Mengapa Danisy Tetap Tinggal

Mengapa Danisy Tetap Tinggal

Pagi ini, otak-atik hp dan menemukan daftar catatan facebook di akun pribadi saya. 165 catatan yang entah isinya apa saja. Salah satu judul dari catatan itu adalah “Mengapa Danisy Tetap Tinggal”. Tulisan ini sekaligus adalah jawaban bagi banyak pertanyaan yang masuk tentang keputusan kami tidak menyerahkan Danisy ke tangan orang tua saya. Bukan karena tidak percaya, tapi ada pertimbangan matang di dalamnya.

Tertanggal 27 Juli, 2 bulan setelah kelahiran Azam. Pertanyaan yang sering kami dapatkan setelah kelahiran Azam anak kedua kami adalah “Kok Danisy pulang ke Caringin? Kenapa ga dititip aja di mamah?” Entah kenapa pertanyaan itu muncul. Mungkin melihat posisi kami yang satu kota dengan mamah, supaya kami ga repot urus bayi dan balita (ketika Azam lahir, Danisy berusia 2,5 tahun). Mumpung ada mamah, begitu komentar sebagian besar orang.

Kami memutuskan untuk membawa serta Danisy karena bagaimanapun, kelak kami akan tetap bersama lagi. Akan lebih mudah bagi kami berempat untuk beradaptasi segera setelah Azam lahir. Semula Mamah menawarkan agar Danisy tinggal bersama mamah karena toh sudah lepas ASI juga. Tapi dari beberapa literatur yang saya baca, justru membiarkan Danisy tetap bersama kami adalah momen penting.

Dengan tinggal bersama, Danisy belajar jadi kakak dan belajar punya adik setelah sebelumnya serba sendiri dan jadi pusat perhatian. Sementara saya belajar jadi ibu dari 2 anak, pun suami belajar hal yang sama.

Kehadiran Danisy juga ternyata sangat membantu. Danisy bantu ambilkan baju Azam, ambilkan handuk, dan membantu banyak hal terkait kebutuhan adiknya termasuk nyimpen popok di wadah cucian popok.

Ketika seorang anak memiliki adik, jangan jauhkan ia dari adiknya agar ia tidak merasa dibuang atau tersingkir karena kehadiran sang adik. Dengan membantu menyiapkan kebutuhan adik, baik ibu maupun kakak belajar, belajar untuk saling percaya. Kakak pun belajar bertanggung jawab sekaligus merasa tetap diperhatikan.

Cemburu karena kehadiran adik, wajar dan pasti ada. Hanya saja dengan tetap melibatkannya, kecemburuan ini akan berkurang. Dengan dilibatkan dalam mengurus adik, kakak juga belajar menumbuhkan rasa kasih sayangnya pada adik. Ia merasa kehadirannya berguna dan merasa dibutuhkan. Disini kakak belajar adaptasi bersama.

Tidak mudah memang mengurus bayi dan balita sekaligus, tapi Danisy yang terbiasa membantu sangat meringankan saya. Danisy cenderung lebih dewasa dan ga rewel manja. Saat Azam akan mandi, Danisy dengan sigap menyiapkan handuk, dikaitkan ke gagang pintu yang terjangkau olehnya. Ketika saya memandikan Azam, Danisy di kamar sudah siap dengan pernel, popok dan perlengkapan adiknya. Popok kotor pun sudah tahu harus disimpan dimana. Hampir semua kebutuhan Azam, Danisy yang siapkan.

brother

Hingga usia mereka saat ini, Danisy 4,5 tahun dan Azam 2 tahun, Danisy seringkali saya minta bantu mandikan sampai memakaikan pakaian adiknya. Setelah itu dititipi jaga adik atau “ajak dede main bareng ya”. Kadang kakak yang belum bisa baca pun dengan senang hati membacakan buku sesuai imajinasinya ke adik. Adiknya juga sudah terbiasa bareng kakaknya sehingga mereka nampak kompak berdua.

Ya, namanya anak-anak ada saat ga mau bantu juga. Ga usah dipaksa. Sesekali saja. Mereka berantem juga sesekali. Tapi kekompakan mereka tak ada yang bisa menggantikan. Adiknya sering merasa kehilangan ketika kakak nginep di rumah nenek atau main sendiri tanpa ajak adik. Kakak juga akan mencari adik ketika adiknya menghilang dari pandangan.

Jadi benar ya nasihat teman-teman tentang membiasakan anak dengan adiknya. Enak ke anak, enak ke kita meski awalnya butuh perjuangan.

Salam hangat, Esa Puspita
Great Family Activator
Facebookinstagram

Tinggalkan komentar