Mengajarkan Kemandirian Pada Anak Usia 4 Tahun

Semua anak dapat diajak komunikasi dan kompromi. Apalagi pada anak-anak yang memiliki eksitasi tinggi. Maknanya, seseorang yang memiliki mesin kecerdasan Sensing dan Feeling akan lebih mudah menerima input (dan pengaruh) dibanding mesin lainnya. Pun demikian dengan Insting yang tak punya eksitasi.

Terkait hal ini pula lah saya menyimpulkan kenapa anak-anak kami mudah diberi pengertian (biidznillah tentunya). Apalagi keduanya memiliki drive mesin kecerdasan extrovert sehingga stimulus dari luar mudah sekali diterima.

Mengajarkan Kemandirian Pada Anak Usia 4 Tahun

Pada dasarnya setiap anak (setiap orang) akan melewati fase belajar mandiri. Ketika fase ini terpenuhi dengan baik (ga harus sempurna) maka akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak berikutnya. Menjadi bekal sekaligus pondasi karakter seseorang.

Sayangnya, terkadang para orang dewasa tidak semua mengenali fase ini (untuk fase 9 tahun pertama, bisa cek tulisan ini). Diantara mereka ada yang mampu melewatinya dengan bijak meski hanya berbekal naluri sebagai orang tua, ada pula yang melewatkannya begitu saja sehingga anak tumbuh menjadi sosok manja nan egois.

Tak sedikit pula orang tua muda terjebak pada teori parenting yang ditelan mentah-mentah sehingga bukannya efektif malah menjadikan kita membiarkan anak apa adanya. Padahal, sejatinya sebagai orang tua kita perlu mendesain jalan hidup anak dengan tetap berpegang pada tali tawakal sejak awal prosesnya.

Fitrah setiap manusia itu kelak akan mengikuti lingkungannya. Fujur dan taqwa sudah Allah tuliskan dalam alquran, bahwa ia senantiasa ada pada diri seseorang. Sifat yang semula netral, bisa jadi positif maupun negatif tergantung penyikapan lingkungan.

Maka dengan mengenali fase tumbuh kembang anak, kita lebih mudah merancang blueprint masa depannya. Apa yang mesti diprioritaskan dari proses yang dijalankan. Dan tentu hal ini menjadikan orang tua yang memiliki anak lebih dari satu, perlu menyesuaikan dengan baik.

Usia 4 tahun kami menyepakati anak harus sudah mulai paham tentang auratnya, siapa saja yang boleh melihat dan memegang, termasuk mengenalkan lebih jauh tentang hubungan orang tua dan anak juga peran suami-istri.

Usia ini pula -yang berdasarkan pengalaman kami dengan 2 anak- adalah usia yang tepat untuk mengajarinya salah satu bagian kemandirian: cebok eek (pup) dan cuci piring sendiri. Sebab di usia 4, secara kemampuan motorik sudah lebih terasah. Lebih mudah mengajarinya tentang dua hal tadi karena anak mulai bisa membedakan dengan baik tentang bersih dan kotor.

Bagaimana dengan cebok pipis? Kapan diajarinya? 

Kami mengajari anak-anak cebok sendiri untuk pipisnya sejak mereka bisa ngangkat gayung atau ngocorin keran sendiri. Biasanya di usia 2-3 tahun, bebarengan dengan belajar buka celana dan ke jamban sendiri kalo mau pipis.

Kenapa Anak Baru Diajari Kemandirian (Keterampilan Cebok dan Cuci Piring) di Usia 4 tahun?

Kenapa 4 tahun? Supaya masih ada toleransi waktu selama 3 tahun (hingga usia 7th). Kenapa ada toleransi segala? Yep, saat anak belajar, kan ga langsung semuanya bisa dia lakukan dengan baik. Dan tentu saja, mengajarinya pun butuh tahapan tertentu untuk sampai di titik benar-benar bisa sendiri.

Trus, kenapa ada angka 7 tahun sebagai patokan usia berikutnya? Karena 7th nanti belajar shalat, dengan target berikutnya: di usia 10 tahun sudah mengerti dan mandiri untuk shalat. Ga pake disuruh-suruh yang sedemikian rupa. Sedangkan syarat sah shalat kan terbebas dari najis dan kotoran. Masa di fase persiapannya (7 tahun) masih belum bisa membersihkan najis sendiri 😁

Tahapan yang kami lakukan di rumah yakni:

  1. Cebok eek sendiri: usia 4 baru diminta cebok tapi untuk ngucurin airnya tetep sama ayah, ibu atau mahram terdekat (misal, kakek, nenek, paman, bibi). Itu berlaku pada anak sulung. Pada anak kedua, ada bantuan mahram lainnya untuk ngucurin air: kakak.
    Mereka belajar banjur bekas eeknya juga. Agak boros di awal, tapi telateni aja terus. Lama-lama ga boros air lagi kok.
    Fyi, kami pake kloset jongkok biasa, tanpa flush.
  2. Cuci piring sendiri: tangannya masih dipegangi, gosok piringnya masih dibantu dan diajari, sabun cuci piringnya masih bantu disiapkan dan bilasnya masih dibantu menyalakan keran dan bersihkan.

Meski dalam prakteknya, ga mesti butuh waktu 3 tahun juga sih. Beberapa anak sangat mungkin sudah bisa melaksanakan hal tersebut dengan baik sebelum “batas” 3 tahun itu.

Tinggal sabar menjalankan prosesnya. Apalagi saat muncul sifat manja. Ga apa deh, kan masih belajar. Sesekali dicebokin atau dicuciin piringnya masih oke. Kan ada batas toleransi. Orang tua jadi ga akan terlalu “spaneng” ketika prosesnya butuh waktu yang agak lebih lama.

Oh ya satu lagi, jangan bandingkan dengan anak lain (termasuk kakaknya) ya. Karena kemampuan dan kesanggupan tiap anak kan ga sama. Bersabar melewati proses yang berbeda antara satu anak dan anak lainnya.

Selamat mendampingi putra-putrinya  ya ayah bunda 😍

Salam hangat, Esa Puspita
Follow instagram @esapuspita untuk update foto terbaru. Facebooktwittergoogle_pluspinteresttumblrinstagram

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *