda tangan karena akan membawa efek yang insyaAllah lebih bagus.

Kemarin, entah kenapa, suami tiba-tiba bertanya “De, artinya Ginanjar apa?” Pertanyaan yang saya jawab sekenanya “Ginanjar dari kata Ganjar, artinya pahala. Ginanjar = berpahala”.

Kemarin saya baru terpikir untuk mencarinya di internet. Setelah berselancar, saya mendapati nama panjang lama Ginanjar Kawilujengan ternyata memiliki arti yang indah. Meskipun kata “Kawilujengan” ditiadakan dari akta.

Maka saya mengambil kesimpulan, terkadang kita tidak tahu arti nama yang kita punya. Saat bertanya pada orang tua, beberapa diantara mereka enggan menjawab atau malah bingung.

Langkah Menerima Diri Secara Utuh

Usai menerima hasil tes kepribadian yang menyatakan bahwa saya adalah seorang Feeling extrovert (Fe), saya sempat menolaknya. Hal yang membuat saya kemudian secara terpaksa menerima kala itu adalah penilaian suami yang meng-iya-kan penjelasan dari hasil tes tersebut.

Lalu saya dan suami terlibat diskusi panjang sesampainya kami di rumah. Tentang apa dan bagaimana Fe itu.

Dari “nostalgia” itulah memperkaya refleksi pagi ini. Jadi bagaimana tips untuk menerima diri secara utuh sebagai langkah menjadi pribadi yang tangguh? Bagi saya, berikut daftarnya:

1. Kenali arti namamu

Hari ini setelah tahu arti nama saya,saya melakukan refleksi takdir yang menghampiri. Dan hal-hal dalam diri bisa menjadi clue penting dalam memahami takdir.
Arti dari Esa Puspita Ginanjar saya pahami sebagai satu bunga (taman bunga) kebahagiaan. Indah bukan? Saya lalu berpikir, konsekuensinya juga lumayan 😀
Jadi pengen nanya lagi ke temen, arti bahagia dan senang. Xixixi..

2. Kenali watak berdasarkan budayamu

Setiap suku memiliki paririmbon tersendiri. Saya termasuk yang menolak paririmbon yang sifatnya ramalan. Tapi untuk paririmbon yang sekadar menyebutkan sifat kita seperti apa, seseorang yang lahir di hari tertentu memiliki kecenderungan apa, urutan anak ke berapa menggambarkan kecenderungan sifatnya bagaimana, yang memiliki kulincir alias uyeng-uyeng/pusaran kepala, guratan urat di seputar wajah, dsb, saya jadikan tambahan pengetahuan untuk sifat yang dimiliki seseorang. Termasuk diri saya. Sifat yang saya miliki berdasarkan paririmbon itu.

3. Kenali watak keluarga dan lingkunganmu

Meskipun sifat yang terbentuk dari lingkungan ini masih dapat diubah, tapi setidaknya kita paham sifat tersebut darimana asalnya, untuk apa dan bagaimana memperbaikinya. Membantu kita memahami tindakan pribadi kita maupun respons saat itu.

4. Kenali jantinamu

Jantina? Apa tuh?

Hihi.. Pasti aneh ya. Di Malaysia, ga ada istilah jenis kelamin. Istilah ini disebut jantina. Atau mungkin teman-teman akan lebih familiar dengan istilah gender.

Yap. Kenali jantina bukan sekadar “saya perempuan” tapi pahami juga bagaimana seorang perempuan bertindak, berperilaku, dsb. Memahami ini dengan baik akan membuat kita lebih mudah mengontrol diri. Juga tertarik untuk memahami orang lain, baik sesama maupun lawan jenis.

5. Kenali personalitimu

Ada banyak teori personaliti yang beredar di sekitar kita. Kenalilah dirimu dari semua hasil tes personaliti tersebut.

Dari sekian banyak tes personaliti, saya sangat terbantu dengan konsep personaliti bernama STIFIn. Bahasannya dapat diaplikasikan ke berbagai bidang kehidupan dan menjelaskan tidak hanya personalitinya tapi juga bagaimana meningkatkan level personaliti tersebut ke titik tertinggi.

Dan karena yang diukur adalah sisi genetik kita, hasilnya memang membidik langsung ke sisi terdalam. Sehingga kadang di awal ada beberapa yang menolak hasilnya.

Mengetahui kelebihan dan kekurangan bawaan membuat kita bersyukur, bersabar dan waspada. Kita lebih dapat memahami bagaimana sebaiknya sikap yang diambil.

6. Kenali golongan darahmu

Golongan darah membawa pengaruh sifat meski sesaat. Kita sudah tahu sebagaimana yang banyak beredar tentang personaliti berdasarkan golongan darah. Dan sifat yang dimunculkan tidak hanya kelebihan tapi juga “kekurangan”. Lagi-lagi kita harus menerimanya sebagai sebuah elemen lain dalam variabel pembentuk sifat.

Dipadukan dengan konsep personaliti STIFIn, goldar ini bahkan bisa membahas perkara “kasur” alias hubungan suami istri. Hal ini menjadi menarik karena membantu pasutri untuk semakin saling menyayangi.

7. Telan bulat-bulat kelebihan dan kekuranganmu

Setelah berbagai hal di atas, langkah berikutnya sekaligus langkah penting adalah telan bulat-bulat kelebihan dan kekurangan yang didapat dari berbagai elemen di atas. Jangan dulu menolak. Perhatikan baik-baik. Jika sesuai dan positif, maka tingkatkan kualitasnya. Jika sesuai tapi negatif, maka cari cara meningkatkan pribadi agar kekurangan itu tidak terlalu sering muncul. Kalaupun muncul, sifat itu hadir di waktu yang tepat.

Menerima Diri untuk Mengenali Misi Pribadi

Sebelum beranjak pada urusan lain, pastikan kita sudah benar-benar menerima diri kita seutuhnya. Baik buruknya. Lebih kurangnya.

Kemudian lakukan kontemplasi, apa tujuan Allah menciptakan diri ini? Kenapa saya diciptakan sebagai personaliti tertentu? Pasti ada misi yang diemban dari pemberian tersebut, bukan?

Dalam buku Fitrah Based Education, Pak Harry Santosa menyebutkan bahwa setidaknya tiap orang memiliki 2 misi personal yakni:

  1. Menebar Rahmat
  2. Membawa kabar gembira dan peringatan.

Misi personal ini akan menjadi lebih mudah jika kita sudah tahu bidang yang gue banget dalam upaya menebar rahmat, cara memberi kabar gembira dan bagaimana memberikan peringatan. Jika kita sudah menerima diri kita dengan lapang dada.

Menerima Diri Agar Siap Menerima Orang Lain

Ketika kita keluar dari zona pribadi, seketika kita akan masuk zona sosial. Termasuk keluarga dan pasangan.

Keluarga dimana kita bertumbuh memang akan dengan sendirinya lebih kita terima. Akan tetapi, untuk terbuka dengan keseluruhan baik buruknya, akan lebih mudah kelak saat kita sudah menerima seutuhnya diri kita.

Apalagi sosok yang baru menjadi keluarga: pasangan, anak, keluarga besar pasangan. Jadi, menerima diri itu bukan hal yang bisa ditunda. Lebih cepat kita sadar untuk accepted maka itu lebih baik.

Menerima Diri Agar Paham Social Roles

Apa sih social roles itu? Social roles merupakan kapal besar atau target terbesar kita dalam kehidupan. Tersusun atas kompilasi mesin kecerdasan, panggilan sosial dan sumber daya.

Dalam menetapkan social roles, kita perlu memastikan indikator keberhasilan yang ingin dicapai kelak. Apakah tarif, prestasi, laba, rating atau gaji?

Bedanya apa? Contoh bisa anda dapati di poin-poin berikut:

  • Tarif: berapa anda akan dibayar setiap jamnya?
  • Prestasi: berapa karya nobel atau kejuaraan yang berhasil dicapai?
  • Laba: seberapa sukses usaha yang dibangun (dan royalty yang didapat dari usaha tab)
  • Rating: anda dikenal dimana saja? Seberapa besar popularitas anda?
  • Gaji: sudahkah anda menjadi karyawan yang benar-benar berkarya dengan program besar hingga gaji anda sampai di titik ideal yang ditetapkan?

Social Roles yang dipilih akan menentukan tindakan kita. Perjelas alasan dan panggilan sosial profesi untuk memastikan social roles kita.

Menerima Diri secara Sempurna, Berkarya dengan Diri yang Damai

Saya memperhatikan banyak orang sukses (dan bukan hanya sukses pribadi), rata-rata adalah mereka yang sudah selesai dengan diri dan takdirnya di masa lalu hingga saat ini. Maka dari itu, layak untuk kita tiru.

Menerima/accepted juga menjadi refleksi dari tauhid. Keyakinan atas pemahaman bahwa diri kita diciptakan sebagai terbaik dan takdir itu pasti baik. Selalu ada hikmah di balik semua yang terjadi.

Selamat menyelami diri. Temukan alasan Tuhanmu menghadirkan di dunia. Lalu berkaryalah di jalan yang Ia tunjukkan. Dengan segala kelebihan dan kekurangan sebagai tanda syukur dan sabar kita.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Licensed STIFIn Promotor and Certified Trainer STIFIn
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: